Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 25_dan kau lebih tidak pantas


Pada malam harinya ...


Di sebuah ruangan tampak elegan dan kertas yang berserakah di lantai. Hembusan angin malam membuat tirai melambai-lambai dan terangnya sang bulan yang menerangi ruangan itu. Terlihat dua orang bertatap wajah dengan mengeluarkan aura kedinginannya. Masing-masing darinya mengepalkan tangannya, mengeluarkan kekuatannya, yang satunya bertopeng dengan mata emas dan satunya lagi tidak memakai topeng tapi juga memiliki mata emas.


"Kau adalah aku dan aku adalah kau, maka mari kita bertanding siapa yang pantas untuk dirinya."


"Hempaskan," seketika laki-laki di depannya menahan serangan itu hingga berjongkok.


"Cih, aku tidak akan kalah dengan mu," ucapnya tersenyum sinis.


"Berhenti," ucap laki-laki itu berdiri tegak dengan tatapan tajam. Ia mengeluarkan kekuatannya. Tubuhnya mulai di kelilingi kabut berwarna ungu.


Tak mau kalah, laki-laki bertopeng itu juga melakukan hal yang sama.


"Kau tidak pantas untuknya," Ejek laki-laki yang tak memakai topeng.


"Dan kau lebih tidak pantas bersanding dengannya, mana ada seorang suami sampai mempermalukan istrinya," jawabnya tak kalah pedas.


"Untuk apa kau ikut campur urusan ku? bukankah kau tidak pernah peduli dengan urusan ku."


"Aku tidak peduli dengan urusan mu, tapi aku peduli dengan cinta pertama ku,"


Ketika mendengarkan cinta pertama. Hatinya tidak terima ia mengeluarkan semua kekuatannya, "Cih, menjijikkan." ucapnya seraya meludah ke kiri.


Merekapun sama-sama menahan dan menyerang hingga satu jam berlalu. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Hasilnya adalah seri, yang ada hanyalah rasa lelah dan keringat keluar dari tubuh mereka.


Laki-laki bertopeng tersenyum sinis, "Kita akan bertemu lagi Yang Mulia. Semoga pernikahan mu lancar." ucapnya yang menghilang dalam sekejap mata.


"Hah, hah ! sialan," ucap Kaisar Alex geram. Ia menghembuskan nafas kasar, baru kali ini ia bertanding dengan dirinya sendiri.


Sedangkan disisi lain..


Setelah sekian lama tidur dengan lelap. Ratu Anastasya membuka matanya. Ia memandang sekelilingnya dan mengusap matanya dengan kasar.


"Ratu, sudah bangun."


Anastasya menoleh, jantungnya berdetak karuan, "Kau membuat ku kaget saja Mery, bagaimana jika aku mati karna serangan jantung." Anastasya memutar bola matanya, ia kesal dengan Mery yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


"Maaf Ratu, jika hamba mengagetkan Ratu," Sesal Mery menundukkan wajahnya.


"Sudah jam 8 malam Ratu,"


"Apa Duke Rachid datang kesini?" tanya Anastasya, seketika ia ingat jika malam ini akan menemui Ayahnya.


"Sudah Ratu, tapi karna Ratu tidur Duke Rachid kembali lagi."


"Hah, kenapa tidak membangunkan ku," Anastasya memonyongkan bibirnya seraya melirik ke arah Mery.


bruk


Tubuh Mery terjatuh ke lantai. Membuat Anastasya terkejut.


"Me, Mery," ucapnya terbata-bata.


"Ratu," Anastasya menaikkan salah satu alisnya, ia melihat sekeliling kamar dan mendapati seorang laki-laki bersendekap di jendela dan memandangnya.


Anastasya, menelan ludahnya susah payah. Ia melihat laki-laki bertopeng dengan mata emas dan mengeluarkan aura dingin.


"Gabriel," ucap Anastasya tanpa mengkedipkan matanya.


"Gawat, mau apa dia disini. Apa dia ingin membunuhku karna aku menjelekkan Elisha?" pikir Anastasya.


Laki-laki itu melangkah kan kakinya menuju ke arah Ratu Anastasya. Lalu


Tak


Laki-laki bertopeng itu menjitak dahi Anastasya, "Jangan berfikir macam-macam. Aku datang kesini hanya ingin melihat mu," ucapnya terkekeh.


Anastasya mengusap dahinya, "Ka, kau kenapa bisa ada disini? dan kau apakan Mery?" tanya Anastasanya sambil menunjuk laki-laki di depannya.


"Aku hanya ingin melihat mu saja dan memastikan keadaan mu dan tenang saja pelayan mu hanya tidur sebentar," jawabnya seraya duduk di samping Anastasya.


"Buat apa kau datang kesini? memangnya kau ingin memastikan aku mati atau tidak," Dengan sigap Anastasya memundurkan badannya. Ia takut laki-laki di depannya berbuat konyol.


"Sudahlah," Laki-laki itu menjentikkan jarinya. Dalam sekejap mata Anastasya berpindah tempat. Tempat itu gelap dan menyeramkan dan hannyalah penerangan obor yang di sepanjang lorong.