
5 Tahun kemudian.
Seorang anak kecil tengah berlari menghampiri sang ibu yang tengah hamil 7 bulan. Anak kecil itu pun memeluk kaki Michelia begitu erat. "Ibu,"
"Iya sayang," sahut Michelia melepaskan pelukannya dan sedikit berjongkok. "Apa kelas mu telah selesai?" tanya Michelia sambil mengusap kepalanya.
"Sudah, tapi ada wanita asing di depan. Tiba-tiba dia memeluk ku." Tutur anak kecil itu. "Dia sambil menangis, aku langsung menemui Ibu. Aku sangat takut."
"Sayang, jangan takut. Tidak akan ada yang menyakiti anak ibu di sini."
"Viscountess." Michelia mendongakkan wajahnya. Mulutnya menganga, ia melihat wanita yang selama ini menghilang tiba-tiba ada di depan mereka. "Liera,"
Wanita yang sudah hilang itu, dia memberikan hormat. Sedangkan Elca kecil semakin takut, dia bersembunyi di belakang tubuh sang ibu.
"Apa dia putra ku?"
"Sebaiknya kita duduk dulu." Ujar Michelia ramah. Ia menggandeng tangan Elca kecil sampai duduk di sofa empuk itu. Dia sangat senang dengan kedatangan Liera. Sudah sangat lama Liera tidak datang menemuinya.
"Dia sudah besar, aku tidak menyangka dia tampan." Liera tersenyum kecut. "Seandainya aku di sana, pasti aku bahagia." Entahlah akhir-akhir ini ia sangat membenci wanita di depannya. Sudah lima tahun berjalan, dia tidak bisa melupakan Viscount Elca sedikit pun. Rasa sakit dan cinta itu semakin bertambah. Dan dua bersyukur, dia sehat kembali seperti sedia kala. Beruntungnya dia di bawa oleh seorang keluarga Baron yang merasa kasihan padanya dan merawatnya sampai sembuh. Sekarang dia pergi dari keluarga Baron untuk memulai hidup yang baru.
"Dia sangat menghormati ku, menyayangi ku dan sekarang aku ingin menjemputnya." Ujar Liera tersenyum sinis. Dia ingin mengambil apa yang sudah menjadi miliknya dulu. Memang itu hal gila untuknya, tapi apa boleh buat. Dia ingin mengambilnya kembali.
"Apa maksud mu?" pekik Michelia tajam. Dia paham alur pembicaraan Liera. "Dia putra ku, dia tumbuh bersama ku." Sambungnya lagi. Dia tidak akan membiarkan Deros meninggalkannya.
Liera mengabaikan perkataan Michelia, dia menatap putranya. "Sayang, kamu ikut ibu ya. Dia bukan ibu kandung mu." Ujarnya dengan lembut. Bukannya malah senang, Deros semakin mengeluarkan air matanya.
"Cukup Liera," teriak Michelia sambil berdiri. "Aku kira kamu datang kesini sekedar menyapanya dan sekedar menjenguknya. Ingat ! Kamu yang menyerahkannya," sambungnya lagi.
"Aku memang menyerahkannya tapi bukan untuk memilikinya." Teriak Liera tak kalah tajam.
"Sayang ayo ikut ibu," Liera mendekati ke arah Deros.
"Cukup ! sebaiknya kamu keluar, sebelum aku mengusir mu secara kasar." Pekik Michelia. Tangan kanannya menunjuk ke arah pintu.
"Mimpi, itu tidak akan pernah terjadi."
Liera tersenyum sinis, "Aku akan datang kembali. Bilang pada Viscount Elca." Liera pun pergi dari kediaman Viscount. Inilah yang dia rencanakan. Membuat Viscount Elca menyayangi putranya, lalu mengambilnya secara paksa di saat dia menyayangi putranya itu. Dengan begitu, dia bisa membuat pilihan. Memilih bersama dengan Michelia atau putranya.
Maaf Nak, kamu membuat ibu mu semakin beruntung.
Kepergian Liera membuat Michelia syok, dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Dia salah sangka. Dia kira Liera benar-benar pergi. Namun nyatanya, dia kembali saat Dia dan Viscount Elca menyayangi putra angkatnya itu.
Mery yang baru saja datang dari ibu kota. Melihat wanita cantik yang dia kenal. Langsung buru-buru masuk. Ia takut terjadi sesuatu pada Michelia yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Viscountess," pekik Mery. "Sebenarnya ada apa?" tanya Mery pada tiga pelayan yang gugup.
"Liera kembali,"
"Apa ?" teriak Viscount Elca yang tak sengaja mendengarkan nama Liera. Sama halnya dengan Mery, ia begitu syok.
"Sayang,"
Mery menepikan tubuhnya ke samping Michelia.
Seandainya tadi dia menyuruh pelayan lainnya, dia sudah pasti akan merobek mulut Liera. Dia sangat yakin, Liera datang dengan sebuah kebusukan.
"Ada apa Sayang? apa yang terjadi."
"Ayah, dia wanita jahat membuat ibu sedih." Ujar Deros menimpali. Dia menangis sesegukan.
"Dia datang ingin membawa Deros."
Bagaikan di sambar petir, Viscount Elca mengepalkan tangannya. Dia langsung memeluk Michelia untuk menenangkannya. "Tidak akan terjadi apa-apa sayang. Dia tidak akan berani mengambil Deros, putra kita." Ujar Viscount Elca. Akhirnya yang di katakan oleh ibunya benar. Dulu sewaktu, Liera meninggalkan putranya. Ibu mertuanya, Duchess Maya pernah mencurigai Liera. Dia pernah mengatakan, Liera tidak akan mungkin memberikannya begitu saja. Apalagi mencintai seseorang lalu menyerah begitu saja. Dan sekarang terbukti, dia paham. Liera akan mengambil Deros, di saat dirinya dan Michelia menyayanginya.