Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3_ pertengkaran putri Maya dan Duke Rachid


klek


Pintu bercat putih itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dan laki-laki yang sedang berbincang-bincang.


Kedua orang itu menoleh dan berdiri.


"Ah, Putri Maya. Duke sedang mencari mu. Kalian bisa mengobrol disini." ucap wanita paruh baya itu memberikan hormat dan berlalu pergi.


Putri Maya melirik sekilas Duke Rachid, ia melipatkan kedua tangannya dan menyandarkan bokongnya ke tepi meja, menatap Duke Rachid tanpa berkedip.


"Langsung saja ada apa Duke datang kesini?" tanya Putri Maya datar.


Panggilan Putri Maya membuat hati Duke Rachid bagaikan tertusuk ribuan pisau. Tidak biasanya Putri Maya memanggilnya seorang Duke saat sedang berdua, ia yakin Putri Maya sedang kecewa, tapi ia akan berusaha meminta maaf.


Jantung Duke Rachid kembali bergendrang, ia semakin takut dan gugup. Duke Rachid menunduk seperti orang yang ketakutan ketahuan selingkuh, ia sedikit melirik ke wajah Putri Maya yang menatapnya datar. "Putri, em maaf tadi.."


"Hanya ingin membahasnya, tidak perlu. Aku sudah memaafkan Duke." potong Putri Maya melangkah kan kakinya keluar.


Duke Rachid tertegun, "Tunggu Putri, Paman


minta maaf. Tadi memang urusannya mendesak." ucap Duke Rachid mencoba menjelaskan.


Putri Maya membalikkan badannya, "Aku bukanlah orang patung yang seenakanya saja tidak di hargai. Seharusnya paman datang ke istana dulu, menjelaskannya pada ku, bukankah istana lebih dekat." serunya.


Putri Maya memutar bola matanya, ia jengah melihat Duke Rachid dengan wajah mengiba. "Duka kali." Putri Maya menunjukkan jari telunjuknya dan jari tengahnya, "Dua kali Paman melakukan ini. Apa Paman akan mengulanginya sampai tiga kali? lalu Paman akan memakai sebuah alasan apa lagi."


Putri Maya menunjukkan lima jari tangan kanannya, ia menunjuk jempolnya. "Hilda sakit, Hilda merindukan Paman, Hilda membutuhkan Paman, Hilda ingin bersama Paman, Hilda ingin.." Putri Maya menjeda ia menatap tajam Duke Rachid. "Hilda ingin menikahi Paman." sambungnya lagi.


Duke Rachid terbelalak. Apa yang di katakan oleh Putri Maya terkahir tidak masuk akal baginya. "Putri apa yang kamu katakan?"


Putri Maya menunjuk dirinya, "Sudah dua kali Paman melakukan ini, pertama Paman membuatku menunggu seharian di bawahnya hujan. Aku menunggu Paman, walaupun aku merasakan sakit dan kecewa." Putri Maya tersenyum, "Dan sekarang kedua kalinya. Kini aku mengerti, benar apa yang di katakan orang. Aku lah Putri yang hanya menekan Paman untuk bersama ku." ucap Putri Maya dengan tajam dan melangkah kan kakinya menuju ke luar.


"Maya tunggu, Maya. Semuanya tidak benar." Duke Rachid meraih lengan Putri Maya. Tapi Putri Maya menepisnya dengan kasar.


"Untuk sekarang jangan menemuiku lagi," ucapnya menggertakkan giginya dan berlalu pergi.


Duke Rachid menatap tangannya, ia menjatuhkan tangan itu dengan kasar. Hatinya tersayat, ia tidak menyangka tunangannya begitu marah. "Aku tidak akan menyerah Putri Maya, aku akan berusaha mendapatkan maaf mu. Apa pun caranya." ucapnya berlalu pergi.


Duke Rachid menaiki kudanya, ia menoleh menatap bangunan tinggi itu. Esok hari ia berniat akan mendatanginya lagi. Selama Putri Maya tidak bisa memaafkannya, ia akan berusaha agar mendapatkan maaf dari Putri Maya. Jika perlu, ia akan mendatanginya setiap waktu.


Sesampainya di kediamannya, Duke Rachid di sambut dengan senyuman oleh seorang gadis berkulit putih dan berhidung mancung. Memakai gaun berwarna kuning. Gadis itu menuju ke arah Duke Rachid yang turun dari kuda.


"Paman." sapanya lembut.


Duke Rachid membalas senyumannya. "Hilda kenapa di luar? udara dingin tidak baik untuk kesehatan mu?" Duke Rachid mengelus pucuk kepala Hilda. "Apa kamu sudah meminum obat mu?" tanya Duke Rachid, ia tidak tega melihat Hilda semenjak kecil yang berusaha bertahan hidup karna penyakit jantungnya.