Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3 : Rumor


Hilda menunduk, ia ingin jujur tapi ketakutan membuatnya semakin mengatupkan kedua bibirnya.


tok


tok


tok


"Masuk." perintah Duke Rachid datar.


Seorang pelayan masuk di sertai kegugupan, apa yang di pikirkannya. Semoga saja belum terjadi dan belum terlambat.


"Maaf Yang Mulia, mengganggu waktunya. Nona Hilda di tanyakan oleh Nyonya Diane." ujar pelayan itu seraya melirik ke arah Hilda.


"Baiklah, kita akan melanjutkannya pembicaraan kita lain kali." ucap Duke Rachid melihat ke arah pelayan. "Dan kamu tunggu di sini."


"Baiklah Paman, tapi untuk apa Eve disini Paman?" tanya Hilda semakin ketakutan.


Duke Rachid menatap tajam ke arah Hilda. "Cepatlah, kasian Bibi menunggu mu." ucapnya dingin.


"Ba, baik Paman." balas Hilda dengan wajah yang mulai pias.


Setelah kepergian Hilda,


plak


Tamparan keras itu langsung menuju ke arah pipi pelayan Eve. Duke Rachid bukan hanya ingin menamparnya saja, tapi ia ingin menebasnya. Namun mengingat Hilda begitu menyayanginya pelayan di depannya itu. Ia tidak begitu tega membuat Hilda bersedih.


"Ini semua gara-gara kamu. Jika bukan kamu yang mengada-ngada semuanya tidak akan terjadi." teriak Duke Rachid dengan tajam. Tangannya mulai tak terkendalikan ia langsung melayangkan ke arah leher pelayan Eve. Pelayan Eve tetap diam, karna dirinya semakin ketakutan.


Nona batin Eve


"Yang Mulia." ucap pelayan Eve terbata-bata. Padahal tadinya ia sudah bersyukur Duke Rachid melepaskan majikannya, tapi sekarang malah dirinya terjebak.


"Hamba tidak mengada-ngada Yang Mulia. Benar, Putri Maya memang membentak Nona." ucapnya masih di sela-sela cekikan Duke Rachid.


"Jika sampai kamu ketahuan berbohong, aku tidak segan menebas kepala mu. " Duke Rachid melepaskan tangannya. "Tapi aku tidak pernah mempercayai ucapan mu. Pergi !" bentak Duke Rachid.


Pelayan Eve langsung memberi hormat dan pergi dari ruangan itu dengan buru-buru, dalam hatinya ia bersyukur terlepas dari cengkraman Duke Rachid.


"Untung saja." ucap Pelayan Eve yang sudah menjauh dari kamar Duke Rachid.


"Apa yang kamu katakan tadi? Bibi tidak memanggil ku." ujar Hilda merasa keheranan. Tidak biasanya Eve berbohong padanya.


"Seharusnya Nona bersyukur. Duke Rachid melepaskan Nona. Jika Duke Rachid tau semuanya, sudah pasti Nona tidak akan mendapatkan kesempatan lagi." balas pelayan Eve.


"Sebaiknya Nona kali ini harus berfikir keras, bagaimana caranya Duke Rachid bisa bersama Nona."


"Aku tidak pernah menyuruh mu berbohong," bentak Hilda.


"Nona maaf, tapi hamba melakukan ini untuk Nona." ucap pelayan Eve dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana jika Paman tau, justru Paman bertambah membenci ku."


"Untu sebab itulah Nona harus merahasiakannya. Jangan sampai Duke Rachid tau semuanya. Jika pun Duke tau masalah ini, dia juga akan membenci Nona. Karna Nona lah penyebab hancurnya hubungan Putri Maya dengannya. Nona hanya perlu tinggal selangkah lagi." ucap pelayan Eve seraya memegang pipi merasakan pans perih. Ia pun memberi hormat dan berlalu pergi.


Ke esokan harinya..


Terlihat ketua Pelayan yang sedang terburu-buru. Sesekali ia membetulkan kaca matanya. Nafasnya naik turun menahan lelah. Sedari tadi ia berlari kecil, informasi ini sangat penting untuk di sampaikan pada majikannya.


"Hamba ingin bertemu dengan Yang Mulia Duke," ucap pria paruh baya itu.


"Untuk apa? Yang Mulia Duke tidak ingin berbicara pada siapa pun." ucap salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan kerja Duke Rachid.


"Maaf Tuan Kesatria, tapi ini masalah tentang Putri Maya." tutur pria paruh baya itu sambil mengatur nafasnya.


Kedua pengawal itu saling menatap, "Ayo ikut." ucapnya seraya membuka pintu ruangan itu.


Kedua orang itu pun masuk menahan aura kedinginan, ruangan itu begitu menyeramkan. Layaknya sebuah ruangan yang berpenghuni seorang Iblis. "Beraninya kalian datang kesini." perkataan tegas dan dingin itu, membuat kedua orang itu langsung merinding.


"Ampun Yang Mulia. Ketua pelayan hanya menyampaikan kabar tentang Putri Maya." ucap sang pengawal terbata-bata.


"Katakan apa yang kamu dengar, setiap perkataan mu adalah nyawa mu." ucapnya.


"Yang Mulia, di Ibu Kota sudah tersebar rumor jika Yang Mulia Duke dan Putri Maya telah memutuskan pertunangan."


Brak


Seketika meja besar itu hancur, semua berkas melayang dimana-mana. Tembok yang tadinya kokoh langsung retak. "Siapa pun yang menyebarkan rumor ini, langsung penggal kepalanya." teriak Duke Rachid. Pikirannya bertambah takkaruan, ia tidak bisa tinggal diam saja. Ia harus menemui Kaisar Alex dan Permaisuri Anastasya.