Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
season 2_Pengakuan Emma


Pangeran Abigail terkejut karna teriakan pelayan Mira, ia beranjak duduk melihat Putri Viola dan pelayan Mira yang menatap tajam ke arahnya.


"Putri sebenarnya ada ap..."


Pangeran menghentikan perkataannya, ketika melihat seseorang yang menangis di sampingnya. Ia membulatkan matanya melihat Emma menutupi tubuhnya dengan selimut.


Pangeran Abigail yang tidak bisa mencerna apa pun, ia melihat tubuhnya yang bertelanjang.


Putri Viola mengepalkan tangannya, ia memalingkan wajahnya.


"Putri, ini tidak seperti yang Putri fikirkan." teriak Pangeran Abigail.


Putri Viola mengabaikan perkataan Pangeran Abigail, ia meninggalkan Pangeran Abigail yang masih berteriak.


arghh


Pangeran Abigail menjambak rambutnya, dadanya naik turun menahan amarah. Ia menatap tajam ke arah Emma.


"Emma katakan pada Ku, semua ini tidak benar kan?" tanya Pangeran Abigail dengan mata berkaca-kaca.


Emma hanya bisa menangis, ia menggeleng pelan kepalanya, sebagai tanda jawaban.


Pangeran Abigail langsung memungut pakaiannya yang berserakah di lantai, ia menuju ke kamar Putri Viola. Pikirannya kalang kabut, ia takut dan takut Putri Viola akan meningglakannya. Sementara Emma hanya menatap licik ke arah punggung Pangeran Abigail.


Pangeran Abigail menggedor-gedor pintu kamar Putri Viola. "Putri, aku mohon Putri buka pintunya. Tolong dengarkan penjelasan ku dulu." ucap Pangeran Abigail, tak terasa air matanya telah membasahi pipinya.


Dari kejauhan, seorang laki-laki mengeraskan rahangnya, tangannya mengepal. Amarahnya mulai memuncak. Dengan langkah tergesa-gesa. Ia membalikkan tubuh Pangeran Abigail dan


plak


Tamparan keras membuat pipi Pangeran Abigail langsung memerah. Semua orang yang mendengarkan keributan itu pun keluar dari kamarnya.


"Apa Ayah pernah mengajarkan kamu seperti ini Pangeran," teriaknya menggema. Dadanya terasa sakit ketika mendengarkan penuturan pelayan Mira. Ia tidak habis pikir apa yang di lakukan oleh Putranya itu. Bagaimana ia akan menanggung malu pada Kaisar Alex dan seluruh orang di Kekaisaran ini dan Kekaisaran Matahari.


"Ayahanda, hamba.."


"Panggil Emma dan Putri Viola dan seluruh anggota istana. Aku ingin mendengarkan kebenarannya dan keputusan Putri Viola." bentaknya.


Putri Viola berdiri di samping Putri Maya, ia ingin menangis tapi tak ingin menangis, ia takut di bilang lemah. Putri Viola memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihat kedua pasangan yang berdiri di sampingnya.


Lain halnya Duke Rachid, ia langsung menghajar pipi Pangeran Abigail, Pangeran Abigail pun tersungkur ke lantai. Dengan sigap Emma membantu Pangeran Abigail berdiri. Namun Pangeran Abigail menepis kasar tangan Emma, "Ini semua salah mu." teriak Pangeran Abigail menatap tajam ke arah Emma.


Duke Rachid ingin memukul kembali Pangeran Abigail, ia menarik kerah baju Pangeran Abigail, tapi di hentikan oleh teriakan Putri Viola.


"Berhenti Duke, percuma kamu menghajarnya, sekalipun kamu menghabisinya. Semuanya tidak akan mengubah apa pun." ucapnya dengan nada gemetar.


Pangeran Abigail melepaskan tangan Duke Rachid, ia menggenggam tangan Putri Viola dengan menangis tersedu-sedu.


"Putri, ini semua tidak seperti yang Putri pikirkan. Ya, aku hanya di jebak Putri." lirihnya dengan nada memohon.


Segera Putri Maya menepis tangan Pangeran Abigail dengan kasar, "Jangan mendekati Kakak Ku, tangan mu sudah kotor." bentaknya.


Duke Rachid pun menarik lengan Pangeran Abigail agar menjauh dari Putri Viola.


"Emma, aku butuh penjelasan mu." teriak Kaisar Emerald.


"Katakan Emma, jika semua ini tidak benar." timpal Permaisuri Emerald menangis tersedu-sedu.


Emma hanya mampu menangis, ia tidak tau harus memulainya dari mana.


"Katakan Emma," teriak Kaisar Alex menatap tajam ke arah Emma.


Emma bersujud di lantai, "Ampun Yang Mulia, ini semua salah hamba." ucapnya menunduk, seakan akan di lah yang teraniaya.


"Katakan Emma jangn bertele-tele." teriak Kaisar Emerald.


"Awalnya," Emma menghentikan suaranya, ia melirik Putri Viola yang masih memalingkan wajahnya.


"Awalnya Pangeran mengobati kaki hamba, tapi setelah itu, Pangeran menatap hamba dengan tatapan nafsu dan setelah itu .." Emma menghentikan perkataanya, semua orang pun tau apa yang akan di katakan oleh Emma.


Kaisar Emerald mengusap kasar wajahnya, "Semua yang kau lakukan gila Pangeran."


Permaisuri Emerald tidak kuasa menahan emosinya, badannya lemas dan pingsan. Untung saja Pangeran Cyrk langsung tersadar, ia langsung menangkap tubuh Ibundanya itu.


"Panggilkan Dokter istana, dan bawa Permaisuri ke kamarnya." perintah Kaisar Emerald dengan tegas.


"Putri," Kaisar Emerald menatap Putri Viola. Ia ingin mendengarkan lansung jawaban Putri Viola, entah melanjutkan pertunangannya atau malah sebaliknya.


"Aku akan pulang besok pagi, aku tidak ingin membahasnya lagi." ucap Putri Viola berlalu pergi.


Pangeran Abigail ingin menghampiri Putri Viola. Namun Duke Rachid memegang lengannya dengan erat. "Jaga batas mu Pangeran, seharusnya kamu merenungkan apa kesalahan mu." bentak Duke Rachid.