
#Author salah nama ya, nama anak Caroline bukan Viola tetapi Anabella😌
Duke Elios memandang ke arah langit. Sepanjang malam dia memikirkan perkataan dari Caroline. Ia menoleh ke belakang, melihat sang istri yang tertidur pulas. "Apa yang harus aku lakukan jika perkataan Caroline benar. Viscount, apa kamu akan memarahi ku?" Duke Elios memejamkan matanya, air bening itu pun keluar. Apa yang harus dia lakukan? Duke Elios keluar dari kamarnya. Ia menuju ke kamar Viscount Elca yang tak jauh dari kamarnya.
Dia masuk ke dalam, melihat seorang laki-laki yang tidur pulas. Rasa bersalahnya semakin menjadi, tidak seharusnya dia dulu menyetujui permintaan terakhir temannya itu.
Duke Elios mengelus kepala Viscount Elca. Ia mencium keningnya, anak laki-laki sejak kecil yang selalu bersamanya. Meskipun dia bukan ayah kandungnya, tetapi wajahnya sangat mirip dengannya. "Sayang, maafkan Ayah." Ujarnya.
Karena merasakan sesuatu yang menetes ke pipinya, Viscount Elca membuka matanya. Ia terkejut mendapati sang Ayah yang berada di sampingnya seraya menangis. "Ayah," ia beringsut, lalu menatap khawatir. "Apa ada sesuatu yang mengganggu Ayah. Katakan Ayah," Viscount Elca merasa takut terjadi sesuatu pada Duke Elios, apa pun yang Duke Elios minta, pasti dia akan berusaha mengabulkan keinginannya.
"Tidak ada Ayah hanya takut. Ayah tidak tau, harus mengatakan apa pada Viscount Luis." Ujarnya.
"Ayah katakan apa terjadi sesuatu pada Ibu, pada Adik?"
Duke Elios menggeleng, seharusnya dia dulu tidak langsung menyanggupinya. "Maafkan Ayah Nak. Katakan apa kamu menyukainya?" tanya Duke Elios..
"Maksud Ayah?" mengerutkan keningnya.
"Apa kamu menyukai nona Michelia?"
"Hah," Viscount Elca tercengang. "Maksud Ayah apa? jangan bilang Ayah mencurigai Elca?" tuduh Viscount Elca.
"Benar, Nak. Jangan bilang kamu menyukainya. Ibu mu sangat khawatir." Tutur Duke Elios.
"Tidak Ayah, mungkin ibu salah paham."
"Apa kamu merasakan jantungnya berdetak? apa kamu merasakan gugup saat bersamanya?" tanya Duke Elios memastikan. Dulu saat bersama Caroline, ia juga merasakan hal aneh, ya bisa di bilang cinta. "Jawab Ayah dengan jujur,"
"Aku tidak tau Ayah, saat bertemu dengannya pertama kali, saat di kota. Saat itu aku merasakan jantung ku berdetak hebat. Sepertinya aku memiliki masalah dengan jantung ku, Ayah. Dan benar Ayah, aku merasakan sangat gugup." Jelas Viscount Elca dengan serius. Tidak ada yang bisa ia tutupi bersama sang Ayah. Apapun yang ia rasakan pasti ia selalu berbagi dengan Duke Elios.
"Ayah, mungkin itu hanya perasaan biasa saja." Kilah Viscount Elca merasa tidak yakin.
"Apa kamu merasakannya saat bersama Liera? "
Viscount Luis terdiam, ia memang tidak merasakan apa pun saat bersama Liera. Padahal selama ini dia sudah berusaha mencintainya, menerimanya. Namun hanya sebatas menerimanya bukan mencintainya, saat dia ingin menafkahinya dengan tubuhnya, ia tidak bisa melakukanya. Seakan ada tembok yang menjadi penghalangnya.
"Aku tidak pernah merasakan rasa aneh itu,"
Duke Elios terkekeh, dia bodoh. Kebodohan dua kalinya yang ia lakukan. "Kamu mulai menyukainya Nak."
"Tidak Ayah, mungkin aku hanya sebatas mengaguminya saja. Ayah kan tau sendiri rumor itu benar, dia sangat cantik."
"Kamu akan merasakannya saat kamu jauh Nak." Duke Elios tersenyum, ia mengelus pipi Viscount Elca dengan lembut. "Jika benar kamu mencintainya, Ayah akan meminta Liera untuk melepaskan mu. Mungkin Ayah egois, tapi suatu saat Liera pasti paham, cinta tidak boleh di paksa."
"Dulu ibu sangat menghormati Ayah, lalu aku harus seperti apa Ayah?"
"Tidak Nak, kamu berbeda. Ayah tidak akan memaksa mu."
"Meskipun terjadi, Duke Rachid tidak akan memberikannya pada ku Ayah. Jadi, Ayah tidak perlu khawatir."
Duke Elios berdiri, "Ayah akan memohon pada Duke Rachid jika itu memang terjadi. Ayah akan memohon pada nona Michelia agar menerima mu. Kebahagiaan mu kewajiban Ayah Nak."
"Tidak Ayah !" Viscount Elca tidak akan pernah membiarkan Ayahnya melakukanya hanya demi dirinya. "Aku tidak akan pernah membiarkan Ayah melakukannya."
"Viscount Elca, mungkin sekarang kamu belum menyadarinya Nak. Tapi suatu hari nanti, kamu akan merasakannya, jadi urusan mu, urusan Ayah. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan apa pun itu." Ujar Duke Elios berlalu pergi.