
Kaisar Alex keluar dari aula istana, langkah kakinya terus menelusuri lorong istana dan matanya terus melihat dengan teliti di setiap jengkal istana.
Sebenarnya kemana dia batin Kaisar Alex geram.
Tidak terasa Kaisar Alex telah meninggalkan pesta berjam-jam. Masih sama saja hasilnya nihil. Kaisar Alex menghembuskan nafas kasar, sialnya dia sama sekali tidak membawa pengawal ataupun pelayan.
Kaisar Alex yang sudah merasa lelah, geram dan amarah yang mulai memuncak bercampur menjadi satu. Pada akhirnya ia memilih kembali ke aula istana. Dari arah berlawanan, Kaisar Alex melototkan matanya. Melihat di depannya seorang wanita dan seorang laki-laki yang saling berbincang dan sesekali tertawa. Bahkan sedari tadi dia mencari tidak menemukannya dan sekarang dia harus bertemu dengan cara seperti itu, lagi-lagi melihat mereka tertawa.
"Datang dari mana saja kalian?" tanya Kaisar Alex datar dan dingin.
Kedua orang itupun langsung menoleh dan sadar, sedari tadi mereka hanya fokus berbincang tanpa memperhatikan ke depan.
"Ah, Maaf Yang Mulia. Hamba hanya mengajak Permaisuri keluar aula." jawab laki-laki itu tersenyum sinis.
"Permaisuri macam apa kau? hah, seenaknya saja keluar acara. Padahal ini adalah acara penting," bentaknya geram melihat Permaisuri Anastasya yang bersikap acuh tak acuh.
"Maaf Yang Mulia, bukankah tadi selesai berdansa Yang Mulia meninggalkan Permaisuri. Bahkan Yang Mulia hanya fokus ucapan atas pernikahan Yang Mulia tanpa peduli ucapan para bangsawan terhadap Permaisuri," sindirnya seraya menarik bibirnya.
Kaisar Alex tertegun, benar tadi dia hanya fokus ucapan selamat dari bangsawan atas pernikahannya dan selesai berdansa itu pula dirinya langsung di hampiri oleh Elisha dan sejenak melupakan keberadaan Permaisuri.
"Apa Yang Mulia sudah mengingatnya?" tanya Pangeran Gabriel. Sementara Permaisuri Anastasya hanya diam melihat mereka saling menatap tajam. Pangeran Gabriel menatap tajam di iringi senyum mengejek. Sedangkan Kaisar Alex menatap tajam di iringi kemarahan..
"Tapi kalian sama saja meninggalkan pesta tanpa se ijinku," ucap Kaisar Alex.
"Yang Mulia, apa kau datang kesini hanya ingin membahas hal sepele ini? jika begitu aku rasa tidak perlu," ucap Permaisuri Anastasya hendak pergi.
"Dimana rasa terimakasih mu Permaisuri?"
Perkataan Kaisar Alex membuat Permaisuri Anastasya menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badannya, "Terimakasih??" Permaisuri Anastasya tersenyum kecut, "Terimakasih atas pernikahan baru Yang Mulia dan semoga hidup bahagia. Semoga secepatnya di berikan keturunan," ucap Permaisuri Anastasya seraya memberi hormat.
"Hamba sudah berterimakasih," ucap Permaisuri Anastasya datar dan membalikkan badannya, melanjutkan langkah kakinya.
Hahaha
Pangeran Gabriel tertawa mengejek, melihat Kaisar Alex menahan amarah yang mulai merah padam.
"Aku kasihan dengan diriku sendiri," ucap Pangeran Gabriel melangkah kan kakinya ke arah Kaisar Alex. Sesampai di hadapan Kaisar Alex ia menepuk bahu pundak Kaisar Alex, "Ck, ck, ck Jangan sampai Kaisar Alex jatuh cinta. Dia sudah menjadi milikku,"
"Heh, tapi Permaisuri menikah dengan ku. Bukan dengan mu."
"Ah, kenapa cuaca mendung sekali ya,"
Dengan usilnya Pangeran Gabriel menatap langit yang cerah. Ia memperhatikan ke atas.
"Bukankah pernikahan pasti ada perceraian,"
"Kau," Kaisar Alex menunjuk Pangeran Gabriel yang tidak menatapnya. Kaisar Alex mengeluarkan auranya, kabut ungu itu pun keluar dari tubuhnya.
bruk
Tubuh Pangeran Gabriel terbanting ke tembok, hingga tembok itu retak dan Pangeran Gabriel mengeluarkan darah di mulutnya. Ia bangun dan mengelap darah segar itu, sudah pasti dia akan terluka mengingat aura yang di keluarkan dari tubuh Kaisar Alex begitu kuat. Mata Kaisar Alex pun berubah ke emasan.
"Ternyata Yang Mulia mengeluarkan seluruh auranya," ejek Pangeran Gabriel.
Sementara Kaisar Alex merasakan sakit di dadanya, ia pun mengeluarkan darah segar.
"Sial !" geram Kaisar Alex..
"Yang Mulia," Suara itu membuat Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel menoleh...