Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 68_Berkorban 2


"Heh, apa yang dia katakan?" tanya seorang laki-laki dari arah pintu. Sedari tadi ia mengkhawatirkan Kaisar Alex, malah dirinya di buat jengkel melihat Kaisar Alex yang tidur dengan santainya di kasur Anastasya.


"Pangeran Gabriel, Kemarilah," perintahnya.


Pangeran Gabriel menaikkan salah satu alisnya, ia merasa aneh. Tidak biasanya Kaisar Alex bersikap ramah terhadap dirinya.


Kaisar Alex menepuk kasur di sampingnya itu sebagai kode jika ia menawarkan Pangeran Gabriel tidur di sampingnya.


"Ada apa dengan dirimu?" tanya Pangeran Gabriel begitu penasaran akan sikap Kaisar Alex. Ia duduk di tepi ranjang tanpa berniat tidur di samping Kaisar Alex.


Kaisar Alex duduk, "Tidak ada, besok aku akan menjemput Permaisuri. Ah, rasanya sangat senang." ucap Kaisar Alex tersenyum melihat ke arah Pangeran Gabriel.


"Bukalah, baju mu." perintahnya.


"Untuk apa?" tanya Pangeran Gabriel kebingungan.


"Lakukan saja aku hanya ingin melihat simbol ku yang ada pada dirimu. Kau tau, Permaisuri juga memiliki simbol."


"Hah," Pangeran Gabriel terkejut.


"Benar, sekarang aku hanya ingin melihat simbolnya, cepat lepaskan bajunya."


Pangeran Gabriel menghela nafas, ia membuka bajunya sesuai perintah Kaisar Alex.


Setelah melihat simbol yang sama dengannya, Kaisar Alex meraba simbol itu. Ia menggigit ujung jarinya dan meneteskan darahnya ke arah simbol Pangeran Gabriel.


Dengan ini dirimu tidak akan terikat lagi dengan ku batin Kaisar Alex dengan mata berkaca-kaca.


Kaisar Alex segera menghapus air matanya, ia menunjuk simbol Pangeran Gabriel begitu kasar. Rahasia ini hanya dirinya yang mengetahui dari Tetua istana. Jika dirinya terluka dan supaya Pangeran Gabriel tidak ikut terluka. Maka ia harus meneteskan darahnya sebagai tanda melepaskan jiwanya yang lain.


"Hey, apa yang kau lakukan?" tanya Pangeran Gabriel terasa sakit akibat perbuatan Kaisar Alex.


"Simbol mu jelek," ucap Kaisar Alex beranjak turun.


"Tunggu, apa aku bisa ikut menjemput Permaisuri?"


"Tidak perlu, aku bisa menanganinya. Aku akan mengajak Duke Rachid saja dan kedua pengawal ku itu." ucap Kaisar Alex.


"Tapi,"


"Sudahlah jangan membantah, aku harus istirahat." ucap Kaisar Alex berlalu pergi. Sekuat mungkin ia tidak akan mengeluarkan air matanya di hadapan Pangeran Gabriel. Ia tidak ingin jiwanya yang lain terluka.


Dia ingin Pangeran Gabriel menjaga Anastasya setelah kepergiannya nanti.


Pangeran Gabriel mengangguk mantap, besok dirinya harus mengikuti Kaisar Alex secara diam-diam.


Ke esokan paginya.


Kaisar Alex, Duke Rachid, Hector dan Isak berangkat dini hari menuju Kekaisaran Emerald. Butuh waktu seminggu untuk mencapai daerah perbatasan.


Dan seminggu itu pula, mereka hanya istirahat untuk makan. Selebihnya mereka akan melanjutkan perjalanan. Lain halnya dengan Kaisar Alex setiap langkah derap kudanya, ia merasakan sakit dan senang. Senang akan bertemu dengan Permaisurinya, tapi sakit saat dirinya akan berpisah begitu cepat tanpa merasakan kebersamaanya dengan Anastasya.


Sesampainya di gerbang Kekaisaran Emerald Kaisar Alex, Duke Rachid, Hector dan Isak turun dari kudanya. Ternyata mereka telah di sambut oleh Alban dan Arnod.


"Ikuti kami." ucap Alban.


Kaisar Alex mengangguk di ikuti yang lainnya. Selama di perjalanan mereka akan tetap waspada dan saling melirik.


Sampailah mereka di sebuah ruangan rahasia, pintu besar itu terbuka. Mereka masuk bersama. Hanya ada cahaya bulan yang menerangi ruangan itu. Kaisar Alex dan yang lainnya berhenti tepat di bawah cahaya bulan purnama.


"Tempat apa ini? jangan coba-coba menipu kami." bentak Kaisar Alex.


"Kalian akan tau, lihatlah." Hector menunjuk ke arah depan. Hingga terlihat cahaya lilin. Memperlihatkan seorang wanita dengan gaun putih dan kedua kakinya di rantai. Sementara kedua tangannya tidak.


"Permaisuri," teriak Kaisar Alex, ia bergegas berlari namun tubuhnya tiba-tiba terpental jauh.


"Yang Mulia," teriak Hector, Isak dan Duke Rachid. Mereka sama-sama mengeluarkan pedangnya. Dengan sigap Alban dan Arnod juga mengeluarkan pedangnya.


"Dasar bodoh, kenapa kau kesini?" teriak Anastasya menatap tajam Kaisar Alex.


Ha ha ha !


"Selamat datang Kaisar Alex," sebuah suara tegas dan dingin. Kaisar Alex menoleh, ia memperhatikan sekelilingnya.


Kaisar Alex mengepalkan tangannya, ketika lima cahaya lilin menerangi seorang laki-laki memakai jubah hitam di sebuah singgasana dan wajahnya hitam seperti luka bakar. Memiliki gigi runcing yang tak lain sang Iblis.


Sementara di sampingnya terlihat Kaisar Emerald yang berdiri dan tersenyum sinis ke arahnya.


"Brengsek," Kaisar Alex mengeluarkan auranya. Kini matanya telah berubah menjadi warna emas. Ia berlari menuju ke arahnya. Sedangkan Kaisar Emerald mengeluarkan pedangnya, mereka sama-sama mengeluarkan aura tiraninya.


trang


Dentingan pedang beradu, kedua orang itu saling maju mundur mempertahankan kekuatan masing-masing. Kaisar Alex melayangkan kakinya ke perut Kaisar Emerald. Dengan sigap Kaisar Emerald menyingkirkan tubuhnya kesamping. Hingga tidak terkena tubuhnya.


.............