
Satu Bulan kemudian.
Seorang laki-laki tengah tertidur pulas, dalam tidurnya ada mimpi yang menghiasinya. Dimana dalam mimpinya, ia melihat sosok seseorang yang ia rindukan. Wajahnya sangat mirip, senyum itu terus merekah di bibirnya.
Mahkota bunga mawar berwarna merah dan putih bertebaran di tanah. Ia memandang ke segala arah. Hanya ada rumput dan bunga mawar dengan sebuah kursi putih. Viscount Elca mendekat ke arah laki-laki yang memunggunginya dengan memakai baju putih khas seperti laki-laki bangsawan.
"Permisi tuan, boleh saya tau ini dimana?" tanya Viscount Elca dengan hati-hati.
Laki-laki itu pun berdiri, ia membalikkan badannya.
"Ayah," bibirnya bergetar, begitu pun hatinya yang terus mengukir cinta. Ia berlari memeluk laki-laki di depannya. "Ayah." Ia menangis dalam kerinduan yang sudah lama ia pendam.
"Kamu sudah dewasa sayang," Laki-laki gagah itu mencium kening Viscount Elca. "Maaf Ayah tidak bisa membahagiakan mu."
"Ayah, Elca merindukan Ayah."
"Ayah selalu merindukan mu, Nak. Ayah selalu melihat mu. Kamu bahagia sayang, terimakasih sudah menjaga Ibu mu. Ayah juga merindukan mu dan juga ibu mu. Ayah bisa merasakannya, setiap saat ibu mu menaruh rindu pada Ayah meskipun rindu itu hanya sebuah kasih sayang."
"Ayah, mari pulang kita akan bertemu dengan Ibu dan Ayah Duke."
"Ayah selalu ada di samping kalian. Ayah selalu mendukung mu, terima kasih karena selalu mengingat ayah. Hanya satu pesan Ayah, sayangilah dan cintai istri mu."
"Benar, Elca akan menikah apa Ayah akan ada di sana?"
"Ayah akan melihat mu, Nak." Ujar Viscount Luis.
Satu kecupan itu mendarat di kening Viscount Elca. Hingga tubuh laki-laki di depannya keluar cahaya dalam sekejap cahaya itu hilang bersamaan dengan tubuhnya.
Seketika mata itu terbuka, nafasnya naik turun. Keringat yang keluar dari tubuhnya membasahi baju tidurnya. Ia beringsut duduk, "Ayah !" Tetesan itu keluar.
"Ayah !"
Michelia terkejut, ia memeluk laki-laki yang terlihat rapuh itu. Ia bisa merasakan kesedihannya. "Kamu bermimpi Viscount Luis,"
"Iya, dia memeluk ku." Michelia mencium pucuk kepalanya. "Berarti dia bahagia, melihat mu bahagia. Jangan menangis," Michelia mengusap lembut kepalanya."
"Sebaiknya kamu tidur, besok acara kita." Ujar Michelia.
"Kenapa kamu tidak tidur?"
"Aku khawatir dengan Elca kecil. Tadi saja dia menangis tidak ingin jauh dari ku, maka dari itu aku khawatir tak bisa tidur dan melihatnya. Aku juga khawatir pada mu. Setelah aku mendengarkan isakan tangis. Aku masuk ke dalam." Tutur Michelia.
Selama sebulan ini pula, keduanya saling mendekat dan saling memahami. Michelia juga sering mendatangi kediamannya setiap akhir pekan untuk menjenguk putra angkatnya sekaligus ingin melihat calon suaminya. Lika liku yang pernah mereka lalui, kini berbuah manis. Besok adalah acara pernikahan mereka yang akan di hadiri kedua orang tuanya. Sementara Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya tidak bisa hadir karena kesibukan istana menyambut lahirnya anggota baru anak kedua dari Viola.
"Tidurlah," Michelia membaringkan tubuh Viscount Elca. Ia duduk di sisi ranjangnya.
"Aku ingin menggenggam tangan mu," ujar Viscount Elca seraya menaruh tangan Michelia di dadanya, menggenggamnya. Mata itu pun tertutup. Terdengar dengkuran halus dari laki-laki di depannya itu. Michelia melepaskan genggamannya, ia mencium kening Viscount Elca dan berlalu pergi.
Ke esokan harinya.
Di sebuah aula yang luas di kediaman Viscount. Para undangan tamu bangsawan telah hadir. Kini hanya dua mempelai pengantin itu yang di tunggu-tunggu. Banyak para bangsawan yang turut hadir dan saling berbincang.
Viscount Elca tidak sabar melihat gadisnya yang akan menjadi wanitanya. Ia terus melihat ke arah pintu. Menunggu sang mempelai wanita.
Selang beberapa saat, munculah seorang gadis memakai gaun berwarna putih di kelilingi mutiara berwarna putih dan memakai mahkota. Tubuhnya yang ramping dan elegan pun membuatnya sangat sexy. Para bangsawan pun berdecak kagum melihat dewi dari Kekaisaran Alex telah tiba. Gadis yang di gadang-gadang kecantikan di seluruh Kekaisarannya. Gadis itu menggenggam bunga putih dan empat anak kecil yang menjaganya.
...Gadis itu sampai di altar dan mendonggakkan wajahnya menatap Viscount Elca. Sebuah janji mereka ungkapkan yang akan mengikat mereka sampai maut memisahkan. Cinta yang tulus dari hati mereka. Hingga Tuhan tak bisa berkata apa-apa....