Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 24_dimana hati nurani yang mulia


Setalah kepergian Anastasya, Kaisar Alex masih saja diam membeku melihat mahkota di tangannya.


"Yang Mulia, maaf." lirih Elisha seraya memegang pundak Kaisar Alex.


"Tidak, ini bukan salah mu. Kau istirahatlah. Aku masih memiliki banyak urusan."


Kaisar Alex mengelus pucuk kepala Elisha dan berlalu pergi. Elisha yang masih mendapatkan perlakuan lembut. Dirinya bertambah yakin, cepat atau lambat Anastasya akan pergi dari istana.


Disisi lain..


Sesampainya di kamar, Anastasya langsung menghampiri cermin besar berukuran lonjong di dekat ranjangnya dan cermin itu bisa memperlihatkan tubuh Anastasya.


Ratu Anastasya memejamkan matanya, ia meraba dadanya dan sangat jelas detak jantungnya berdebar tak karuan di ikuti nyeri di hatinya.


"Sialan, aku benci dengan dengan sakit ini." Ratu Anastasya meremas dadanya. Ia menatap lekat pipi yang berwarna ke unguan itu.


"Baginda Ratu, bagaimana jika hamba memanggilkan Tabib istana?" tanya Mery khawatir.


Ratu Anastasya hanya mengangguk sebagai jawabannya. Mery pun segera keluar esamoainya di depan pintu Mery berpapasan dengan Duke Rachid, Enzo dan Enzi.


"Bagaimana keadaan Ratu?" tanya Duke Rachid menatap lekat Mery. "Aku ingin menemuinya," sambungnya lagi tanpa mendengarkan jawaban Mery.


Duke Rachid, Enzo dan Enzi langsung masuk. Mereka melihat Anastasya berdiri di depan cermin.


"Ratu," panggil Enzo.


Ratu Anastasya menoleh, ia tersenyum melihat kedatangan mereka dan menghampiri mereka.


"Kenapa bisa seperti ini? Yang Mulia benar-benar keterlaluan." geram Duke Rachid seraya menyentuh pipi keunguan itu.


"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil." Ratu Anastasya menjawab di iringi senyumannya.


Ratu Anastasya duduk, sementara Duke Rachid duduk tepat di depan Ratu Anastasya yang berjongkok. "Apa Ratu ingin pergi dari sini? hamba akan membawa Ratu,"


"Hah," Anastasya terkejut, "Tidak mungkin, jika pun aku pergi, Ayahku masih ada di tangan mereka." lirihnya seraya menundukkan kepala, "Aku ingin bertemu dengan Ayah," sambungnya lagi, ia mendongakkan kepalanya menatap Duke Rachid.


"Baiklah, nanti malam hamba akan mengantar Ratu untuk menemui Duke Erland."


"Benar Ratu mari kita pergi dari sini, hamba akan bekerja bersama Enzi untuk memenuhi kebutuhan Ratu," timpal Enzo yang sedari tadi hanya diam saja. Kini ia berbicara dengan tekad yang bulat.


"Kita tidak mungkin pergi, kan Enzo sudah tau. Jika Ayah masih di hukum."


"Ya itulah, mari kita bebasin Duke Erland."


"Baiklah suatu saat nanti kita pergi," jawab Anastasya.


Sesaat kemudian datanglah Dokter istana, ia segera memberi hormat. Lalu mengolesi pipi Anastasya.


Anastasya pun tidak mengerang kesakitan, sementara mereka yang melihatnya meringis kesakitan.


"Ratu mungkin butuh dua hari lagi agar pipi Ratu bisa kembali ke semula." ucap Dokter istana yang telah selesai mengolesi obat di pipi Anastasya.


Anastasya hanya mengangguk, mengerti. Dokter itu pun langsung memberikan hormat dan berlalu pergi.


"Biarkan Ratu istirahat, sebaiknya kita pergi dulu dan untuk nanti malam hamba akan datang lagi." ucap Duke Rachid yang diangguki Enzo dan Enzi.


Selepas kepergian mereka, Anastasya membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Ia melihat ke langit-langit kamarnya, "Setelah ini aku tidak akan membiarkan tangan kotornya menyentuh ku lagi." Anastasya beranjak duduk, " Tapi tunggu dulu kenapa alurnya berubah ya, ah biarkan saja mana aku peduli." desah Anastasya, kemudian membaringkan kembali tubuhnya.


tak


tak


tak


"Mery aku ingin pergi dari sini," ucapnya tanpa menoleh. Ia yakin Mery akan datang menemuinya dan menenangkannya.


"Jangan harap bisa pergi Ratu," Asal suara yang datar dan dingin.


Anastasya membulatkan matanya, ia beranjak duduk dan menoleh, "Untuk apa Yang Mulia kesini?" tanya Anastasya datar.


"Hah," Kaisar Alex menghela nafas ia duduk di tepi ranjang Anastasya. Jujur saja ia merasa bersalah dan segera menemui sang Ratu. Ia ingin melihat keadaannya.


"Aku minta maaf," ucapnya melihat ke arah Anastasya yang memalingkan wajahnya.


"Hamba tidak butuh,"


Kaisar Alex memegang dagu Ratu Anastasya, ia melihat pipi yang berwarna keunguan itu dan menggerakkan tangan kanannya. Sementara Anastasay merasakan kedinginan di pipi yang tadinya nyeri. Dalam sekejap saja pipi berwarna keunguan itu menghilang dan kembali ke semula.


"Besok adalah penobatan mu," Kaisar Alex beranjak berdiri. Ia sudah memikirkan matang-matang. Hatinya tadi geram ketika Anastasya mengatakan ingin pergi.


"Berikan saja gelar itu pada Elisha, hamba tidak membutuhkan itu,"


"Jangan coba membantah Ratu, ingat jika Ratu ingin Duke Erland di lepaskan. Turuti saja perintah ku."


Anastasya mencengkram seprainya, ia melihat ke arah Kaisar Alex.


"Apa Yang Mulia tidak puas membuat hamba menderita? apa Yang Mulia ingin hamba menjadi pajangan istana. Bahkan Ayah hamba sampai rela bersujud di depan Yang Mulia. Dimana hati nurani Yang Mulia." teriak Anastasya.


"Terserah, jangan coba-coba menolak. Jika ingin kebebasan Ayah mu," ucap Kaisar Alex dingin dan berlalu pergi.


"Aku Anastasya membencimu Yang Mulia,"


Rasa nyeri mulai menjalar di hatinya, ia tidak terima perkataan Anastasya. Kaisar Alex menoleh, ia memejamkan matanya dan melanjutkan langkah kakinya.


Sialan geram Anastasya.