
Sesampainya di rumah Duke Rachid, Putri Maya turun. Ia menaikkan alisnya ketika melihat sebuah kereta berada di depan gerbang kastil Duke Rachid.
Putri Maya pun melanjutkan langkah kakinya, ia masuk dan di sapa lembut oleh kedua pengawal.
"Siapa yang datang?" tanya Putri Maya.
"Nona Ingrid Putri." jawab salah satu pengawal.
"Wah, wah benar-benar dia tidak punya rasa malu. Apa rasa malunya telah hilang sebagai seorang bangsawan." gerutunya seraya melangkah kan kakinya.
Putri Maya berjalan dengan langkah lebar, ia ingin segera sampai di ruang kerja Duke Rachid. Namun saat dia belum sampai, ia melihat Nona Ingrid berada di sebuah kandang kucing kesayangannya. Putri Maya pun langsung menghampiri Nona Ingrid dengan wajah merah padam.
"Nona Ingrid." sapa Putri Maya selembut mungkin.
Nona Ingrid menoleh, ia memberikan hormat di ikuti para pelayan dan pengawalnya.
"Untuk apa nona datang kesini?" tanya Putri Maya.
"Hamba hanya, ingin bertemu dengan Duke, tapi Duke masih sibuk. Jadi hamba kesini."
"Ada urusan apa?" tanya Putri Maya datar.
"Ayah hamba ingin mengundang Duke Rachid dalam pesta bangsawan. Hamba datang kesini hanya ingin memberikan sebuah undangan." jawabnya dengan tersenyum terpaksa.
Oh, jadi dia ambil kesempatan dalam kesempitan.
"Sebaiknya berikan saja pada ku. Aku akan memberikannya pada Duke." Putri Maya menjulurkan tangannya.
Nona Ingrid semakin bergetar, ia ingin memaki, tapi tenggorokannya terasa kering. Ia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang kasar apalagi statusnya sebagai Nona Bangsawan akan tercoreng.
"Mana? berikan saja pada ku." ucap Putri Maya seraya memutar bola matanya.
Nona Ingrid semakin kesal, ia berusaha tidak ingin menyerahkan surat itu. Ia ingin menyerahkannya langsung pada Duke Rachid.
"Maaf Putri, bukannya hamba tidak ingin memberikannya. Tapi bukankah tidak sopan jika hamba tidak memberikannya lansung pada orangnya." tolak nona Ingrid dengan senyum licik.
Beraninya dia berkata seperti itu, huh
"Apa Nona meragukan ku sebagai tunangan dari Duke?" tanya Putri Maya menekankan kata tunangan.
"Baguslah, aku akan memberikannya. Lalu kenapa Nona masih disini?" tanya Putri Maya.
"Emm, hamba hanya ingin mengucapkan terimakasih."
"Tenang saja, terimakasih akan aku sampaikan."
Tidak usah berdalih sambungnya dalam hati.
"Paman, Nona Ingrid ingin mengucapkan terimakasih." teriak Putri Maya sekeras mungkin hingga Duke Rachid yang berada di ruangan kerjanya langsung melepaskan alat tulisnya ketika mendengarkan suara Putri Maya.
"Oh, tidak. Itu suara Putri Maya. Apa dia bertemu dengan Nona Ingrid." ucapnya langsung bergegas pergi.
Duke Rachid menatap tajam ke arah kedua pengawalnya. "Apa yang kalian lakukan? aku sudah menyuruh kalian untuk mengusirnya." bentak Duke Rachid. Ia ingin menghajar kedua pengawal bodohnya itu. Tadi ia sudah menolak untuk bertemu dengan Nona Ingrid dengan alasan sibuk kerja. Bahkan dia sudah mengatakan jika undangannya di langsung terima saja.
"Maaf Yang Mulia, saya sudah mengatakannya, tapi Nona Ingrid bersikeras untuk bertemu dengan Tuan." tutur salah satu pengawal kesatria itu dengan gugup.
"Kalian memang tidak bisa di andalkan." ucapnya berlalu pergi di ikuti kedua kesatrianya. "Sekarang katakan dimana Nona Ingrid."
"Hamba melihatnya kesamping kastil Yang Mulia." cicit salah satu pengawal.
Seketika Duke Rachid menghentikan langkah kakinya, rupanya dia jalan ke arah yang salah. Ia kembali berbalik dengan langkah tergesa-gesa.
Sementara Putri Maya menatap Nona Ingrid dengan tajam. Mereka saling pandang seperti ada sengatan listrik di kedua bola mata mereka.
"Aku harap Nona Ingrid tau mana yang benar dan mana yang salah. Jika salah satu bangsawan tau, Nona Ingrid datang dengan kediaman laki-laki yang berstatus tunangan seorang Putri. Apa Nona Bangsawan yang berkelas seperti Nona Ingrid tidak akan malu?" tanya Putri Maya menekankan status dirinya.
"Hamba tidak merasa menggodanya Putri, karna hamba datang dengan tujuan kebaikan."
"Kebaikan yang diam-diam akan menimbulkan sebuah fitnah." cibir Putri Maya.
"Seharunya bangsawan dewasa seperti Nona Ingrid tau sesuatu. Di banding dengan diriku yang masih muda."
Nona Ingrid mengepalkan tangannya, ia tau Putri Maya mengejek usianya yang tak lagi muda.
Jika berkenan silahkan mampir😊