
Sebulan telah berlalu, Putri Maya merawat Duke Rachid dengan telaten. Ia hanya pulang setelah malam hari tiba, kadang Putri Maya menginap di kediaman Duke Rachid dengan pelayan Ana. Dan selama sebulan itu pula Duke Rachid telah sembuh. Namun mata sebelahnya di nyatakan buta. Tentu saja kebutaan itu membuat Duke Rachid malu dia tidak bermaksud meneruskan pertunangannya. Ia tidak ingin membuat keluarga Kekaisaran malu, tapi setelah Putri Maya meyakinkan dirinya. Jika cinta tak pernah memandang apa pun dan tentunya Kaisar Alex, semua keluarga istana meyakinkan Duke Rachid. Jika mereka menerima Duke Rachid tanpa adanya kekurangan. Duke Rachid pun amat sangat bahagia, akhirnya ia bersama dengan Maya, Maya ku.
"Hormat hamba, Putri. Pestanya telah siap." Ucap seorang pelayan.
Mery dan Ana pun tersenyum, ia menuntun Putri Maya berjalan menuju ke aula. Semua orang di aula tampak riuh, mereka bahagia. Semua skandal tentang hubungan mereka. Kini membuahkan hasil. Duke Rachid menyodorkan tangannya, kemudian mengecup singkat punggung tangan Putri Maya dan kini mereka telah mengikat sebuah janji suci. Duke Rachid pun membuka penutup kepala Putri Maya dan mencium sekilas bibir lembutnya.
Tepukan tangan di ruangan itu menggema, terlihat seorang gadis yang tak jauh dari mereka tersenyum bahagia. Sesekali gadis itu menghapus jejak air matanya.
"Dia sudah bahagia." Seru seorang wanita paruh baya, sambil menepuk pelan bahunya.
"Benar, Bibi. Paman sudah bahagia." Ucapnya tersenyum, walaupun hatinya masih merasakan sakit, tapi sebisa mungkin ia harus melupakan sesosok laki-laki di depannya itu.
Setelah selesai acara perjanjian suci, mengikat sebuah tali pernikahan. Kini acara berdansa pun di mulai. Putri Maya dan Duke Rachid juga ikut berdansa, mereka saling tertawa dan melebarkan senyuman. Saling menggoda satu sama lainnya.
"Paman kita berhenti saja. Aku haus."
"Oh, baiklah. Paman akan mengambilkan jus untuk mu." Ucap Duke Rachid bergegas pergi. Padahal Putri Maya ingin mengambilnya sendiri, tapi keburu Duke Rachid telah meninggalkannya. Akhirnya ia menepi dan melihat Duke Rachid mengambil sebuah minuman.
"Putri Maya,"
Putri Maya menoleh, ia melihat seorang gadis dan seorang wanita paruh baya mendatanginya.
"Selamat atas pernikahan Putri Maya." Ucapnya tersenyum.
"Terimakasih Hilda." Sahut Putri Maya.
"Semuanya telah berlalu Bibi. Jadi lupakan saja." Balas Putri Maya tersenyum seraya memeluk Bibi Diane.
"Ehem.."
Putri Maya melepaskan pelukannya. "Sayang,"
Duke Rachid menarik lengan Putri Maya, ia memeluk erat pinggang Putri Maya. "Untuk apa Bibi dan Dia datang kesini."
"Jangan marah aku lah yang mengundang mereka."
Duke Rachid menatap ke wajah Putri Maya. "Sayang lain kali jangan mengundangnya. Ayo kita pergi." ucap Duke Rachid, ia menggandeng lengan Putri Maya.
Acara demi acara telah selesai, kini bulan telah menyapa, angin malam tengah menyambut dua insan yang saling menatap tanpa busana.
"Paman." ucap Putri Maya seraya meraba wajah Duke Rachid.
Duke Rachid meraih tangan Putri Maya dan menciumnya dengan lembut. Ia beralih mencium kening Putri Maya, lalu beralih ke bibir mungil Putri Maya, mencium dan ********** dengan lembut. Beralih ke lehernya, memberikan tanda kepemilikan.
"Aku sudah tidak tahan lagi.."
"Paman."
Duke Rachid menggendong Putri Maya ke atas kasurnya. Tanpa basa-basi ia langsung menancapkan kepemilikannya. Melihat Putri Maya meringis kesakitan, Duke Rachid menghapus jejak air mata di pipinya. Ia mencium dan ******* bibir Maya. Desahan demi desahan pun lolos keluar dari mulut Duke Rachid dan Putri Maya.