Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3 : mengetahui


Semenjak seminggu ini, hubungan Putri Maya lancar saja dengan Arnoz, mereka sering keluar asrama, makan bareng, jalan-jalan bareng. Semenjak berhubungan baik dengan Arnoz, Putri Maya tidak terlalu memikirkan Duke Rachid, baginya Arnoz merupakan teman yang paling spesial, selalu memberikannya suport saat dirinya akan terjatuh. Selalu ada-ada saja yang Arnoz lakukan demi menghibur Putri Maya, membuatnya terkekeh tiap harinya. Begitu pun dengan Arnoz, merasa senang dekat dengan Putri Maya. Ia sudah menganggap Putri Maya temannya sekaligus seperti saudaranya.


Lain halnya dengan Hilda semenjak seminggu ini tubuh nya sudah membaik, tapi dirinya tak pernah mendapatkan jengukan dari Yang Mulia Duke Ruchid. Ia selalu bertanya pada Bibi Diane dan pelayan Eve, apa yang dilakukan oleh Duke Rachid? ia selalu memaksakan diri untuk bertemu dengan Duke Rachid namun Bibi Diane tidak pernah memperbolehkannya turun dari ranjangnya.


Sementara Duke Rachid, setiap harinya, ia harus mendengarkan kedekatan Putri Maya dengan Arnoz, Arnoz dan Arnoz. Setiap hari ia juga harus meluapkan semua emosinya, meluapkan semuanya amarahnya dengan bermain pedang. Ia tidak tahan, tidak kuat. Keputusan Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex benar-benar ingin membunuhnya. Karna rasa khawatir diam-diam ia menyuruh Emi menyelidiki semua kegiatan Putri Maya dan ternyata inilah yang terjadi setiap harinya, panas dan perih di hatinya. Ia tidak ingin tinggal diam, ia harus ke istana menemui Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex untuk mencabut semua perintahnya. Hidupnya seakan terombang-ambing tampa melihat wajah Putri Maya. Jika tidak bisa bertatap muka dengan Putri Maya setidaknya melihatnya dari jauh saja membuat rindunya sudah terobati.


"Ingin rasanya aku membunuhnya, mencekiknya dan menggantung tubuhnya. Aku akan memberikan tubuhnya pada ke segerombolan lebah." teriak Duke Rachid dengan bibir bergetar.


"Kamu sudah tau siapa laki-laki yang dekat dengan Putri Maya?" tanya Duke Rachid, selama ini ia tidak terlalu memperdulikan identitas laki-laki di samping Putri Maya. Yang ia inginkan hanya membuat mereka menjauh, tapi dirinya sendiri yang sudah menjauh.


"Dia Arnoz Yang Mulia, anak dari Elisha. Sejauh ini anak itu hanya tinggal sendiri. Anak itu juga mempunya toko buah kecil-kecilan di Ibu Kota Yang Mulia. Tapi Ayah dan Adiknya belum pindah ke Ibu Kota." ujarnya sedikit melirik ke arah Duke Rachid. Nasibnya kini berubah setiap harinya menjadi santapan Duke Rachid.


"Lalu bagaimana dengan Elisha?" tanya Duke Rachid dingin. Ia menanyakan Elisha karna takut menjadi biang keladi lagi bagi Yang Mulia Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya. Bisa saja Elisha pindah akan menanamkan kebusukan lagi.


"Menurut penyelidikan, Nyonya Elisha meninggal saat melahirkan."


"Oh," Duke Rachid kembali mengayunkan pedangnya.


"Emi cepat lawan aku." teriak Duke Rachid.


Habislah aku menjadi santapannya batin Emi menangis pilu dalam hatinya.


"Tutup mulut mu, apa kamu ingin menolak perintah ku, hah?" bentak Duke Rachid.


"Tidak Yang Mulia." jawab Emi menggeleng cepat. Sementara salah satu pengawal Duke Rachid tersenyum mengejek, melihat Emi yang semakin ketakutan. Jika sudah marah, Duke Rachid tidak akan mengampuni siapa pun.


Emi pun pasrah, ia menyerah. Menerima perintah Duke Rachid. Walaupun dirinya akan menjadi santapannya.


Dirasa sudah puas, ia berganti dengan memainkan tombak.


Setelah Dua jam, ia menghabiskan energinya. Duke Rachid menuju ke arah kamarnya. Sebelum ke istana membahasnya masalah hukuman itu, ia harus menyiapkan mental. Menolak atau menerima sebuah keputusan. Samar-samar telinganya mendengarkan suara Bibi Diane. Ia yang begitu penasaran mendengarkan suara Bibi Diane seperti orang marah.


"Jika Yang Mulia Duke tau, kamu bisa di hukum Hilda dan mendapatkan kebenciannya." ujar Bibi Diane. Ternyata ia menelan kekecewaan pada Hilda, dulu ia menolak tegas bahkan memarahi Duke Rachid. Walaupun hatinya menginginkan Hilda menjadi istri Duke Rachid, tapi ia tidak suka perbuatan kotor.


Duke Rachid semakin penasaran, ia membuka pintu kamar Hilda sedikit. Ia melihat Bibi Diane, Hilda dan pelayan Eve.


"Tapi Nyonya, Nona Hilda melakukan ini semua hanya karna dia sangat menyukai Yang Mulia Duke."


Seketika Duke Rachid membulatkan matanya, ia mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, ternyata benar yang di katakan oleh Putri Maya. Hilda memang memiliki perasaan padanya.