
"Terimakasih atas kemurahan hati Permaisuri," ucap Elisha seraya bersujud di depan kaki Anastasya. Elisha tidak pernah menyangka, orang yang dulu ia racuni kini memaafkannya dengan mudah.
"Bangunlah, kau boleh tinggal disini,"
"Tidak Permaisuri, hamba hanya ingin hidup sederhana bersama keluarga hamba. Hamba akan kembali ke rumah hamba Permaisuri."
Anastasya tersenyum, "Aku bersyukur kau bisa berubah. Hiduplah bahagia, kadang sesuatu yang sederhana mampu.membuat kita tertawa." ucap Anastasya beranjak pergi, lalu membalikkan badannya. Ia di buat terkejut melihat kedatangan Duke Rachid dan Duke Erland.
Bagaimana jika mereka tau batinnya.
Dengan wajah marah, Duke Erland menarik tangan Anastasya menuju ke kamarnya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya itu.
Sementara Anastasya hanya diam, mau tidak mau dia harus menerima sikap amarahnya sang Ayah. Pada saat dirinya di ijinkan belajar sebuah mantra. Duke Erland sudah memperingatinya untuk menjauhi Mantra Kutukan itu. Dan sekarang dia membuat sang Ayah kecewa.
"Ayah," cicit Anastasya sambil melirik Duke Erland yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Anastasya, Anastasya berapa kali Ayah bilang. Jangan pernah mempelajarinya. Kau tau Mantra itu, Mantra yang berbahaya Anastasya. Mantra itu bisa membahayakan dirimu." ucapnya dengan nada amarah.
"Ayah Anastasya hanya penasaran mempelajarinya saja," Anastasya menggenggam tangan Duke Erland, "Percayalah Ayah, selama ini tidak ada sesuatu yang terjadi dengan tubuh Anastasya."
"Anastasya," Duke Erland meninggikan suaranya. "Disaat kamu belajar merangkak dan saat kamu belajar berjalan pada saat itu hati Ayah sakit melihat kamu terjatuh. Jika pun bisa, Ayah ingin menggantikan dirimu yang terjatuh. Di saat kamu menikah, Ayah bahkan tidak rela melepaskan mu pada laki-laki lain. Seenaknya saja mereka menggantikan posisi Ayah untuk menjaga mu. Dan pada saat kamu terluka oleh orang yang Ayah percayakan untuk menjaga mu seumur hidup. Bahkan Ayah rela bersujud di kakinya. Namun apa? kau masih bertahan untuknya. Bisakah kamu tidak membuat Ayah khawatir sedikit saja," ucap Duke Erland dengan nafas tidak teratur. Sebisa mungkin dia menahan amarahnya.
"Ayah, Anastasya minta maaf. Anastasya salah," ucap Anastasya sembari menangis dan menggenggam tangan Duke Erland.
Sejenak Duke Erland memejamkan matanya, menghilangkan amarahnya. Setelah di rasa menghilang, Duke Erland membuka matanya, "Inilah kelemahan Ayah, melihat mu menangis." ucap Duke Erland langsung memeluk Anastasya dan mengusap punggungnya.
"Ayah tidak bisa melihat mu menangis dan kali ini Ayah juga tidak bisa marah dengan mu." ucap Duke Erland seraya mencium kening Anastasya dan berlalu pergi.
Sesampainya di kamar Kaisar Alex, Anastasya langsung duduk di sofa. Ia kembali menatap pelayan Mery.
"Mery, aku ingin belajar menyulam. Kau panggilkan seorang guru yang pandai menyulam."
Anastasya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa itu.
Mery membuka suaranya, ia penasaran dengan junjungannya yang tiba-tiba menyuruhnya membawa guru penyulam.
"Permaisuri, bolehkan hamba tau, untuk apa Permaisuri belajar menyulam?" tanya Mery yang merasakan aneh. Padahal junjungannya sangat pintar dalam hal menyulam.
Anastasya berdiri, dia menuju ke arah lukisan Kaisar Alex.
"Sudah lama aku tidak belajar menyulam, dan lagi, Aku hanya ingin membuat jubah untuk Yang Mulia." ucap Anastasya mengelus wajah Kaisar Alex. Ia memegang wajah itu yang terasa nyata.
Deg
Hati Mery terasa sakit, segitukan Permaisuri Anastasya mencintai Kaisar Alex. Disaat semua orang tidak tau kabar Kaisar Alex mati atau masih hidup. Permaisuri Anastasya begitu kekeh dan yakin jika Kaisar Alex masih hidup.
"Aku ingin membuat jubah untuknya, menyambut kepulangannya. Aku takut saat dia pulang, dia akan bertanya hadiah untuk penyambutannya. Jadi aku ingin membuat jubah kerinduan, jubah yang khusus untuk kerinduanku selama dia meninggalkan diriku." ucap Anastasya.
Sementara di belakang pintu sekaligus di belakang lukisan itu, Kaisar Alex menyandarkan punggungnya di belakang pintu. Setiap harinya dia berniat akan berjaga di belakang pintu demi mendengarkan suara Anastasya. Namun setelah mendengarkan suaranya, justru hal yang menyakitkan yang ia tangkap di telinganya.
Pelan-pelan tubuh itu merosot ke bawah. Dadanya terasa sesak mendengarkan Anastasya yang menyambut kepulangannya. Ia memegang dadanya, "Permaisuri aku tidak pantas untuk mu, aku hanya suami yang bodoh, mengabaikan mu dan menyakiti mu. Saat aku menerima luka ini, jiwaku dan hatiku tidak sakit. Tapi saat melepaskan mu, jiwaku dan hatiku terasa hancur. Aku takut Permaisuri, Aku takut saat kamu mengetahui diriku seperti ini, kau malah meninggalkan ku." lirihnya sembari menangis.