Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 39_Apa Yang Mulia cemburu?


Sementara di istana, terlihat laki-laki kebingungan, khawatir, marah campur aduk. Laki-laki itu menyilangkan kedua tangannya di pinggangnya yang lebar. Sesekali laki-laki itu melihat ke arah gerbang istana.


"Hormat hamba Yang Mulia," ucap laki-laki menunduk hormat.


Laki-laki yang tak lain Kaisar Alex hanya menghembuskan nafas kasar, "Bagaimana?" tanya Kaisar Alex dengan tatapan mengintimidasi. Sedari tadi ia merasa resah mengingat Permaisuri Anastasya yang belum muncul batang hidungnya. Saat Kaisar Alex menyuruh pelayannya memanggil Permaisuri. Justru pelayan yang ia suruh mengatakan jika Permaisuri Anastasya tidak ada di kamarnya. Bahkan pelayan Mery, Enzo dan Enzi juga tidak ada di kamarnya.


Saat itulah emosinya mulai keluar, tanpa se ijinnya. Permaisurinya keluar istana.


"Yang Mulia, hamba melihat di jalan kereta Permaisuri telah menuju ke istana. Jadi hamba merasa Permaisuri telah kembali."


"Lalu Permaisuri kemana?"


"Permaisuri hanya mengunjungi kota Yang Mulia."


Selang beberapa saat, Kereta istana yang di tumpangi Permaisuri memasuki gerbang. Mata Kaisar Alex beralih menatap tajam kereta itu.


Lalu seorang wanita cantik turun dari kereta dengan anggunnya di ikuti pelayan Mery, Enzo dan Enzi.


Sementara Kaisar Alex membulatkan matanya, seakan bola mata itu akan keluar tak kala ia melihat Duke Rachid dan seorang pemuda yang turun dari kuda.


"Permaisuri," teriak Kaisar Alex, matanya masih lurus melihat Permaisuri Anastasya menuju ke arahnya.


Anastasya hanya menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa dia ada di sana," ucap Anastasya dengan perasaan kesal. Pasalnya ia harus melihat muka tembok Kaisar Alex.


Jujur saja, seketika tubuhnya merinding melihat tatapan Kaisar Alex. Namun ia harus menguatkan dirinya agar tidak takut terhadap aura Kaisar Alex.


"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Anastasya di ikuti mereka. Namun Kaisar Alex hanya mengabaikannya.


"Siapa dia?" tanya Kaisar Alex menunjuk ke arah laki-laki di samping Duke Rachid. Rasa penasaran mulai menguap di hatinya itu.


"Dia, pengawal hamba." jawab Anastasya asal.


Ad apa lagi sih kain lap ini gerutu Anastasya di dalam hatinya.


Kaisar Alex melihat laki-laki itu dari bawah ke atas, jika di lihat pasti laki-laki di depannya juga tau ilmu pedang.


"Baik, Permaisuri boleh menjadikan dia pengawal asalkan dia harus melawan ku dulu." ucap Kaisar Alex tersenyum menyeringai.


"Hah," Anastasya membulatkan mulutnya.


Tentu saja dia terkejut, bagaimana mungkin laki-laki yang baru dia kenal harus melawan Kaisar Alex. Bagaimana jika dia kalah? hancurlah harapannya.


"Ba, bagaimana bisa? dia hanya tamu hamba yang hamba undang ke istana," ucap Anastasya dengan gugup.


"Dan kau Duke Rachid, bawa laki-laki itu ke rumah mu," perintah Kaisar Alex, ia pun menarik lengan Anastasya menuju ke kamarnya.


"Lepaskan Yang Mulia," ucap Anastasya meringis kesakitan ketika lengannya di cengkram kuat oleh Kaisar Alex.


Kaisar Alex langsung menghempaskan tubuh Anastasya di tempat tidurnya, Anastasya pun beranjak duduk. Ia takut jika Kaisar Alex berbuat macam-macam dengannya.


"Hah, siapa lagi yang akan kau bawa ke istana ini. Apa selanjutnya Duke Rachid yang akan kau bawa ke istana?" tanya Kaisar Alex berdecak pinggang seraya menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin memukul kedua ******** itu dan sekarang harus menambah ******** lagi di dekat Permaisurinya.


"Jangan lupakan kontrak kita Yang Mulia," ucap Anastasya seraya memutar bola mata jengah.


Kaisar Alex yang terus di sudutkan dengan perkataan Permaisuri Anastasya ia tidak terima. Lantas ia melangkah kan kakinya menuju ke arah meja yang tak jauh dari tempat tidurnya. Di sana hanya terdapat beberapa buku saja.


Ia mengambil sebuah berkas dan membukanya di hadapan Anastasya. Berkas itu berisi tentang perjanjian yang mereka sepakati.


"Ini kan yang dimaksud Permaisuri," ucap Kaisar Alex seraya menunjuk bertas yang ia pegang di tangan kirinya.


"Nah, itu dia." jawab Anastasya santai.


Srek


Tanpa berfikir panjang Kaisar Alex merobek surat kontrak itu di hadapan Anastasya. Tentu saja Anastasya terkejut. Di kertas itu juga sudah tertulis kehidupan masing-masing yang tidak akan saling berkaitan.


"Sekarang surat kontrak ini sudah tidak sah lagi. Jadi setiap Permaisuri ingin apapun harus melaporkan pada ku dan ya, satu lagi. Aku tidak menerima laki-laki itu."


"Tidak justru hamba yang rugi. Seenaknya saja Yang Mulia melakukan ini. Hamba tidak bisa bebas berhubungan dengan siapa pun sementara Yang Mulia bisa bebas berbuat semau Yang Mulia." kesalnya dengan suara dingin.


"Aku tidak akan melarang Permaisuri melakukan apapun, tapi tidak membawa laki-laki lain ke istana ini." Kaisar Alex menaiki ranjangnya ia mendekatkan wajahnya ke wajah Anastasya. Menatapnya begitu lekat, Hingga Anastasya mundur sedikit demi sedikit.


Kaisar Alex menggerakkan tangannya ke rambut Anastasya, ia menggulung rambut itu dengan jari telunjuknya lalu menciumnya. Aroma wangi dari rambut Anastasya membuat hatinya tenang.


"Dan ingatlah tentang status Permaisuri yang sudah bersuami. Aku bisa saja meminta hak ku saat ini juga."


Seketika Anastasya menutupi kedua dadanya dengan tangan yang menyilang, "Jangan berbuat macam-macam, Yang Mulia sudah memiliki Elisha." ucap Anastasya merasa kesal. Menyebut nama Elisha dari mulutnya membuatnya merasakan jijik sendiri.


"Apa Yang Mulia cemburu?" tanya Anastasya. Tanpa sadar kata itu keluar dari mulutnya yang membuat Kaisar Alex diam seketika.


Anastasya menaikkan salah satu alisnya, tidak mungkin seornag Kaisar Alex yang tidak mencintai istrinya merasakan cemburu. Anastasya langsung turun dari ranjang Kaisar Alex melewati sampingnya. Sementara Kaisar Alex tersenyum kecil. Langsung saja Kaisar Alex menarik lengan Anastasya hingga jatuh ke dekapannya.


Tatapan mereka pun saling mengunci satu sama lainnya.