Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
S4 : Menghindari


Tak terasa pesta ulang tahun Anabella telah tiba. Duke Elios, Caroline, Viscount Elca, Anabella serta Liera tengah menunggu kedatangan seorang bangsawan, mereka tak ada henti-hentinya menatap ke arah pintu.


Sementara Viscount Elca meremas tangannya, dadanya semakin menggila. Ia gugup bertemu dengan seorang gadis yang sudah lama ia rindukan dan sekarang mereka akan bertemu.


Anabella menggenggam tangan sang kakak agar ia tidak salah tingkah ketika bertemu dengan Michelia. Semakin Viscount Elca mempererat tangannya, semakin Anabella merasa kasihan padanya. Seseorang yang ia cintai harus ia pendam sedemikian dalam hanya demi seorang gadis yang berada di sampingnya. Meskipun di tidak mencintainya, tapi ia berfikir. "Wanita sangat lemah, ia harus menghargainya." Itu lah pedomannya hingga menerima permintaan Ayahnya, Duke Elios. Anabella melirik ke arah Liera, rasanya ia ingin meminta Liera melepaskan kakaknya. Namun hatinya tak sampai mengingkari permintaan Viscount Elca. Dulu ia pernah berniat memohon padanya. Tetapi Viscount Elca bersikeras melarangnya.


"Elca, kamu kenapa?" tanya Baron Knight. Lelaki itu menjalani hidupnya seorang diri. Semenjak Ariana telah menikah, dia menjalani hidupnya sendiri, namun Caroline selalu menjenguknya tiap akhir pekan.


"Tidak apa Kakek, aku hanya gugup saja." Ujarnya dengan ramah.


Liera memalingkan wajahnya, sebisa mungkin ia tidak menunjukkan air matanya. Lukisan yang ia lihat pertama kali membuatnya hatinya hancur. Ia menghapus air matanya, lalu melihat ke depan tanpa melihat suaminya. Semkin ia melihat wajah Viscount Elca, semakin dia merasakan sakit di hatinya.


Sesaat kemudian, teriakan menggema jantungnya semakin berdebar, matanya lurus melihat ke depan melihat seorang wanita memakai gaun ungu dengan bergandengan tangan bersama Pangeran Almeer.


Tanpa terasa, wanita itu kini berada di depannya. Memberikan salam padanya dan juga yang lainnya.


"Viscount." Duke Elios membuyarkan lamunan putranya. Ia merasa canggung melihat Viscount Elca menatap Nona Michelia. Ia berharap semoga saja kedua orang tuanya tidak curiga dengan kelakuan putranya itu.


Liera menatap wanita di depannya dengan bibir gemetar dan air mata yang menggenang. Ia langsung memalingkan wajahnya. Ia memberikan kode pada pelayan setianya agar mendekat dan membawanya jauh dari keramaian.


"Apa nona ingin pergi?" tanya sang pelayan. Liera mengangguk dengan wajah menunduk. Ia pergi dari keramaian itu tampa mereka sadari.


"Apa kamu ingat pada ku Michelia?" batin Viscount Elca menatap sendu. Ia menunduk, Michelia tidak menatapnya sama sekali seakan mereka tak pernah bertemu.


Pangeran Almeer merasa tak suka dengan wajah Viscount Elca. Mulai dulu saat ia tengah memergoki keduanya, ia selalu menasehati Michelia agar tidak terperangkap ke dalam cintanya Viscount Elca yang sudah memiliki istri. Ia tidak akan pernah membiarkan adiknya menjadi wanita kedua, adiknya harus menjadi satu-satunya di dalam hati suaminya. Ia tidak pernah berfikir, laki-laki macam apa yang sudah memiliki istri tapi menatap cinta pada wanita lain.


Acara demi acara semakin berlanjut, Michelia menuju ke sebuah teras depan dengan membawa sebuah jus jeruk. Ia meminum jus itu seraya melihat pemandangan dari lantai atas kediaman Duke Elios, tidak heran kediaman yang terbilang bak istana dengan tanaman macam mawar serta pohon yang rindang, mengelilingi kediamannya.


Ia juga mendengarkan, Duke Elios sangat mencintai Caroline hingga membuat taman berbagai macam bunga mawar dan bunga tulip serta rumah kaca. Awalnya ia ingin menolak untuk ikut, hatinya merasakan tidak enak setelah berpelukan dengan Viscount Elca. Ia ingin mengatakan, jika dirinya terjerat dalam senyuman dan rasa nyaman dari Viscount Elca. Namun pikirannya menolak, dia tidak ingin menjadi wanita penghancur hubungan orang. Dengan tidak menatap wajah Viscount Elca, ia bisa menahan rasa sakitnya.


Michelia menghembuskan nafasnya, sejak kejadian itu bayangan wajah Viscount Elca tidak bisa ia hapus dari pikiran dan hatinya. Selama beberapa bulan ini ia juga memikirkan matang-matang, jika dirinya menginginkan Viscount Elca. Ia tidak ingin mengakui jika dirinya cinta, ia tidak ingin dan tak ingin. Menolaknya begitu keras, ia tak pernah menduga, jika dirinya akan merasakan jatuh hati untuk kedua kalinya, tetapi di tempat dan waktu yang salah.


"Nona Michelia." Panggil seorang laki-laki. "Ternyata tidak ada yang berubah, kamu tidak menyukai dansa." Ujar Viscount Elca.


Michelia melirik sekilas, ia rindu. Ingin sekali memeluknya. Namun pikirannya tak bisa. Michelia bergegas pergi, secepat kilat Viscount Elca meraih lengannya.


"Kenapa kamu seakan menghindari ku?" tanya Viscount Elca. Padahal waktu itu ia berharap banyak, Michelia memeluknya. Mencurahkan isi hatinya. Ia sangat berharap, dengan keterbukaan hati dari Michelia mampu membuka hatinya.


"Alangkah baiknya kita tidak saling mengenal." Michelia meraih tangan Viscount Elca supaya melepaskan lengannya.


"Kenapa? apa aku memang tidak pantas untuk mu?"


Michelia tersenyum, "Ada beberapa hal yang mungkin harus di mengerti." Ujar Michelia, membuat hati Viscount Elca di hujami ribu pisau.


Dari bawah pohon, seorang perempuan melihatnya interaksi keduanya. Ia mengepalkan tangannya, tidak akan mudah baginya menerima Viscount Elca bersama wanita lain.