
Sepanjang malam Viscount Elca memikirkan perkataan Duke Elios. Bayangan wajah Michelia membuat jantungnya semakin berdebar. Benarkah dia mencintai Michelia? bagaimana jika Michelia tidak menerimanya karena telah berstatus memiliki istri dan anak? bagaimana dia bisa menyakiti seorang wanita yang sedang mengandung anaknya. Meskipun dia bukan anak kandungnya, tapi ia bisa merasakan bagaimana sakitnya tidak memiliki seorang ayah.
tok
tok
tok
Ketukan pintu itu membuyarkan pikiran dan lamunannya. Ia turun dari ranjangnya, lalu membuka pintu itu. "Ada apa?" tanya Viscount Elca melihat lima pelayan yang berdiri di depannya.
"Maaf tuan kami mengganggu, kami bermaksud melayani tuan." Ujar salah satu pelayan.
Viscount Elca melihat ke arah luar, ia baru menyadari matahari telah menggantikan sang bulan. "Baiklah." Ujarnya.
Viscount Elca pun langsung menuju ke kamar mandinya. Setelah selesai mandi, ia bantu oleh para pelayan itu untuk berpakaian. Sejenak ia mengingat istrinya, selama menikah. Liera melayaninya dengan baik. Menyiapkan semua keperluannya, dia tidak pernah mengeluh sedikit pun meskipun menggunakan kursi roda.
Seandainya ia tidak di perkosa oleh seseorang dan membuat kakinya patah karena melarikan diri. Tentunya dia tidak akan duduk di kursi dorong. Seharusnya gadis yang masih berumur 15 tahun itu, masih bermain dengan gadis seumurannya.
"Silahkan tuan," ujar salah satu pelayan menggiringnya ke ruang makan. Sesampainya di sana ia melihat semua orang berada di sana. Hanya dirinyalah yang terlambat. Ia duduk bersebelahan dengan ayahnya. Matanya menatap ke depan, melihat seorang gadis di sebelah sang adik.
"Baiklah, semoga kalian menikmati perjamuan ini." Ujar Kaisar Alex.
"Silahkan." Sambung Permaisuri Anastasya dengan ramah.
Semua orang pun makan dengan diam. Tidak ada yang bersuara sedikit pun. "O iya, Viscount Elca. Dimana istri mu?" tanya Kaisar Alex.
Michelia mendonggakkan wajahnya, menata ke arah Viscount Elca.
"Dia sedang sakit Yang Mulia." Ujar Viscount Elca seraya menatap ke arah Michelia. Melihat bola mata gadis yang kini berada di depannya, ia ingin menjelaskannya. Bahwa apa yang di katakan nya masih ada sesuatu yang tersembunyi.
Oh, jadi dia sudah memiliki istri.
"Katanya istri mu sedang hamil. Semoga lancar selama persalinannya." Timpal Permaisuri Anastasya.
Apa? dia calon ayah batin Michelia. Hatinya merasa tidak nyaman mendengarkannya.
Entah dorongan dari mana, Viscount Elca ingin mengejar Michelia. Hatinya merasa tidak enak melihat wajah Michelia yang tampak murung.
"Saya pamit dulu Yang Mulia."
"Oh, baiklah silahkan." Ujar Kaisar Alex dengan ramah.
Viscount Elca melihat sekeliling istana. Ia terus mencari keberadaan gadis yang membuatnya tak tenang. Matanya pun tertuju pada pelayannya yang kini berada di luar pintu rumah kaca.
"Apa nona mu ada di dalam?" tanya Viscount Elca dengan sopan.
"Maaf tuan, nona tidak ingin di ganggu." Ujar Mery. Hari ini peringatan tentang kematian calon tunangannya. Ia tidak ingin, majikannya di ganggu oleh sedikit pun.
Michelia semenjak kecil telah di jodohkan dengan seseorang. Walaupun dia tidak pernah keluar, namun sering sang tunangan menjenguknya di kediaman Duke. Hal itu bukanlah rahasia lagi, semenjak tunangannya meninggal di usia 10 tahun karena sebuah penyakit. Michelia pun selalu tersenyum, namun tak bisa di pungkiri hatinya merasa kehilangan. Menyimpan kesedihannya rapat-rapat. Sepanjang malam Michelia tidak bisa tidur, ia hanya bisa melihat sebuah lukisan. Semenjak itu, tidak ada lagi yang mengungkit tunangan dan namanya atau pun keluarganya.
"Aku hanya ingin bertemu dengannya." Ujar Viscount Elca.
"Maaf tuan, tolong mengertilah."
Tidak bisa di pungkiri. Dia merasa semakin tidak nyaman. Hingga menerobos masuk, tidak memperdulikan teriakan Mery. Ia meraih lengan wanita di depannya, lalu menatap wajahnya.
"Ada apa dengan mu?" tanya Viscount Elca melihat air mata yang membasahi pipinya. Viscount Elca pun memeluk Michelia, ia tidak memikirkan apa kejadiannya jika seseorang melihat ketidak sopanannya itu.
Michelia semakin terisak dalam tangisannya. Ia semakin menangis di dalam dekapan laki-laki yang bertubuh kekar itu.
Tidak jauh dari tempat itu. Sepasang mata melihatnya dengan geram. Ia hendak menuju ke sana. Namun di hentikan oleh sebuah suara.
"Pangeran." Dengan cepat ia memutar lehernya. "Maaf atas kelancangan saya dan maaf atas kelancangan kakak saya." Ujarnya dengan ketakutan.
"Aku tidak ingin ada rumor yang tidak-tidak dengan adik ku. Jaga kakak mu, jangan sampai adik ku terbawa. Dia harus menjaga statusnya." Ujar Pangeran Almeer dengan nada dingin.
"Maaf Pangeran, saya akan menasehatinya kakak dan .. "
"Hari ini aku maafkan, tapi tidak lain kali. Kakek dan nenek tidak akan memaafkan ketidak sopanan ini begitu pun dengan Duke dan Duchess." Ujarnya berlalu pergi. Untung saja ia menyusul adiknya. Jika tidak, mungkin Michelia tidak akan pernah mengatakannya. Ia tidak tau, semenjak kapan Michelia akrap dengan orang asing. Saat pertama kali melihat Viscount Elca. Ia juga merasa tidak enak dengan tatapannya pada Michelia.