Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Rencana ketiga Liera


Dengan kasarnya Michelia merangkup kedua pipi Liera. "Puas, jadi ini yang kamu rencanakan. Kebenaran akan terungkap Liera."


Liera pun tertawa, dia menepis tangan Michelia. "Ini lah yang aku mau, hidup mu enak. Anak seorang Duke, cucu dari sang penguasa. Sementara aku, hidup ku terlantar, makanan ku hanyalah ubi. Jika bukan karena Yang Mulia Duke Elios, hidup ku tidak akan berubah. Tapi kamu," Liera menunjuk Michelia. "Tapi karena kamu, semuanya berubah, laki-laki hangat itu berubah. Dulu aku melawan mu karena aku tidak memiliki kekuatan. Aku kira, aku akan mati. Ternyata Tuhan masih berpihak pada ku."


"Kamu memang gila, Liera. Pelayan, seret dia keluar." Teriak Michelia. Kedua pelayan yang menyaksikan perseteruan itu, langsung menyeret Liera keluar kediaman Viscount.


"Ingat nyonya Liera, kebenaran pasti akan terungkap. Untung saja, Viscount Elca menceraikan nyonya dan nyonya memang tidak pantas."


"Cih," Liera meludah ke kiri, ia menahan perih di sudut bibirnya. "Kalian akan hancur seperti diri ku yang hancur." Ia pergi dari kediaman Viscount, menaiki tangga kereta. Sebelum dia memasuki keretanya, ia memutar kepalanya melihat kediaman itu.


Baru beberapa menit, Viscount Elca dan Deros pulang. Tanpa sadar kereta mereka berpapasan. Viscount Elca menyelesaikan urusannya di istana. Dan setelah itu dia menjemput Deros di rumah temannya. Ia pun sudah mendengarkan perihal rumor itu. Deros yang awalnya memiliki banyak teman kini menghindarinya. Banyak yang menghinanya dan bahkan tidak mau berteman dengannya. Sepanjang perjalanan, Deros hanya duduk termenung di dalam dekapan Viscount Elca. Dia akan mencari rumor yang membuat putra kecilnya menangis.


"Ayah, apa memang benar aku bukan anak ayah dan ibu?" Sejak tadi bibirnya terkatup, hatinya retak. Ia berusaha menanyakan kebenarannya.


"Sayang, kamu anak ayah dan anak ibu. Jangan dengarkan mereka." Ujar Viscount Elca seraya menghapus air matanya. Dia takut Michelia mendengarkan rumor tak enak itu dan membuatnya kepikiran.


"Ayo, masuk. Jangan pasang wajah sedih mu, ibu mu pasti khawatir sayang. Kan anak laki-laki tidak boleh nangis." Dia berusaha membuat putra kecilnya kuat, padahal saat ini hatinya juga rapuh.


"Sayang," Viscount Elca melangkah lebar, baru saja dia masuk dan melihat pemandangan istrinya yang sedang memijat pelipisnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Viscount Elca menurunkan Deros dari gendongannya. Anak laki-laki itu pun menghampiri Michelia. "Ibu,"


Mata Viscount Elca melihat Mery yang sedang menahan amarahnya. "Sebenarnya ada Mery,"


"Nyonya Liera datang tuan dan dia membuat keributan di sini."


"Dia datang dengan kelicikannya." Sambung Michelia. Viscount Elca duduk berjongkok di hadapan Michelia seraya mendongak. "Sebenarnya apa yang terjadi."


Michelia pun menceritakan semuanya di depan Deros dan tentunya sang suami yang menjadi saksinya adalah Mery dan kedua pelayan yang melihat pertengkaran mereka.


Michelia menyusul Deros, sementara Viscount Elca akan menyuruh beberapa pengawal menyelidiki Liera. Dia tidak akan memberikan kesempatan bagi Liera mengusik keluarganya lagi. "Tunggu saja, Liera. Aku akan membuatnya menyesal telah mengusik kehidupan ku."


"Deros, buka pintunya sayang."


"Ini, nyonya." Ujar Mery sambil memberikan kunci cadangan. Michelia membuka pintu itu dan mendapati Deros yang duduk bersila di atas kasurnya. Dia menangis tersedu-sedu. Selama ini dia hanyalah anak angkat dari kediaman Viscount. Dia salah, kedua orang yang menyayanginya bukan orang tua aslinya.


"Sayang,"


"Aku bukan anak ibu."


Deg


Michelia memeluk Deros, ia merasakan betapa menyiksanya rumor itu. Anak yang baru lima tahun harus siap menahan penghinaan dari teman-temannya. "Kamu putra kami satu-satunya, tidak ada yang berubah."


"Aku malu ibu, semua teman-teman ku menghina ku. Aku takut, ibu tidak akan mencintai ku lagi."


"Siapa yang bilang? ibu akan menyayangi mu Deros. Ya, Deros putra Michelia dan Viscount Elca." Ujar Michelia. Ia mencium kepala Deros berulang kali. Hari ini, hari terkelam bagi keluarganya. Semoga di hari esok, akan ada sinar di dalam keluarganya.


Di sisi lain.


Liera tengah berpesta, memakan hidangan yang sangat enak ditemani beberapa botol wine. Dia bernyanyi, layaknya orang mabuk dengan gila cintanya yang mendalam.


"Hey, aku sudah kembali." Dia memegang Wine di tangannya seraya menatap sebuah lukisan di depannya. "Apa kurangnya aku? apa karena aku berasal dari kalangan bawah? kamu tidak mencintai ku. Viscount Elca, hati ku sakit. Aku mencintai mu, kenapa harus dia? aku berusaha membuat mu jatuh cinta. Tapi apa? hanya penolakan."


prank


Pecahan gelas itu berada di mana-mana. Lantai yang awalnya putih, kini berubah warna. "Jika aku tidak bisa memiliki mu, maka dia juga tidak akan bisa memiliki mu. Dua hari, aku akan mengeluarkan rencana ketiga ku." Ujarnya