Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Kemarahan


Pada malam harinya, Di kamar Deros.


Viscount Elca dan Michelia berusaha menenangkan Deros. Tidak biasanya Deros menangis sangat lama. Semenjak kecil Deros tidak pernah menangis seperti ini.


"Sayang," Michelia merangkul tubuh mungil yang tersedu-sedu itu. Sejak tadi tubuh mungil itu tidak mau berhenti menangis.


"Ada apa dengannya? kenapa dia tidak mau berhenti menangis?" Viscount Elca menimpali. Dia juga bingung, bagaimana cara menenangkan Deros.


"Sayang jangan takut," Viscount Elca berjongkok mengelus kepalanya.


"Dia bilang, aku bukan anak ibu." Kini ketakutannya, ia keluarkan beserta pikirannya. Perkataan teman-temanya mengganggu pikirannya. Salah satu temannya pernah bercerita. Jika anak angkat tidak akan pernah di cintai lagi jika kedua orang tuanya memiliki anak lainnya.


"Sayang, jangan dengarkan perkataannya. Kamu anak ibu dan anak ayah. Jangan memikirkannya, ibu akan menyayangi mu."


"Apa ibu dan ayah akan menyayangi ku? jika ibu memiliki anak lainnya."


Keduanya saling pandang, perkataan Deros menyayat hati mereka. Ternyata itulah pikirannya, dia takut kasih sayang mereka berkurang padanya. Padahal sama sekali tidak akan pernah.


"Tentu Nak, ayah dan ibu tidak akan membedakan mu. Kamu adalah putra kecil ayah." Ujar Viscount Elca. Kali ini dia benar-benar ingin membunuh Liera. Dia dulu meninggalkannya, lalu mengambilnya. Tangannya sangat gatal ingin mencekiknya. Dia salah membiarkannya hidup, jika tahu semuanya akan seperti ini.


"Aku takut ayah, aku takut dia akan kembali dan ..."


"Tidak akan terjadi apa-apa sayang, percaya sama ayah dan ibu." Potong Viscount Elca. Dia akan berusaha melindungi keluarganya dari bahaya apa pun. Jika pun harus kehilangan nyawanya.


"Tidurlah, ibu akan menemani mu."


Deros mengangguk, dia merangkak ke arah bantalnya. Lalu membaringkan tubuhnya di susul oleh Michelia. Setelah Deros kecil tidur. Michelia duduk, ia membetulkan selimut Deros dan mengecup keningnya sangat lama. "Mimpi indah putra ku."


"Sebaiknya, Viscount juga istirahat."


Viscount Elca memeluk tubuh Michelia, dia menyandarkan kepalanya ke bahunya dan merangkul pinggangnya. "Aku ingin seperti ini."


Michelia pun mengelus kepalanya, kedua insan yang saling merangkul itu keluar dari kamar Deros menuju ke kamarnya. Hanya beberapa langkah saja. Kedua insan itu masuk. Viscount Elca membaringkan tubuhnya sangat kasar.


"Sayang," Viscount Elca membaringkan kepalanya di leher Michelia. Sudah menjadi kebiasannya, setiap tidur dia akan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher sang istri. Pelukan dan kehangatan sang istri bagaikan candu untuknya. Wangi tubuh Michelia mampu menghilangkan kelelahannya. Pernah suatu ketika, Michelia tidur di kamar Deros. Alhasil, sepanjang malam dia tidak bisa memejamkan matanya.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kita harus menjaga Deros dengan baik. Jangan sampai Liera menyentuh Deros dan membawanya. Kita harus memperketat keamanan di rumah ini." Ujar Michelia sambil mengelus bayi besarnya.


Tidak ada jawaban sama sekali, Michelia melihat ke arahnya. Ternyata bayi besarnya telah tidur. Hingga dengkuran damai itu membuatnya tersenyum. Dia meraih dagu Viscount Elca. Memberikannya kecupan pengantar tidur. Lalu mencium keningnya.


Liera aku tidak akan pernah melepaskan mu, seandainya kamu menyentuh putra ku.


Sementara Di sisi lain.


Liera menggila di kamarnya, usahanya tak membuahkan hasil. Lemparan make up dan pecahan vas bunga berserakah di lantai. Beribu cara dia akan lakukan agar Viscount Elca meninggalkan Michelia. Jika perlu, dia akan menjadikan putranya sebagai tameng meraih tangan Viscount Elca.


Liera duduk di tepi ranjangnya, sesuatu muncul di kepalanya yaitu menculik Deros dan membuat pilihan.


Ke esokan harinya.


Viscount Elca tengah sibuk dengan penanya. Dia akan memberikan surat pada kedua orang tuanya, memberitahukan semuanya. Karena ini menyangkut kehidupan Deros.


Setelah sampai surat itu di kediaman Duke Elios dan Duchess Caroline. Keduanya saling menganga begitu tak percaya. Mereka tak menyangka, Liera akan mengambil tindakan seperti itu. Merampas Deros yang sudah di sayang oleh menantu dan putranya itu.


"Dia memang tidak pantas menjadi menantu ku. Untung saja, Viscount menceraikannya." Pekik Duke Elios dengan amarahnya. "Aku memang tidak berguna, seandainya dulu aku tidak mengiyakan. Semuanya tak akan terjadi, Viscount Luis maafkan kelalaian ku." Air mata Duke Elios menggenang. Betapa lalainya dia, betapa buruknya dia menjaga Viscount Elca.


"Sayang jangan menyalahkan mu. Ini sudah takdir. Viscount Luis pasti memahaminya. Dia tidak akan menyalahkan mu." Ujar Duchess Caroline seraya mengelus punggung Duke Elios.


"Benar ayah, ayah Viscount pasti tau."


"Aku gagal Caroline, aku sangat gagal menjadi seorang ayah."


"Nona, Pangeran Almeer ingin menemui nona Anabella."


"Ah, iya aku lupa ingin keluar dengannya." Ujar Anabella. Dia belum bersiap-siap sama sekali.


"Sayang Anabella jangan beri tahu siapa pun. Biarkan ayah yang bertanggung jawab. Jika keluarga Kekaisaran tau, mereka pasti membantu kita. Bukannya kita tidak mau di bantu, tapi ini urusannya kita. Jadi kita yang harus menyelesaikannya tanpa melibatkan orang lain." Ujar Duke Elios.


"Ba-baiklah Ayah, aku akan menemuinya " Ujar Anabella. Sudah tiga tahun mereka bertunangan. Selama ini mereka bertengkar, perang dingin dan saling berdebat. Dia berusaha mengejar cinta Pangeran Almeer yang begitu dingin. Hingga kecelakaan itu tiba, dia menolong Michelia dari serangan kuda yang mengamuk. Dan semenjak kejadian itu, Pangeran Almeer sedikit lembut dan berlanjut dengan kesaksian cintanya.