
Dengan rahang yang mengeras, Pangeran Almeer menuju ke arah Michelia. Ia tidak terima dengan perkataan Liera. Hatinya panas dingin, ia sangat tidak menerimanya. Wanita yang ia sayangi, harus menjadi istri kedua. Lelucon macam apa yang Viscount Elca berikan. Tidak akan semudah itu, selama dia masih hidup. Jika pun mati, dia tidak akan membiarkannya.
Viscount Elca menoleh, ia menatap tajam ke arah wanita yang memegang pergelangan tangannya. "Lepaskan !"
"Maaf Pangeran, tolong jangan lakukan ini. Jangan sampai Duke Rachid dan Duchess Maya tau." Ujar Anabella. Ragu-ragu dia melepaskan pergelangan tangan Pangeran Almeer.
"Dia tidak berhak mengatakan lelucon itu, siapa dia? siapa dia hingga menjadikan adik ku istri kedua." Pangeran Almeer tertawa. "Sekali pun aku mati, aku tidak akan membiarkannya."
"Sudah cukup dia menangis kehilangan orang di masa lalunya." Pangeran Almeer rasanya ingin menangis, hatinya tidak kuat mengingat betapa menyedihkan adiknya kehilangan tunangannya.
Aku salut dengan rasa cinta Pangeran Almeer. Seandainya wanita itu juga aku, pasti aku beruntung batin Anabella.
Kemudian ia menggelengkan kepalanya, sekarang bukanlah waktunya memikirkan hal itu. "Aku mohon, kita bicarakan baik-baik." Ujar Anabella.
"Baik, panggil Kakak mu. Aku akan membicarakannya di taman belakang." Ujar Pangeran Almeer berlalu pergi.
"Pangeran tunggu !" Anabella mengejar Pangeran Almeer, tanpa sengaja gaun depannya terinjak oleh kakinya hingga ia terhuyung ke depan.
Secepat mungkin Pangeran Almeer menangkap tubuh Anabella. Sehingga manik keduanya bertemu. Sejenak mereka diam merasakan detak jantung mereka yang begitu cepat. Pangeran Almeer tersadar, ia melepaskan tubuh Anabella, lalu terjatuh ke lantai.
Aaaa
Anabella menganga merasakan bokongnya sakit. Ia mendonggakkan wajahnya. "Bisakah Pangeran melepaskan diri ku secara baik-baik." Bentaknya kesal. Ia berdiri seraya memegang bokongnya.
"Aku tidak ada waktu meladeni mu, cepat panggil kakak mu." Ujar Pangeran Almeer meninggalkan Anabella yang ingin mengomel kembali.
"Untung saja tampan," gumamnya. Ia melangkah dengan hati-hati menuju kamar Viscount Elca.
"Kakak,"
"Ada apa?" tanya Viscount Elca berpura-pura memejamkan matanya.
"Pandai sekali kakak berpura-pura. Cepat Es dingin ingin bertemu dengan kakak."
Viscount Elca mengkerutkan keningnya. "Es dingin?"
"Salam hormat Pangeran." Ujar Viscount Elca.
Pangeran Almeer membalikkan tubuhnya. Langsung saja ia melayangkan tinjunya di wajah Viscount Elca.
"Kakak." Teriak Anabella membantu Viscount Elca berdiri. Darah segar keluar dari mulutnya.
"Apa maksud mu, hah? menjadikannya istri mu. Jangan pernah bermimpi." Bentak Pangeran Almeer.
Viscount Elca berdiri dengan di papah Anabella. Ia menatap Pangeran Almeer. "Apa aku salah memperjuangkannya?"
Pangeran Almeer menggertakkan giginya. "Salah, sangat salah."
Bruk
Sekali lagi Pangeran Almeer melayangkan tinjunya. Viscount Elca kembali jatuh ke tanah, sedangkan Anabella sudah menangis. Ia tidak tega melihat wajah sang kakak yang lebam.
"Dia wanita yang aku sayangi, dengan mudahnya kamu menyuruh istri mu memintanya menjadi istri ke dua. Kamu sudah beristri dan sebentar lagi memiliki seorang anak. Dimana hati mu?" teriak Pangeran Almeer. "Aku tidak pernah rela,"
Pangeran Almeer memejamkan matanya. "Jauhi adik ku,"
"Tidak akan ! aku sudah memulainya, aku tidak akan pernah menyerah."
"Apa kamu gila, hah?"
"Aku memang gila, aku gila pada Michelia."
Pangeran Almeer tak habis pikir dengan pikiran laki-laki di depannya. Betapa brengseknya dia membiarkan istrinya menahan sakit hati. Pangeran Almeer berlari hendak melayangkan tinjunya. Anabella memohon dengan sangat, berdiri di samping Pangeran Almeer dan menahan lengan Pangeran Almeer yang menarik kerah baju Viscount Elca.
"Aku mohon jangan lukai kakak ku. Aku akan menjaga kakak ku." Ujar Anabella.
Pangeran Almeer terdiam sejenak, hatinya tidak tega melihat wanita di sampingnya menangis. Dia tidak tau ada apa dengan hatinya, tidak biasanya dia seperti itu. Siapa pun yang menyakiti Michelia pasti dia akan menumpas sampai ke tulang-tulangnya.
"Berhenti Pangeran." Teriak seseorang.