Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 55_Ibu


Pada malam harinya, setelah tidur yang memuaskan. Lalu, membersihkan tubuhnya dan merias. Anastasya keluar dari kamarnya menuju ke kamar Arnoz dan Kendrix. Kamar mereka di jadikan satu karna permintaan Kendrix yang tidak ingin jauh putranya.


"Permaisuri," sapa Mery seraya mengikuti langkah kaki Anastasya.


"Ada apa?" tanya Anastasya.


"Apa Permaisuri tidak merasa curiga? hamba tadi melihat perubahan wajah Selir Elisha saat bertemu dengan Arnoz dan Tuan Kendrix. Hamba merasa ada yang aneh," tutur Mery seraya memegang dagunya sebagai tanda ia berfikir apa hubungan mereka.


Bahkan Mery pun merasa curiga hubungan mereka batin Anastasya.


"Jika kamu merasa curiga, kenapa tidak mengawasi mereka?"


"Bolehkah Permaisuri, hamba juga penasaran."


"Ya, mulai besok awasi gerak gerik Elisha dan pelayannya." ucap Anastasya.


Sesampainya di depan kamar Arnoz dan Kendrix. Pelayan Mery mengetuk pintu dan ternyata ada sautan dari dalam kamar itu.


"Hormat hamba, Permaisuri." ucap Kendrix dengan sopan di ikuti Arnoz.


"Aku hanya mengundang kalian untuk makan malam bersama,"


Kendrix dan Arnoz saling menatap, sepertinya ada sesuatu yang di pikirkan anak dan ayah itu. Mereka tidak ingin bertemu dengan Elisha, apalagi semenjak kejadian tadi pagi. Sangat jelas Elisha tidak menyukai dan mengakui mereka. Bahkan penjelasan Kendrix membuat Arnoz, putranya itu membuat dia tidak ingin mengakui Elisha sebagai Ibunya.


"Tidak Permaisuri. Orang rendahan seperti hamba tidak bisa bersanding dengan keluarga Kekaisaran." tolak Kendrix dengan lembut.


Anastasya merasa jengkel dengan penolakan Kendrix. Padahal dirinya sangat penasaran hubungan mereka.


"Sudahlah aku tidak membutuhkan penolakan kalian," ucap Anastasya berlalu pergi di ikuti Mery.


"Ayah bagaimana ini? kita tidak mungkin menolak perintah Permaisuri. Tapi kita tidak ingin bertemu dengannya." ucap Arnoz menatap sang Ayah.


"Hah," Kendrix berjongkok menatap Putranya.


Arnoz, bocah yang berusia 5 tahun. Kini ia mengerti kenapa Ibunya meninggalkannya dan Ayahnya memilih pergi hanya masalah ekonomi. Dalam dirinya bertekad tidak akan mengakui Elisha sebagai Ibunya lagi.


Kendrix berdiri seraya tersenyum, ia menggenggam tangan Putranya. Lalu, menuju ke ruang makan.


Namun hal yang tidak di inginkan oleh Arnoz dan Kendrix terjadi, sebelum sampai di ruang makan. Dari arah berlawan Kendrix dan Arnoz berpapasan dengan Elisha, istrinya sekaligus Ibu dari Arnoz.


"Hah, aku tidak pernah menyangka bisa bertemu dengan kalian. Sebenarnya hati kalian terbuat dari apa? tidak tau malu datang kesini." ejek Elisha seraya mengangkat sudut bibirnya.


"Elisha," ucap Kendrix mengepalkan tangannya.


"Apa kamu tidak memiliki hati meninggalkan Anak mu yang sangat membutuhkan kasih sayang mu?" tanya Kendrix, sebisa mungkin ia tidak berteriak menahan emosi yang meluap-luap.


"Aku tidak membutuhkan kalian, sebaiknya kalian cepat meninggalkan tempat ini dan aku tidak menjamin keselamatan kalian disini," ucap Elisha dengan dingin.


"Ibu," sapa Arnoz dengan mata berkaca-kaca.


"Tutup mulutnya, jangan pernah memanggilku Ibu. Aku bukan Ibu mu. Anggap saja Ibu mu telah mati dan ingat tutup mulut kalian. Jika Yang Mulia sampai tau, aku tidak akan segan menghancurkan hidup kalian. Aku tidak memandang kalian yang pernah hadir dalam hidupku. Jujur saja aku menyesal dulu memiliki suami dan seorang anak seperti kalian."


Elisha berjongkok, ia mencengkram dagu Arnoz.


"Elisha," Kendrix memegang tangan Elisha yang membuat Arnoz meringis kesakitan.


"Berteriaklah, jika kau berteriak aku tidak akan menjamin keselamatan mu dan juga anak mu. Yang Mulia tidak akan mempercayai mu walaupun kau berkata dengan jujur."


Kendrix menggertakkan giginya, rasanya ia ingin mencabik-cabik wanita di depannya ini.


"Ingat, jangan pernah mengucap kata terkutuk itu di depan siapa pun. Jika kau mengucapkan kata itu lagi. Aku membunuh Ayah mu." ucap Elisha membuat Arnoz mengeluarkan air matanya. Hatinya sakit, Ibu yang ia sayangi dan berharap bertemu setelah sekian lama. Kini membencinya dan juga Ayahnya, sebenarnya apa kesalahannya dengan Ayahnya. Tidak kah ada rasa cinta sedikit pun di hati wanita yang telah melahirkannya.


Elisha melepaskan cengkraman nya dan melanjutkan langkah kakinya menuju ruang makan.


Sementara Kendrix dan Arnoz mematung seraya mengeluarkan butiran bening dengan derasnya.