Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Wanita Jalang


Sementara di kediaman Viscount Elca.


Michelia tak bisa menenangkan pikirannya, menyantap makanannya pun terasa hambar, ia rindu dengan kekonyolan Deros, celotehannya dan apa yang ada pada diri Deros. Viscount Elca pun mengerahkan beberapa pengawalnya untuk menyebar ke segala penjuru Ibu Kota. Bahkan penculikan Deros semua bangsawan pun tau. Ada yang mengatakan Deros kabur, ada juga yang mengatakan Deros di culik sang ibu. Semua desas desus tentang menghilangnya Deros kini menjadi topik pembicaraan hangat bagi kaum bangsawan.


"Sayang, aku akan melanjutkan pencarian Elca." Ujar Viscount Elca memecahkan keheningan. Ia meraih tangan Michelia di depannya. Menggenggamnya begitu erat.


"Jangan memaksakan diri mu. Lanjutkan besok pagi." Nasehat Michelia. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada tubuh Viscount Elca.


"Sayang jaga kesehatan mu, ingatlah di dalam perut mu masih ada Elca kecil yang kita tunggu-tunggu lima tahun lamanya." Selama bertahun-tahun dia memang menginginkan kehadiran Elca kecil dari dalam rahim Michelia.


"Benar, aku tidak boleh egois." Michelia mengelus perutnya dengan perasaan bersalah. Seharusnya dia memikirkan kehidupan lain yang kini ada pada dirinya. "Maafkan ibu yang egois, ibu tidak memikirkan mu."


"Baiklah, aku sudah selesai makan. Kamu lanjutkan makannya. Aku harus melanjutkan mencari putra kita." Ujar Viscount Elca mencium kening Michelia. Secara bersamaan, hatinya tidak menentu. Dia merasakan sesuatu akan terjadi pada Viscount Elca.


"Sayang sebaiknya kamu urungkan malam ini pencarian. Lanjutkan besok."


"Jangan khawatir, tidak akan terjadi sesuatu pada ku." Ujar Viscount Elca seraya mengelus tangan Michelia. Ia pergi begitu saja, meninggalkan perasaan yang tak menentu.


Maaf sayang, aku berbohong. Aku berjanji akan membawa Deros untuk mu.


Michelia berusaha menghilangkan pikirannya. Ia mencoba meyakinkan perkataan Viscount Elca. Ia kembali menyantap hidangan di piringnya. Namun saat hidangan itu akan masuk ke dalam mulutnya. Hati dan pikirannya tidak bisa berhenti mencemaskan Viscount Elca. Dan ia pun menyusul sang suami, agar tidak mengurungkan niat. Sampai di depan pintu, kuda yang di tumpangi Viscount Elca menghilang. Michelia tak bisa menunggu, ia menyuruh pengawal menyiapkan kereta kuda.


"Nyonya, sebaiknya kita menunggu kedatangan tuan."


"Aku tidak bisa Mery, aku merasakan sesuatu akan terjadi. Aku tidak ingin kedua orang penting dalam hidup ku menghadapi bahaya. Apa gunanya aku memiliki kekuatan jika aku tidak bisa melindunginya." Jelas Michelia. Pada dasarnya manusia di beri kelebihan untuk membantu orang lain begitu pun dirinya sendiri.


"Nyonya, sebaiknya jangan. Tuan akan marah jika nyonya tidak menuruti perintah tuan." Mery terus membujuk Michelia. Ia tidak ingin sesuatu akan terjadi pada majikannya.


Dia seperti putri Maya saja. Anak dan Ibu memang tidak beda jauh batin Mery.


"Baiklah, aku akan ikut dengan nyonya." Lirih Mery. Ia menyerah berdebat dengan Michelia.


Michelia pun mengangguk, ia memasuki kereta itu di ikuti Mery.


"Nyonya kita harus kemana?" tanya Kusir kuda yang bingung.


