
"Kaisar Emerald dan Lady Flavia," Anastasya melihat ke arah Kaisar Alex. Mereka saling mengungkapkan ekspresi keheranan dan kebingungan.
Tatapan mereka beralih melihat Lady Flavia yang sedang menggendong seorang bayi.
"Yang Mulia maaf atas ketidak sopanan kami, kami membutuhkan pertolongan Yang Mulia dan Permaisuri," ucap Kaisar Emerald, sementara Permaisuri Flavia menatap ke arah Anastasya dengan mata berkaca-kaca.
Awas saja jika berani memainkan mata dengan Permaisuri batin Kaisar Alex yang merasa tidak senang dengan kehadiran mereka.
"Ma, masuklah." ucap Anastasya.
Mereka pun menuju ke ruang tamu dan duduk saling berhadapan.
"Bolehkah, hamba berbicara dengan Yang Mulia dan Permaisuri saja." seru Kaisar Alex.
"Kalian pergilah," perintah Kaisar Alex melihat ke arah Hector dan Isak di ikuti Mery dan pelayan Ana.
"Langsung saja ada apa?" tanya Kaisar Alex datar.
"Bisakah Permaisuri mengangkat Mantra Kutukan di dalam tubuh Putra Ku," seru Kaisar Emerald, kini air matanya menggenang.
"Ma, Mantra Kutukan." Anastasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tolong Permaisuri, tolong." ucap Lady Flavia yang sudah menangis.
"Permaisuri, tidak bisa menolong kalian." Timpal Kaisar Alex, kini ia merasakan kesedihan di mata Kaisar Emerald. Ia kira Kaisar Emerald masih memiliki perasaan untuk Anastasya.
Anastasya menghela nafas, "Boleh Aku melihatnya." Ia memberikan Putri Viola ke tangan Kaisar Alex. Setelah itu ia mengambil alih tubuh mungil itu dari tangan Lady Flavia.
Anastasya membuka kain sutra yang melilit pada tubuh sang bayi, ia melihat di sekujur tubuhnya seperti luka bakar yang menghitam. Tapi untunglah wajahnya bebas dari luka bakar yang menghitam.
"Wajahnya memang tidak terdapat luka itu, tapi dia hanya bisa melihat kegelapan Permaisuri."
Deg
Hati Anastasya berdenyut, air matanya pun tidak bisa di bendung lagi. Ia memeluk bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang. Bagaimana bisa bayi sekecil itu harus menanggung kesalahan orang tuanya dulu.
"Ini memang salah Ku, seharusnya Aku tidak bersekutu dengannya."
Kaisar Emerald dan Lady Flavia hanya bisa menangis dan menangis, meratapi nasib Putra pertamanya.
"Sungguh, aku ingin menolongnya. Tapi sekarang Aku tidak bisa."
"Bukan itu permasalahannya, sekarang Permaisuri tidak memiliki simbol." Kaisar Alex merasakan tenggorokannya tercekat, "Dia mengorbankan simbolnya demi mempersatukan jiwa Ku dengan jiwa Pangeran Gabriel."
"Jadi Pangeran Gabriel .."
Kaisar Alex mengangguk melihat ke arah Kaisar Emerald. Semenjak kepergian Kaisar Alex, ia memang bisa menemani Anastasya, tapi setelah mendengarkan kepulangan Kaisar Alex justru dirinya mundur secara perlahan-lahan. Ia tidak ingin di cap sebagai perebut Istri orang dan tidak ingin ada pertumpahan darah.
"Lalu kita harus bagaimana Yang Mulia?" tanya Lady Flavia.
"Hector," Teriak Anastasya, ia harus menanyakan semua kejadian itu pada Ketua istana.
"Hamba Yang Mulia,"
"Panggil Ketua istana untuk datang kemari,"
"Baik Yang Mulia,"
Sebelum pergi Hector sedikit melirik ke arah Kaisar Emerald dan Lady Flavia dengan mata sembab.
Ada apa dengan mereka..
Selang beberapa saat datanglah, Ketua istana menghadap ke arah mereka.
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan mu," Anastasya bangkit dari duduknya, ia menghampiri Ketua istana. Lalu membuka kain yang melilit di tubuh sang bayi.
"Lihat, ini."
"Ini.." Ketua istana membulatkan matanya, ia tidak menyangka masih ada orang yang menerima Mantra Kutukan itu.
"Mereka meminta bantuan Ku untuk mengangkat Mantra Kutukan ini, tapi Aku tidak bisa."
Ketua istana menunduk, ia merasa iba terhadap sesosok bayi mungil di depannya.
"Benar, karna Permaisuri tidak memiliki simbol itu. Hanya satu orang istimewa yang memiliki Simbol Bulan atau Bintang Permaisuri. Dialah pilihan Tuhan."
Ketua istana melirik ke arah bayi mungil di gendongan Kaisar Alex.
Semoga dia adalah Putri anda Permaisuri
"Tidak ! kenapa harus Putra Ku yang menanggungnya." teriak Ladya Flavia hingga tak sadarkan diri.