
Tak terasa kereta istana telah sampai, Anastasya turun dari keretanya. Suara angin malam pun berhembus membuat bulu kuduknya merinding.
Kaisar Alex melepaskan jubahnya, ia menaruh jubah itu di tubuh Anastasya.
"Mery, bagaimana keadaan kedua Putri?" tanya seseorang.
Putri Viola turun dari keretanya, di ikuti Ana yang menggendong Putri Maya. Segera ia ambil Putri Maya dalam gendongan Ana.
Kaisar Alex dan Anastasya hanya melihatnya, mereka membiarkan saja. Lagi pula Duke Rachid tidak akan membawa kabur Putri Maya.
"Putri Viola, Pangeran Enzo, Pangeran Enzi segeralah beristirahat. Tubuh kalian pasti lelah." ucap Anastasya, ia mencium kening mereka secara bergantian.
"Dan kau Duke, cepat bawa Putri Maya ke kamarnya." perintah Kaisar Alex dengan tegas.
"Baik Yang Mulia."
Untung mertua, kalau bukan hemm batin Duke merasa kesal.
Duke Rachid membaringkan tubuh Putri Maya dengan hati-hati, tangannya bergerak mengelus pipinya dengan lembut, lalu menciumnya.
"Selamat tidur," ucapnya dengan lembut.
Ke esokan harinya..
Setelah selesai berias, Putri Viola dan Putri Maya turun, mereka menuju ke ruang makan. Sesampainya disana, Putri Viola dan Putri Maya melihat Kaisar Alex yang sedang bermanja-manja dengan meminta di suapi oleh Ibunya.
"Pagi Ayah, Ibu.." sapa mereka secara kompak, lalu duduk di kursi masing-masing.
"Pagi sayang," sapa Anastasya tersenyum.
"Sayang sudah habis," seru Kaisar Alex.
Anastasya tersenyum, lalu menyodorkan sendoknya kembali ke mulut Kaisar Alex.
"Ayah anja anget."
Kaisar Alex melihat ke arah Putri Maya, "Namanya juga minta kasih sayang."
"Apa selama ini, aku kurang menyayangi Yang Mulia?" pekik Anastasya.
"Sayang jangan marah, Aku selalu ingin lebih dan lebih setiap harinya."
Anastasya tersenyum, ia mencium pucuk kepala Kaisar Alex. Pemandangan itu pun sudah menjadi hal biasa bagi setiap pelayan dan pengawal yang melihatnya, apalagi kedua Putrinya selalu mengabaikan tatapan mesra itu.
"Acu juga ingin begitu ama Paman, Duke." seru Putri Maya membuat Kaisar Alex tersedak.
Dengan sigap Anastasya mengambilkan air minum, Kaisar Alex pun langsung meminumnya.
"Sayang, Putri Ku. Kau masih kecil, jadi belajarlah yang rajin dulu." ucap Kaisar Alex menatap horor ke arah Putrinya. Pikirannya bergedik ngeri, membayangkan jika Putrinya tidak akan lepas dari Duke Rachid.
"Jangan berfikir aneh-aneh, Putri Maya seperti itu, Karna Yang Mulia selalu..."
"Apa salahnya sama istri sendiri, lah dia, masih bau kunyit." potong Kaisar Alex, ia tidak terima dirinya di salahkan.
"Acu juga cinta ama Paman, Duke."
Bagaikan disambar petir, sekujur tubuh Kaisar Alex seperti di sengat listrik.
"Darimana kau tau nama cinta,"
"Dari Ayah," jawan Putri Maya dengan polosnya, seraya menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Anastasya kembali menyuapi Kaisar Alex, "Sudahlah jangan berdebat, ujung-ujungnya Yang Mulia juga kalah."
"Hais, darimana Aku mendapatkan Putri seperti itu." gumam Kaisar Alex melirik ke arah Putri Maya yang lahap memakan nasinya.
"Dia beda sekali dengan Putri Viola, kenapa aku jadi khawatir akan hubungannya, ya?" gumam Kaisar Alex melirik Putri Viola yang sedari tadi hanya diam saja.
"Putri Viola, Duke Rachid akan mengajari mu Ilmu bela diri. Mulai sekarang Kau harus berlatih."
Putri Viola tersenyum, "Baik Ayah."
Putri Viola pun melanjutkan kembali memakan nasinya.
Setelah selesai, Duke Rachid menemui Putri Viola. Mereka melaksanakan sesuai perintah Kaisar Alex. Putri Viola pun selalu fokus apa yang di ajarkan oleh Duke, bahkan Sean dan Kedua Kakaknya ikut serta dalam mengajari sang Adik. Tak segan kedua Kakaknya mengajak Putri Viola bertarung. Dentingan pedang saling beradu, bunyi Anak panah yang menancap tepat sasaran dan bunyi derap kuda yang saling beradu kecepatan.