Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Menjadi Istri Kedua Tuan Viscount Elca



17 Tahun kemudian ...


Seorang gadis tengah memakan permen gula. Gadis itu memakai gaun sederhana tidak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Bahkan orang tidak akan sadar jika dia anak dari Putri Maya dan Duke Rachid, Nona yang terkenal kecantikannya. Karena kecantikannya itu lah sang ibu selalu mengekangnya, tidak memperbolehkannya keluar rumah. Bahkan gadis itu sering merengek pada sang Ayah. Sama saja sang ayah, Duke Rachid juga tidak memperbolehkannya. Ia takut gadis kecilnya akan memiliki banyak incaran. Ralat, banyak penggemar. Ia tidak ingin sang putri yang hidupnya tentram tiba-tiba terusik dengan lelaki. Biarlah nanti dia yang akan memilih untuk putrinya itu. Sebenarnya Duke Rachid tidak tega mengekang putrinya, namun mau bagaimana lagi. Dia mengingat teriakan sang istri yang mempertaruhkan nyawanya. Tidak ingin membuat sang istri menangis karena ulahnya.


Gadis itu sangat fokus, ia tak memperdulikan sekitarnya dan terus menyantap permen gula berwarna merah itu. Semenjak sang Kakek berkerja sama dengan Kekaisaran seberang, Kekaisaran Feng. Banyaknya ekspor dan impor membuat kekaisarannya sejahtera dan makmur kini tidak ada lagi rakyat yang mengemis. Semua anak yatim piatu atau orang yang hanya tinggal sendiri kini memiliki rumah. Bagi seorang wanita dan laki-laki yang hidup sendiri akan di pisah mereka di berikan sebuah ladang untuk meneruskan kehidupannya. Dan kini, sang Kakek, Kaisar Alex juga melakukan kerja sama dengan Kekaisaran seberang.


"Nona, mari kita pulang." Mery menoleh ke kanan dan ke kiri. Mulut dan matanya tak pernah berhenti melihat sekelilingnya dan berdoa. Dia berharap tidak ada orang yang melihatnya. Bukan pertama kalinya, Mery mengikuti sang Nona yang keluar diam-diam. Ia takut Duchess Maya akan mengeluarkan tanduknya.


"Nona, ayo. Sebentar lagi akan kedatangan tamu dari Kekaisaran seberang." Ujar Mery. Tak heran ia melihat banyak warga yang sedang menunggu bangsawan dari kekaisaran seberang. Rumornya para lelaki bangsawan seberang memiliki ketampanan yang tak kalah tampannya dengan Kaisar Alex hingga para wanita memolek dirinya , siapa tau laki-laki dari kekaisaran seberang akan meleleh ketika melihatnya.


"Sudahlah, ini masih jam berapa. Biarkan saja. Lagi pula kita langsung ke istana. Ayah dan ibu tidak akan menyadari keberadaan kita."


"Kenapa ayah dan ibu tidak memiliki anak lagi sih, kan aku tidak perlu di kekang." Sungut Michelia seraya mengunyah permen gula itu.


"Hush, Nona tidak boleh berpikir seperti itu. Berarti Duchess sangat menyayangi Nona." Ujar Mery. Sebenarnya Duchess ingin mempunyai anak lagi, namun Duke Rachid selalu menghindar jika menyangkut anak. Bahkan dia pernah memarahi Duchess Maya yang ingin memiliki anak lagi. Baginya teriakan dan tangisan Duchess Maya membawa perih di hatinya. Hingga dia trauma memiliki anak lagi. Jadilah Duchess Maya dan Duke Rachid menjadi posesif terhadap Nona Michelia.


"Huh, sudahlah aku ingin jalan-jalan." Ujarnya.


Nona Michelia pun berjalan, sesekali dia berhenti di depan pedagang mencicipi kue dan roti yang di buatnya. Hingga tatapannya berhenti di salah satu kedai. Tanpa sadar Michelia meninggalkan Mery yang tengah di sibukkan membayar makannya. Michelia memasuki kedai itu, hanya ada kalangan rakyat biasa. Dia bisa menghirup aroma kebebasan.


"Hay, Nona. Apa ingin bergabung?" tanya seorang laki-laki yang langsung di angguki oleh Michelia. Dia pun menuju kerumuan orang yang menari ala biasanya. Tidak ada dansa dan hanya mengandalkan tarian sesukanya.


Michelia berlenggok-lenggok dengan tubuh rampingnya, sesekali tangannya ke atas dan mengikuti alunan irama itu. Irama itu pun terus berlanjut, hingga ia sadar saat matanya menangkap jam yang menggantung di dinding itu.


"Astagah ! aku lupa. Bagaimana dengan Mery." Michelia keluar dari kedai itu, kepalanya melihat sekelilingnya, sosok yang ia cari menghilang. Michelia kembali ke arah pedagang yang terakhir kalinya, namun tidak ada Mery.


"Oh tidak, dimana Mery?" Michelia tidak tinggal diam, ia langsung mencari keberadaan Mery. Menerobos kerumuan orang-orang.


"Mery," teriaknya menggema hingga semua orang menoleh ke arahnya.


"Maaf Mery aku ceroboh, sebaiknya kita kembali."


"Ah Tuan, maaf atas kesalahan teman ku." Ujar Michelia tanpa melihat ke arah laki-laki di depannya. "Lain kali aku akan menebus kesalahan teman ku." Sambungnya lagi memberikan hormat layaknya putri bangsawan. Setelahnya, dia menarik tangan Mery menjauhi kerumuan orang itu.


Laki-laki itu hanya mengedipkan matanya, menatap langkah kaki yang semakin menjauh. Jantungnya berdetak hebat seakan dia menari, ada rasa senang di dalam hatinya. Entah karena apa?


"Kakak." Gadis itu menyadarkan lamunannya dengan menepuk bahunya. "Apa yang Kakak lihat?"


"Ah, tidak ada. Ayo." Laki-laki itu membalikkan badannya. Sebelum dia menaiki tangga kereta. Ia melihat ke arah gang sempit itu, dimana gadis kecil yang ia lihat tadi menghilang di balik gang yang tak jauh dari matanya.