"Kita harus mengikuti kuda tuan,"


"Maaf nyonya, kita kehilangan jejak." Jelas sang Kusir.


Michelia pun turun, dia memilih duduk di samping kusir kuda itu.


"Nyonya, apa yang nyonya lakukan? tolonglah di dalam. Kita bisa mencari jejak tuan."


"Tapi nyonya," Mery mengambil sebuah pakaian penghangat tubuh di dalam kereta. Ia memakaikan jaket itu pada Michelia. Sedangkan kusir kuda, ia merasa malu duduk bersama dengan majikannya.


"Ayo, jalan." Pekik Michelia. Sepanjang perjalanan Michelia menggunakan penciumannya.


Semilir angin malam itu mengantarkan wangi tubuhnya Viscount Elca pada hidungnya. Bau maskulin dan aroma tubuhnya ia hafal betul. Entah itu kelebihannya atau karena hidungnya yang sensitif.


"Tunggu," Michelia melihat sekelilingnya. Wangi tubuh Viscount Elca berhenti di dekat wilayah Ketrik. Wilayah itu dulunya di kenal sebagai lumbung padi. Jumlah penduduknya pun tidak banyak. Mayoritas penduduknya seorang petani dan banyak kalangan rakyat biasa. Hanya Baron Kenik yang tinggal di wilayah Ketrik.


"Aku kehilangan jejaknya, kita harus mencari tuan. Dekat sini," ujar Michelia.


Sedangkan Viscount Elca dan dua Kesatrianya dengan memakaikan baju kokohnya. Mereka turun dari kudanya masing-masing. Ketiga orang itu pun berjalan menuju dua orang yang berjaga di depan gudang.


"Dimana tuan kalian?"


"Silahkan masuk tuan, tapi Kesatria tuan harus berada di luar." Ujar salah satu pengawal membukakan pintu gudang itu.


Viscount Elca masuk, tanpa di ikuti kedua Kesatrianya. Matanya membulat melihat anak kecil yang tidak berdaya. Seluruh pakaiannya ada noda darah dan wajahnya lebam. Ia menunduk dengan wajah pucat.


"Deros," teriak Viscount Elca. Ia berlari dan memeluk putranya. "Sayang apa yang terjadi?" Viscount Elca mengamati wajah Deros yang lebam dan bibirnya berdarah.


"Ayah," Deros menitikkan air matanya. Ia tidak percaya, ayahnya datang untuk menolongnya.


"Dasar wanita iblis." Viscount Elca berdiri, ia mengedarkan penglihatannya ke penjuru gudang itu.


"Keluar ! Dasar wanita iblis. Apa yang kamu lakukan pada putra ku." Teriaknya dengan aura membunuh.


krek


Pintu itu terbuka lebar. Memperlihatkan seorang wanita menggunakan gaun dengan memperlihatkan lekukan tubuhnya yang gemulai. Bukan namanya Viscount Elca jika ia tergoda dengan jalang di depannya. Baginya hanya Michelia yang cantik tidak ada wanita lain lagi.


"Kamu sudah datang sayang, maaf membuat mu lama menunggu."


"Cih," Viscount Elca meludah ke kiri. Sungguh menjijikkan pemandangan di depannya.


"Lepaskan Deros, kamu memiliki urusan dengan ku wanita jalang."


#Pengumuman Yaaaa.


Untuk para readers, makasih atas dukungan kalian dan doa kalian sampai aku, sebagai author recehan aku bersyukur ada penerbit yang meminang dua karya ku sekaligus. Sekali lagi terima kasih banyak. Dan untuk sekarang, author gak janji update setiap hari. Karena sekarang author sibuk merevisi dua karya. Jadi mohon, author berharap para readers mau mengerti keadaan Author sekarang. Author juga bingung, ini harus revisi dua karya. Ke depannya pasti bakalan sibuk menambah atau menghapus part dengan bimbingan Editor penerbit. Jadi mohon maklumi, beribu maaf.