
Disisi lain.
Anastasya dan rombongannya telah sampai di Akademik. Anastasya turun dari keretanya di ikuti yang lainnya. Gedung menjulang tinggi berlantai 5 yang cukup luas. Anastasya tidak bisa membayangkan berapa murid bangsawan yang berada di dalamnya. Halamannya pun juga luas dan terdapat tumbuhan rumput kecil serta beberapa pohon rindang. Di tengahnya terdapat air mancur yang lumayan besar dan jalan yang menuju ke akademik itu di kelilingi lampu.
Banyak anak bangsawan yang saling bercanda bahkan ada juga yang membaca buku di bawah pohon rindang itu.
Anastasya menatap Enzo dan Enzi, "Maaf Ibu tidak bisa mengantar Enzo dan Enzi sampai ke asrama,"
"Tidak apa Ibunda," ucap Enzo seraya memeluk Anastasya sebagai tanda perpisahan yang di ikuti Enzi.
"Duke Rachid tolong urus semua keperluan mereka disini." ucap Anastasya.
"Baik Permaisuri,"
"Ibunda apa boleh nanti kita mengirim surat?" tanya Enzi dengan tatapan penuh harap.
Anastasya mengelus kepala Enzi, "Sering-seringlah mengirim surat supaya rindu Ibunda bisa terobati. Dan ingat, kalian harus rajin belajarnya." ucap Anastasya.
Enzo dan Enzi mengangguk, merekapun masuk ke dalam gerbang itu. Perlahan-lahan mereka melangkah kan kakinya. Hatinya sungguh berat meninggalkan Anastasya yang amat mereka sayangi.
Anastasya pun melambaikan tangannya ketika mereka menoleh kebelakang di iringi senyuman. Setelah punggung Enzo dan Enzi serta Duke Rachid menghilang. Anastasya bermaksud menuju ke tokonya di kota.
"Hah, ayo kita menuju ke kota," ucap Anastasya menaiki keretanya kembali.
Selama di perjalanan, Anastasya hanya diam tanpa sepatah kata apapun. Ia hanya fokus ke pemandangan di luar. Melihatnya melalui jendela kereta.
Sesampainya di kota, Anastasya menuju ke tokonya. Ia ingin memeriksa keadaan toko itu. Dan benar saja bisnisnya lancar, bahkan ada yang mengantri di luar hanya demi memakan kue di tokonya.
Anastasya tersenyum di dalam keretanya. Ia bersyukur, setidaknya ia tidak perlu bergantung ke Kaisar Alex jika memiliki toko sendiri. Ia turun dari keretanya. Lalu masuk kedalam toko itu.
"Apa Nyonya ingin memesan kue, tolong mengantri." ucap seorang perempuan dengan ramah.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan orang yang mengurus toko ini." ucap Anastasya.
Pelayan itu pun mengkerutkan dahinya, "Apa Nyonya sudah memiliki janji?" tanyanya pelayan itu keheranan.
"Saya orang kepercayaannya Duke Rachid." ucap Anastasya membuat pelayan di depannya terkejut.
"Maaf Nyonya, mari saya antarkan." ucap pelayan itu seraya menunjukkan jalan.
Sesampainya di sebuah ruangan, pelayan perempuan itu langsung masuk di ikuti Anastasya. Terlihat seorang laki-laki memakai kaca mata yang sedang fokus dengan kertas di depannya itu.
"Tuan ini ada seseorang bertemu dengan Tuan." ucap sang pelayan berlalu pergi.
Laki-laki itu pun mendonggakkan wajahnya, ia menatap Anastasya tanpa berkedip. Kecantikan yang di pancarkan Anastasya tidak ada duanya. Dan langsung sadar siapa di depannya itu.
"Hormat hamba Permaisuri," ucapnya dengan menunduk hormat.
"Ternyata anda adalah bawahan dari Duke Rachid. Langsung saja bagaimana dengan bisnis ku? apa semuanya berjalan lancar?" tanya Anastasya.
"Nama hamba Erlas Permaisuri. Sejauh ini semuanya berjalan lancar Permaisuri. Bahkan ada yang rela mengantri untuk mencicipi kue disini." tuturnya.
"Oh baiklah, rupanya aku harus membuat toko lagi." Anastasya mengangguk, "Baiklah jika ada sesuatu anda bilang saja ke Duke Rachid." ucap Anastasya berlalu pergi.
