
Semenjak kejadian tadi siang, Michelia tidak pernah meninggalkan Deros. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya, membuatnya lupa akan kejadian di depan matanya. Dan malam ini dia pun menemani Deros di tempat tidurnya. Sudah jam 09.30 dia belum bisa memejamkan matanya. Tangannya terus mengusap lembut kepala Deros yang tertidur pulas.
"Sayang,"
Sosok di ambang pintu itu, ia menghampiri Michelia yang belum sadar dengan keberadaanya.
Setelah mengerjakan pekerjaannya. Viscount Elca menemui istrinya, pikirannya pun sama, ia tidak bisa menghilangkan perasaan kecewa, kekesalannya, amarahnya. Namun yang paling ia khawatirkan adalah Deros.
"Sayang, kamu belum tidur." Michelia beringsut duduk. Ia menyandarkan punggungnya ke sisi ranjang dan merentangkan tangannya. Ranjang yang lumayan luas, bisa menampung mereka bertiga.
Sang laki-laki gagah itu, berhambur ke pelukannya. Baginya tidak ada rasa nyama kecuali pelukan istri dan tentu ibu serta ayahnya. Kasih sayang yang mereka berikan tidak pernah membuatnya merasakan sedih. Walaupun sangat jelas dia kehilangan ayahnya.
"Kenapa belum tidur?"
"Gak bisa tidur," rengek Viscount Elca. Dia tidak bisa tidur di pangkuan istrinya. Biasanya seorang wanita yang merengek pada laki-laki. Namun Viscount Elca tidak, dia merasa kekurangan. Dia tidak peduli di anggap lemah atau apa pun. Yang jelas dia akan menunjukkan tanduknya di medan perang dan menunjukkan kelemahannya jika bersama istrinya.
Cup
Michelia mencium kepala Viscount Elca, setiap malam dia melakukan, baginya sudah kewajiban tiap malam mencium dan memberikan pelukan hangat.
"Apa aku harus menyerahkannya pada Liera?" terdengar nafas beratnya. Air matanya tertahan melihat putra kecilnya.
"Apa maksud mu?" tanya Michelia menatap manik hitamnya.
"Aku tidak ingin melibatkan mu, sayang. Biarkan aku berkorban, aku mohon." Lirih Viscount Elca semakin mengeratkan pelukannya. Tubuhnya gemetar menahan tangisnya.
"Cengeng, seperti ini sudah menyerah." Ejek Michelia. "Dengar sayang, kita yang merawatnya dari kecil, menyayanginya dan mencintainya. Mana mungkin kamu egois seperti ini." Michelia meyakinkan, jika dirinya tidak akan menyerah.
"Aku yang akan menghadapinya, tapi tidak akan melibatkan mu. Aku mohon, ini urusan ku di masa lalu." Viscount Elca beranjak, ia beranjak duduk.
"Sayang, kita akan menghadapinya. Deros putra ku, meskipun dia bukan darah daging ku. Aku akan tetap mempertahankannya." Tajam Michelia.
"Aku bukan mau menyerahkan Deros padanya, tapi ini semua karena ku. Biarkan aku yang mengurusnya sendiri. Aku mohon, aku tidak ingin melibatkan mu." Matanya beralih ke arah Deros yang sudah memunggunginya. "Maafkan ayah Nak, ayah takut terjadi sesuatu pada ibu mu dan juga dirimu. Ayah akan berusaha mempertahankan mu. Tapi untuk sekarang, ayah mohon. Tolong mengertilah keadaanya. Ayah tidak ingin melibatkan diri mu." Ujar Viscount Elca memejamkan matanya.
"Sudahlah, jangan membahasnya lagi. Sekarang tidurlah. Kamu pasti lelah." Ujar Michelia membantu Viscount Elca tidur di sampingnya.
Sementara Deros, anak kecil itu mendengarkan semua perkataan Viscount Elca, ayahnya. Dia paham, Viscount Elca melindungi ibunya dan juga dirinya. Hatinya sakit, sangat sakit mendengarkan keputusasaan ayahnya. Dia meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Liera, kamu memang ibu ku, tapi bukan berarti kamu akan merebut ku dari ibu Michelia. Aku akan menghadapi mu tanpa melibatkan kedua orang tua ku. Kamu mau aku kan, maka dari itu tangan ku akan menunjukkan siapa aku. Aku putra Viscount Elca dan Viscountess Michelia. Seandainya kamu tidak jahat dan membuat ku jadi bahan penghinaan, tentunya aku sangat senang. Aku akan berlaku adil sebagai putra mu dan juga ibu ku, tapi sayang, aku sekarang membenci mu, Liera.
...Ke esokan harinya....
Michelia di suguhi dengan kedatangan Pangeran Almeer dan Viola. Mereka pun berpelukan, melepaskan rasa yang merogotinya.
"Kakak," Michelia memeluk kembali Pangeran Almeer.
"Bagaimana kabar mu?"
"Aku baik kak," Jawab Michelia.
Pangeran Almeer berjongkok, "Bagaimana keponakan kecil? apa kamu sudah tidak sabar melihat dunia luar. Ibu mu sangat cantik, ayah mu sangat tampan. Jangan lupakan paman mu yang so tampan ini."
Dan beberapa detik kemudian, perut Michelia bergerak. "Wah lihatlah, sepertinya dia memang mengakui ku sebagai paman tertampannya." Ujar Pangeran Almeer dengan pedenya.
"Sepertinya dia bukan mengakui kakak tampan, tapi mengakui kakak yang cerewet."
"Cerewet, tapi penuh cinta lah." Pangeran Almeer melirik ke arah Viola dan menaikkan kedua alisnya. "Ya, gak sayang."
Ke empat orang itu pun tertawa geli melihat kelakuan Pangeran Almeer.
"Baiklah, ayo masuk kak. Aku sudah membuat camilan." Ujar Michelia. Sekarang dia sudah ahli membuat biskuit dan beberapa kue. Hobinya pun bertambah. Merupakan kesenangan sendiri, saat melihat Viscount Elca dan Deros memakan masakannya. Bahkan ibunya pun setiap harinya pasti memasak sama dengan neneknya, Anastasya. Bagitu pun sang kakak, yang sudah menjadi seorang Kaisar wanita.
Tanpa sadar ada seseorang yang mengawasi mereka. Setiap detik dan menit kedua orang itu akan memberikan informasi secara detail pada majikannnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seseorang yang sudah lama mengawasi gerak gerik mereka di luar pagar kediaman Viscount.