
Pada malam harinya.
Putri Maya hanya membalikkan badannya ke kanan kiri, ia melihat kedua temannya yang sudah tidur terlelap. Putri Maya menunduk, saat kecil, Duke Rachid lah yang selalu menemaninya. Menenangkannya agar bisa tidur. Putri Maya turun, ia memandang ke arah luar jendela.
Putri Maya tersenyum melihat langit, seakan langit itu tau. Jika hatinya saat ini sedang kacau. Putri Maya menghembuskan nafas kasarnya, ia mengusap kedua tangannya yang kedinginan.
"Sudah lama kan aku tidak main hujan."
Putri Maya keluar dari kamarnya, ia turun dari tangga itu. Tibalah ia berada di depan asrama. Putri Maya melihat ke arah langit, ternyata sangat deras. Ia pikir, mungkin melakukan tingkah kekanakan bisa menghiburnya walaupun sedikit.
Selangkah demi selangkah, ia berjalan. Sampai tubuhnya di basahi oleh air hujan. Putri Maya pun melanjutkan langkah kakinya sampai keluar dari gerbang itu. Seorang pengawal yang melihatnya, ia langsung menghampirinya.
"Putri Maya, tidak baik untuk kesehatan Putri, sebaiknya Putri memakai payung." ujarnya seraya menyodorkan payung yang ia pakai saat tadi melihat-lihat sekeliling asrama.
"Biarkan saja, aku hanya ingin bermain di derasnya air hujan." ucap Putri Maya tersenyum dan berlalu pergi..
Putri Maya merentangkan kedua tangannya, memejamkan kedua matanya seraya mendongakkan wajahnya. Tubuhnya berputar-putar menikmati setiap hujan yang menetes ke tubuhnya..
"Putri Maya apa yang kamu lakukan?" Putri Maya menoleh, ia melihat Arnoz yang berada di sampingnya seraya memayungi tubuhnya.
"Apa kamu pikir dengan semua ini membuat hati mu lega?" tanya Arnoz.
"Apa maksud mu? aku hanya ingin jalan-jalan saja." ucap Putri Maya berjalan melewati Arnoz.
"Jaga kesehatan Putri, semua itu tidak akan membuat Putri lebih baik. Jika Putri tidak bisa memikirkan kesehatan Putri, coba pikirkan Permaisuri dan Yang Mulia sekaligus Kakak Putri. Pasti mereka sangat sedih, bukan? Cobalah Putri memikirkan orang yang menyayangi Putri, bukan memikirkan orang yang Putri sayangi." ujarnya menatap lekat mata Putri Maya.
Putri Maha memalingkan wajahnya, apa yang di katakan Arnoz ada benarnya. Tidak seharusnya ia memikirkan dirinya sendiri. Seharusnya dia lebih memikirkan orang-orang yang menyayangi, ia tidak ingin membuat mereka bersedih.
Arnoz menggenggam tangan Putri Maya dan menariknya ke sebuah toko yang tak jauh dari sana dan untunglah toko itu masih terbuka. Karna sekarang sudah hampir jam 09.30 malam.
Salah satu pelayan itu pun membawakan dua botol Wine dan dua gelas.
Putri Maya mengambil gelas di depannya, segera ia menuangkan Wine itu ke dalam gelas. Dalam sekali teguk air di dalam gelas itu langsung habis.
"Bagaimana sudah merasa mendingan?" tanya Arnoz menatap khawatir ke arah Putri Maya.
Putri Maya mengangguk, hatinya sedikit lega. "Terimakasih." ujar Putri Maya.
Tak jauh dari tempat itu, sepasang mata melihat semuanya. Tadinya ia berniat menemui Putri Maya saat mendengarkan ada petir dan hujan. Ia khawatir karna Putri Maya tidak akan bisa tidur jika hujan di sertai petir. Sebelum dirinya menghampiri Putri Maya saat berguyur di derasnya air hujan. Ia melihat laki-laki menuju ke arah Putri Maya, seketika ia menghentikan langkah kakinya.
"Siapa dia?" tanya Duke Rachid seraya mengepalkan tangannya. Duke Rachid terus memperhatikan kedekatan Putri Maya dengan laki-laki di depannya. Sesekali Putri Maya terkekeh melihat tingkah konyol Arnoz membuat Duke Rachid menahan sesak.
"Maya kenapa kamu melakukan ini? aku sudah melarang mu berdekatan dengan laki-laki lain." lirihnya berlalu pergi