Benar Permaisuri memiliki kecantikan yang langka. Aku tidak paham dengan Yang Mulia. Kenapa dulu Yang Mulia tidak bisa mencintai Permaisuri padahal Permaisuri ahli dalam bidang berbisnis. Di semua perempuan di Kekaisaran ini. Hanyalah Permaisuri yang pandai berbisnis.
Sesampainya di pertengahan jalan menuju Kota. Anastasya melihat seorang laki-laki dengan badan compang camping dan berjalan pincang. Anastasya merasa iba. Ia menyuruh kusir kuda berhenti.
Anastasya turun dari keretanya, "Tuan, apa tuan membutuhkan bantuan?" tanya Anastasya.
"Bagaiman jika saya mengantarkan tuan?" tanya Anastasya menawarkan bantuan.
Sejenak laki-laki itu berpura-pura berfikir, "Bagaiman jika saya merepotkan Lady?" tanya laki-laki itu.
"Tidak, tentu tidak. Mari Tuan." ucap Anastasya memapah Laki-laki itu kedalam kereta.
Laki-laki itu duduk berhadapan dengan Anastasya. Lalu ia mengeluarkan sebuah botol. Lalu menyodorkan botol itu ke Anastasya.
"Tuan ini untuk apa?" tanya Anastasya keheranan.
"Ambilah Lady, ini untuk membalas jasa Lady," jawabnya.
"Tidak perlu Tuan, saya iklas menolong Tuan."
"Jangan menolak Lady, saya merasa sedih." ucap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca. "Suatu saat Lady akan membutuhkannya. Di dalam botol ini terdapat obat penawar segala macam racun."
"Emm, ba, baiklah." ucap Anastasya meraih botol itu.
"Lady turunkan saya disini,"
"Berhenti," ucap Anastasya membuat kusir kuda menghentikan kudanya.
"Terimakasih Lady," ucapnya laki-laki itu dengan sopan.
Setelah kereta kuda itu mulai menjauh. Datanglah seorang laki-laki paruh baya menunduk hormat.
"Yang Mulia,"
"Awasi dia di istana Matahari. Semua pergerakannya. Jangan sampai dia terluka. Karna aku akan membuat dia menjadi Permaisuri ku," ucap laki-laki itu tersenyum licik.
Semenjak dirinya menerima laporan dari suruhannya, ia bermaksud turun sendiri. Ingin menemuinya. Apakah benar wanita tadi yang ia jumpai memiliki simbol yang belum di bangkitkan. Dan ternyata hasil hari ini adalah benar. Dahi memancarkan cahaya berwarna kuning.
Sementara di istana.
Seorang wanita duduk dengan santainya memakan buah anggur. Ia memikirkan kejadian tadi, apa yang sudah menjadi miliknya tidak akan pernah ia lepaskan.
"Ana apa kamu sudah menyelesaikan tugasmu?" tanya wanita itu yang tak lain Elisha. Ia mengunyah buah anggur di mulutnya. Kehidupannya dulu di penuhi kemiskinan. Sehingga ia tak jarang bertengkar dengan suaminya hanya karna masalah ekonomi.
"Belum Yang Mulia. Hamba akan berusaha mencarinya." ucap pelayan Ana menunduk dengan badan gemetar.
"Apa di Kekaisaran ini ada toko kue terenak.?" tanya Elisha datar.
"Akhir-akhir ini ada sebuah Toko kue yang menghidangkan kue dan teh susu Yang Mulia. Toko itu bahkan terkenal di Kekaisaran ini." jelas pelayan Ana.
"Baiklah besok aku akan kesana. Jika perlu aku akan membeli tokonya," ucap Elisha, ia kembali memasukkan buah anggurnya ke mulutnya.
"Tapi Yang Mulia bagaiamana jika pemilik toko itu menolak untuk menjualnya?" tanya pelayan Ana, ia tidak habis pikir dengan pikirannya junjungannya ini.
"Aku adalah istri Kaisar apapun itu, pasti aku miliki." ucapnya dengan nada sombong dan tersenyum menyeringai.
#Seputar pertanyaan, bagaimana ya jika Elisha tau siapa pemilik toko itu??🤔🤔
Maaf ya saya buat konflik lagi, karna konflik ini menuju arah pertemuan dengan Anak Elisha.
#Seputar_pengumuman besok sama hari minggu gak janji buat update. Author sibuk dengan acara di rumah yaitu MEMPERINGATI MAULID NABI MUHAMMAD SAW.
#Semoga kita di berikan syafaatnya kelak🤲🤲