
"Hormat hamba, Yang Mulia, Permaisuri." ucap Kendrik, Elisha dan Arnoz serta di ikuti yang lainnya.
Kaisar Alex langsung duduk, ia mengabaikan penghormatan mereka. Sementara Anastasya menyambut dengan senyuman.
Ketiga orang itu hanya tersenyum kikuk, melihat tatapan Kaisar Alex datar dan dingin. Ingin rasanya mereka pergi saja dari ruangan itu, tapi takut tidak sopan dan justru malah mendapatkan hukuman.
"Kenapa kalian datang kesini?" tanya Kaisar Alex dingin.
"Yang Mulia," seru Anastasya melihat wajah Kaisar Alex yang menahan amarah sampai ke ujung kepalanya.
"Aku merasa senang kalian mau berkunjung ke istana ini," tutur Anastasya.
"Aku pun tidak," dengus Kaisar Alex melihat ke arah lain.
Anastasya mencubit pinggang Kaisar Alex, ia tidak ingin ketiga orang itu merasa tidak nyaman.
"Au, apa sih Permaisuri?" Kaisar Alex merasakan sakit di daerah pinggangnya. Ia melihat Anastasya menatap tajam ke arahnya.
"Ah, maaf bukan maksud kami mengganggu Yang Mulia. Kami hanya membawakan sebuah hadiah untuk Putri," tutur Kendrix.
Kedua pelayan Elisha menaruh masing-masing dua kotak yang tutupi dengan kain merah di atas meja. Satu kotak berukuran kecil dan tiga kotak berukuran sedang, Anastasya pun mengambil satu kotak berukuran kecil , "Bolehkah aku lihat,"
"Bo, boleh Yang Mulia," ucap Elisha tersenyum. Ia merasa senang Anastasya menerima hadiahnya.
"Tunggu," sentak Kaisar Alex membuat mereka menoleh ke arahnya.
"Peri.."
"Yang Mulia," Anastasya memotong pembicaraan Kaisar Alex, ia tau jika Kaisar Alex menyuruh pelayan atau pengawalnya untuk memeriksa kotak itu.
Anastasya membuka kotak yang berukuran kecil itu, ia tersenyum dan meraba benda itu. Mutiara safir berwarna putih berbentuk bunga tulip, rantai kalung itu terbuat dari emas putih yang polos.
"Darimana kalian mendapatkan ini, hadiah ini terlalu istimewa."
"Itu tidak seberapa atas kebaikan Permaisuri selama ini, bahkan kami sudah dikatakan hidup layak."
Selama ini Anastasya selalu memantau kehidupan mereka sejak keluar dari istana dan kini mereka memiliki perkebunan serta beberapa toko kain.
"Dan ini untuk Permaisuri dan Yang Mulia. Semoga menyukai hadiah dari hamba."
"Huh," dengus Kaisar Alex memutar bola matanya jengah. Ia tidak suka hadiah apapun dari Elisha jika bukan karna ancaman Permaisurinya, sudah ia buang sedari tadi.
"Permaisuri dimana Pangeran Enzo dan Enzi," tanya Arnoz.
"Mereka mungkin sedang berlatih," ucap Anastasya.
"Bukankah ini sudah malam," seru Arnoz yang merasa keheranan. Bukankah waktu malam waktunya beristirahat kenapa kedua Pangeran itu berlatih dalam benaknya.
"Mereka itu Pangeran dan keluarga istana," timpal Kaisar Alex dengan nada datar melihat ke anak polos di depannya itu.
"Yang Mulia,"
Lagi-lagi Kaisar Alex harus memalingkan wajahnya. Ia tidak mau berdebat lagi karna ulah kedatangan mereka.
"Oh begitukah," ucap Arnoz mengangguk walaupun sedikit gugup.
"Bagaimana jika kalian makan malam bersama kita dan menginap di istana,"
"Ti, tidak usah Permaisuri. Lagi pula kita tidak ingin merepotkan Permaisuri," ucap Elisha merasakan tatapan tajam Kaisar Alex.
"Apa kalian berani menolak permintaan ku?" tanya Anastasya.
"Tidak Permaisuri," ucap Kendrix.
"Jika Permaisuri meminta kalian, menginaplah." ucap Kaisar Alex.
Dan secepatnya kalian pergi dari sini batinnya.
"Mery, siapkan makan malam untuk kita,"
Mereka pun makan malam bersama, hanya keheningan di antara ketiga orang itu. Sementara Kaisar Alex menunjukkan perhatiannya pada Permaisuri dengan mengambilkan beberapa daging kecil ke piring Anastasya.
Yang Mulia, seharusnya hamba yang di perlakukan seperti itu, tapi hamba sadar, hamba bukanlah apa-apa bagi Yang Mulia batin Elish menatap nanar ke arah Kaisar Alex dan Anastasya