
Anastasya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari lukisan Kaisar Alex. Ia kembali teringat tadi malam yang merasakan bayang-bayang Kaisar Alex.
"Aku yakin tadi malam itu Yang Mulia,tapi.." Anastasya menjeda.
"Ah, sudahlah mungkin itu hanya perasaan ku saja," ucap Anastasya..
"Hormat hamba Permaisuri," ucap Mery di ikuti wanita di sampingnya.
Anastasya menoleh, melihat wanita di sampingnya "Oh Nyonya Emma Denrix, kita bertemu lagi." sapa Anastasya dengan ramah.
"Suatu kehormatan bagi hamba bisa melayani Permaisuri."
"Tidak perlu formal ayo duduk, aku meminta mu datang kesini karna ingin belajar menyulam." ucap Anastasya.
"Hamba akan berusaha dengan baik Permaisuri," ucap Emma dengan sopan.
Pelayan Mery menyiapkan semua keperluan untuk menyulam, jarum, benang, pemidangan, pendedel, kapur jahit dan gunting serta jubah Kaisar berwarna abu-abu, di bagian lehernya terdapat bulu halus berwarna merah.
Sementara untuk Nyonya Emma pelayan Mery menyiapkan kain biasa.
Setelah itu Nyonya Emma mempraktekkan lebih dulu dan memberikan penjelas. Sesekali Anastasya mengangguk dan paham yang di maksud Nyonya Emma.
Setelah 1 jam kemudian
Anastasya merasa lelah namun ia tetap fokus terhadap jarum dan kain di tangannya. Tanpa sadar jarum yang di pegang oleh Anastasya menusuk jari kelingkingnya.
"Au,"
"Permaisuri ada apa?" tanya pelayan Mery dan Nyonya Emma khawatir melihat darah segar di jari telunjuk Anastasya.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Ayo lanjutkan." ucap Anastasya tersenyum.
"Jika Permaisuri lelah. Kita bisa melanjutkannya besok." saran Nyonya Emma. Ia kasihan melihat Permaisuri Anastasya yang terasa kelelahan.
Permaisuri Anastasya hanya menyelesaikan separuh gambar Matahari berwarna kuning, Tidak kita lanjutkan saja." Hatinya sangat teguh ingin menyelesaikan sulaman itu. Sering kali ia menguap pertanda lelah dan mengantuk. Setelah ia menguap ke lima kalinya, Anastasya sudah merasa sangat lelah. Ia melihat ke sulamannya dan merabanya. Ternyata sangat sulit, untung saja tubuh yang ia tempati sangat pandai menyulam dan tentunya tidak terlalu gugup.
"Ini hanyalah tinggal apinya saja." ucap Anastasya seraya mengelus sulamannya.
"Biar hamba saja yang menyelesaikannya Permaisuri," ucapnya.
Anastasya menggeleng, "Mery benang merahnya,"
"Nyonya Emma terimakasih atas waktunya,"
"Sungguh kehormatan bagi hamba Permaisuri, hamba undur diri."
Anastasya mengangguk, ia mengambil camilan dan teh yang di sediakan oleh Mery. Kemudian menuju ke arah ranjangnya dan terlelap tidur.
Tidak terasa Anastasya tidur seperti orang mati, saat Mery membangunkannya untuk makan malam.
"Permaisuri waktunya makan malam," ucap Mery menggoyangkan tubuh Anastasya pelan.
"Mery aku ngantuk, taruh saja camilan disana," ucap Anastasya tanpa membuka matanya.
Mery hanya menggeleng pelan, ia pergi menuju ke dapur dan mengambil beberapa roti serta biskuit yang di dalam toples kaca. Mery juga menyiapkan buah apel merah yang segar.
Setelah selesai Mery kembali ke kamar Anastasya dan masih melihat Anastasya yang tertidur pulas.
Setelah kepergian Mery, datanglah Kaisar Alex. Ia mendekati ranjang Anastasya. Masih dalam senyumannya yang lembut, ia mencium kening Anastasya. Kaisar Alex melihat biskuit dan tiga roti di atas meja.
Apa dia belum makan batin Kaisar Alex menaikkan salah satu alisnya. Ia kembali menatap ke arah Anastasya dan kembali mengecup keningnya. Tatapannya teralih ketika melihat jubah berwarna abu-abu yang di pajang. Kaisar Alex menghampiri jubah itu dan melihat sekeliling jubah, ia terharu melihat jubah itu terdapat logo Kekaisaran Matahari.
"Apa ini untuk ku?" gumam Kaisar Alex, air matanya kembali turun. "Permaisuri," Kaisar Alex menghampiri Anastasya, ia menenggelamkan kepalanya di leher Anastasya.
Anastasya pun menggeliat karna geli, Namun matanya sangat berat untuk di buka.
"Emmm,"
Kaisar Alex tersadar, ia bangun dari leher Anastasya. Lalu memilih naik ranjang Anastasya.
"Aku merindukan mu Permaisuri," ucap Kaisar Alex seraya memeluk Anastasya. Bagitu pun Anastasya yang merasakan kehangatan. Ia mencari kehangatan itu. Dengan lembut Kaisar Alex membantu Anastasya menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya itu, lalu membenturkan selimutnya agar Anastasya tidak kedinginan.
"Selamat malam sayang dan terimakasih istri bar-bar ku. I Love You, my Wife."
Kaisar Alex meneteskan air mata bahagianya, rasa senang yang kini ia dapatkan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Tunggulah Permaisuri, aku akan segera kembali."
Satu ciuman di kening Anastasya seraya membelai pipinya dan ikut memejamkan matanya.