
Selepas kepergian Pangeran Gabriel dan Anastasya, Duke Erland kembali dalam posisi semula. Ia pura-pura tidur terduduk.
"Hem, lepaskan Duke Erland dan berikan kamar ter nyaman di istana ini," perintahnya datar, mata laki-laki itu masih fokus melihat ke arah Duke Erland.
Kedua penjaga yang mengikuti laki-laki itu langsung membuka kunci pintu besi dan membantu Duke Erland berdiri.
"Untuk apa Yang Mulia datang kesini?" tanya Duke Erland tanpa menatap laki-laki di depannya itu, tentu ia tau siapa pemilik suara datar itu.
"Duke, aku tidak ingin bertengkar. Besok adalah hari penobatan Putri mu sekaligus pernikahan ku." jawabnya datar dan melangkah kan kakinya, hendak pergi.
"Apa Yang Mulia tida bisa melepaskan Putri hamba? apa Yang Mulia masih kurang menyiksanya?" Duke Erland menatap sesosok laki-laki di depannya, ia tersenyum kecut, "Selama ini Putri hamba tersenyum di atas kesakitan yang ia alami. Jika hamba memaksanya untuk bercerai, Dia selalu berkata, "Jangan khawatir Ayah, suatu saat Yang Mulia akan mencintaiku? hah, lalu apa sekarang?"
Mendengar perkataan Duke Erland membuat Kaisar Alex diam membeku, nyatanya memang benar selama ini, ia selalu mengabaikan Ratu. Lalu apa sekarang dia tidak bisa melepaskannya? ada apa dengan dirinya?
"Putri hamba sudah membenci Yang Mulia. Hamba bersyukur, cinta yang dulu tulus sekarang sudah berubah menjadi benci," sambung Duke Erland tersenyum sinis.
Deg
Kaisar Alex mengepalkan tangannya. Hatinya tidak suka dengan perkataan Duke Erland. Jika bukan karna Duke Erland adalah mertuanya, sudah ia jadikan abu pada saat itu juga.
Kaisar Alex langsung pergi, ia mengabaikan Duke Erland. Percuma saja menjawab Duke Erland. Semuanya akan tetap sama. Sebaiknya ia beristirahat karna esok pagi adalah hari pernikahannya. Namun saat sampai di kamarnya, ia malah melihat sesosok laki-laki yang berdiri di arah jendela. Pantulan sinar bulan memperlihatkannya dengan jelas siapa laki-laki itu.
"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Kaisar Alex.
"Tidak ada, aku hanya memastikan," laki-laki yang tak lain Pangeran Gabriel membalikkan badannya, "Aku hanya memastikan, sudah bahagiakan diriku," ucapnya.
Seketika Pangeran Gabriel tertawa, "Aku ingin kau bercerai dengannya,"
"Diam," bentak Kaisar Alex menatap tajam, "Dan jangan pernah bermimpi aku akan melepaskannya," sambungnya lagi.
"Kenapa, apa seorang Kaisar yang dulu mengabaikannya telah jatuh cinta. Tapi sayang dia tidak mencintai Yang Mulia. Justru membenci Yang Mulia."
"Hempaskan,"
Seketika Pangeran Gabriel tubuhnya melayang ke arah tembok dan membenturnya dengan keras.
Pangeran Gabriel berusaha berdiri, ia melihat laki-laki di depannya dengan meremehkan. Sudah pasti jika dirinya sakit. Pasti tubuh laki-laki itu akan sakit. Namun di tahan.
"Dia akan mencintaiku, tapi membenci dirimu. Camkan itu," ucap Pangeran Gabriel dengan penuh penekanan. Lalu menghilang dalam sekejap mata.
Darah Kaisar Alex mendidih. Ia mengeluarkan kekuatannya. Lukisan yang tadinya menempel di dinding kini jatuh kelantai dan pecah. Jam yang tadi berdetak kini mati dan jatuh kelantai.
"Tidak ada yang menyentuhnya selain diriku," ucap Kaisar Alex memperlihatkan urat tangannya.
Sementara disisi lain.
Terlihat seorang wanita melihat pantulan tubuhnya di cermin. Hatinya senang, bahkan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Selain menjadi istri sang Penguasa, ia juga bisa hidup mewah tidak seperti dulu. Wanita itu teringat akan dirinya yang hidup susah. Setiap saat wanita itu harus bertengkar dengan suaminya dan mendengarkan anaknya yang menangis dan untunglah pada saat itu ia kabur dan bertemu dengan Kaisar Alex. Hingga ia memasang kebohongan dan Kaisar Alex mempercayainya. Membuatnya jatuh cinta.
"Hahaha, aku tidak akan hidup susah lagi. Memang benar aku mencintai Kaisar Alex. Melihat ketampanannya saja sekaligus sang Penguasa siapa yang tidak tergiur dan setelah itu aku akan membunuh wanita itu, sehingga aku lah yang menjadi satu-satunya di istana ini." ucapnya tersenyum sinis.