
Setelah selesai jam kelasnya, Putri Maya menutup kembali bukunya, meninggalkan begitu saja buku itu di atas meja. Dirinya bukanlah orang munafik, jika ia ingin membaca, kemanapun dia akan membawa bukunya. Tapi jika dirinya tidak ingin membaca, buku itu akan di biarkan begitu saja. Apalagi pikirannya sejak kemarin tidak tenang, membuat hatinya enggan menyentuh apalagi mempelajarinya.
Putri Maya menuju ke halaman belakang, ia duduk di bawah pohon Oak. Lalu meraba ke arah lehernya sebuah kalung pemberian dari Duke Rachid. Ia membuka pengikat kalung itu, menatap mutiaranya, seakan di dalam mutiara tersimpan wajah Duke Rachid.
"Paman," lirih Putri Maya, ia menggenggam kalung itu, meremasnya. Hatinya yang kecewa, ia tumpahkan dengan meremas kalung di tangannya. Ia ingin menghancurkan mutiara itu, agar kekecewaannya berkurang.
Putri Maya berdiri, ia hendak membuang kalung itu, tapi di hentikan oleh sebuah suara.
"Tidak baik membuang barang berharga, lebih baik di jual."
Putri Maya menoleh, melihat laki-laki tampan di kelasnya di sertai senyuman. "Apa urusan mu? aku tidak memiliki urusan dengan mu."
"Putri tidak tau? di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan uang. Sebaiknya Putri jadikan saja kalung itu sebagai koin, kan rugi di buang begitu saja." ucapnya seraya melangkahkan kakinya ke arah Putri Maya.
Laki-laki itu pun bersandar dengan posisi miring di bawah pohon Oak, ia melipatkan kedua tangannya dan menatap Putri Maya.
"Nama ku Arnoz, Putri bisa memanggil ku Arnoz."
Putri Maya merasa heran dengan laki-laki di depannya, tidak ada angin, tidak ada ombak. Laki-laki itu justru memperkenalkan namanya sendiri.
"Siapa yang tanyak nama mu? aku tidak menanyakannya." ejeknya.
Arnoz terkekeh, ia merampas kalung di genggaman Putri Maya. Ia melihat kalung itu bersinar terang jika terkena cahaya matahari.
"Untuk saya saja Putri, kan lumayan buat saya makan sebulan."
Putri Maya berniat merampas kalung itu, namun Arnoz langsung meninggikan tangan kanannya. Putri Maya berjinjit, meraih kalung itu, tapi tidak bisa.
Sejenak tatapan mereka saling beradu, membuat jantung Arnoz berdetak begitu cepat.
"Cantik." ucapnya.
"Jangan berbicara dengan ku lagi," ucapnya dengan ketus.
"Siapa yang berbicara dengan Putri?" Arnoz melihat kanan kiri, ia berniat menggoda Putri Maya. Namun yang di goda hanya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tidak usah mencari gara-gara dengan ku, aku tidak suka." ucapnya.
"Bagaimana jika aku mau mencari gara-gara dengan Putri?"
Putri Maya menunjuk ke arah Arnoz yang tersenyum. Wajah menjengkelkan itu membuat Putri Maya ingin menendangnya jauh-jauh.
"Menjauhlah dari ku, aku sudah memiliki tunangan."
Arnoz mengangguk, "Tapi kenapa Putri bersedih? apa tunangan Putri sendiri yang membuat sedih."
"Bukan urusan mu," pekik Putri Maya menatap tajam.
Arnoz menaikkan kedua bahunya, "Tentu saja urusan ku. Aku kan orang pertama yang melihat Putri sedih. Sebaiknya Putri buang saja tunangan Putri. Bagaimana jika bertunangan dengan ku." goda Arnoz.
Putri Maya menahan kekesalannya, ia menggaruk kedua tangannya yang ingin mencakar wajah lelaki di depannya.
"Pergilah sebelum aku memukul mu." bentak Putri Maya.
"Dan jangan mengganggu ku lagi," sambungnya menekan.
Arnoz tetap tak mau kalah, bagaimana pun caranya. Ia harus bisa berteman dengan Putri Maya. Ia hanya ingin melindunginya sebagai tanda terimakasihnya pada Permaisuri Anastasya.
"Putri Maya." teriak seorang wanita yang berlari ke arahnya.
"Syukurlah Putri ada di sini, di depan ada Duke Rachid." ucapnya