
"Lalu bagaimana dengan istri kedua?" tanya Bibi Diane. Ia masih berusaha menekan amarahnya. Awalanya ia percaya Hilda yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang tidak akan melakukannya.
"Aku hanya menawarkan diri menjadi istri kedua Paman." ujarnya sambil meremas seprai di tangannya itu.
Brak
"Jadi ini masalahnya sampai Putri Maya sangat marah pada ku. Dia mengira aku yang menyuruh mu, untuk mengatakannya." teriak Duke Rachid menatap Hilda dengan tatapan tajam. "Jadi rumor itu juga ulah mu kan." sambungnya lagi tersenyum sinis.
"Jika yang menawarkan diri itu aku sendiri Paman, tapi yang menyebarkan rumor itu bukan aku." Kilah Hilda.
Duke Rachid bertepuk tangan, ia tertawa lepas. Membuat siapa saja yang mendengarkan tawanya merinding."Siapa lagi kalau bukan kamu Hilda. Sekarang kamu senang, puas, bahagia." Duke Rachid menghentikan tepuk tangannya. "Selamat atas keberhasilan mu, Hilda. Selamat dan selamat membuat hidup mu paman mu hancur."
"Mulai sekarang jangan pernah memanggilku Paman lagi. Anggap saja kita tak pernah kenal."
"Yang Mulia, ampuni Nona Hilda. Ia tidak tau apa-apa. Hambalah yang memaksanya melakukan ini." seru pelayan Eve seraya bersujud di lantai.
"Sekali pun kalian menangis darah, tetap saja kalian lah yang bersalah. Emi penggal kepala pelayan Eve."
"Tidak Paman, aku mohon. Ini juga salah ku."
"Jika kamu mau, kamu juga harus mengikutinya. Sekali pun aku tidak turun tangan. Yang Mulia Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya, pasti akan memenggal kepala kalian."
Sementara Bibi Diane hanya diam membeku, ia tidak tau harus melakukan apa. Semua yang di lakukan Hilda memang salah.
"Lihatlah Bibi, keponakan yang Bibi besarkan dengan penuh kasih sayang, diam-diam membunuh ku. Aku tidak ingin melihat kalian disini. Bawa pelayan sialan itu ke ruang ekskusi." teriak Duke Rachid.
Emi langsung menyeret pelayan Eve. Hilda pun menarik tangan Eve, ia menggeleng dan menangis pilu. Bibi Diane menatap Hilda, ia merasa kasihan pada Hilda. Ia melangkah kan kakinya, memegang tangan Hilda agar melepaskan tangannya.
Hilda melepaskan tangannya, ia memeluk erat Bibi Diane, "Ini salah ku Bibi."
"Ini pelajaran untuk mu, mulai sekarang cobalah untuk menerima. Apa yang bukan milik mu jangan kamu rampas. Jujur saja Bibi menginginkan dirimu dengan Paman mu. Tapi dia tidak mencintai mu, Bibi juga memikirkan masa depan mu." ucap Bibi Diane mengelus punggung Hilda.
Hilda melepaskan pelukannya, "Aku akan minta maaf pada Yang Mulia Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya." ucap Hilda.
Sementara Duke Rachid, ia telah selesai bersiap-siap menuju ke istana. Untuk hari ini, ia akan meluruskan kembali permasalahan yang belum tuntas itu. Ia merasa lega, akhirnya ia tau semua kebenarannya. Ternyata memang benar, dia adalah orang terbodoh sampai ia tidak bisa membedakan perhatian Hilda.
Duke Rachid tersenyum, ia menaiki kuda dan melaju kencang. Tak butuh waktu lama. Ia sampai di depan gerbang istana. Sesampainya disana ia melihat Isak dan Isak membungkuk Hormat, ia juga memberitaukan Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya berada di taman istana. Duke Rachid mengangguk, mengerti.
Dari kejauhan, Duke Rachid melihat Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex sedang berbincang-bincang sembari menyeruput teh.
"Hubungan Putri Maya dan Arnoz semakin dekat, lagi pula hubungan Duke Rachid dengan Putri Maya semakin renggang, ia tidak bisa tegas pada perasaanya sendiri."
"Arnoz juga baik, apa salahnya hubungan lebih dari sekedar teman." Permaisuri Anastasya menaruh kembali cangkir keramik itu ketempat semual.
Kaisar Alex menghela napas. "Apa salahnya Permaisuri memberikan kesempatan untuk Duke Rachid." ucap Kaisar Alex ia merasa kasihan melihat Duke Rachid, ia tau Duke Rachid sangat mencintai Putri Maya.
Telinganya panas, hatinya perih, nafasnya memburu. Ia tidak pernah menduga, Permaisuri Anastasya tega memutuskan hubungannya tanpa memberi tau dirinya.
"Hamba tidak ingin membatalkan pertunangan hamba Yang Mulia." seru Duke Rachid seraya menggertakkan giginya.
Duke Rachid menuju ke arah mereka, ia membungkuk hormat. "Sekalipun hamba mati, hamba tidak akan pernah melepaskan Putri Maya."
Sekalipun diriku harus memberontak, aku tidak akan pernah melepaskan Putri Maya batinnya.