Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 65_meminta tumbal


Sementara di Kekaisaran Matahari.


Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel berdiri di tepi jurang. Di sampingnya terdapat pohon yang rindang. Jika di lihat dari sana. Kekaisaran Matahari sangat jelas. Lampu yang menyala di sepanjang jalan serta rumah rakyat yang terang karna cahaya lampu dan ada yang sudah gelap pertanda telah tidur.


Kedua laki-laki itu menghembuskan nafas, ia sudah mencari Anastasya ke kota. Namun hasilnya nihil tidak ada petunjuk apapun. Keduanya meneteskan air mata secara bersamaan "Permaiauri," lirih mereka.


"Yqng Mulia, sebaiknya Yang Mulia dan Pangeran mencarinya besok. Hamba yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan Permaisuri." ucap Hector yang berada di belakang Kaisar Alex.


"Benar, Yang Mulia." timpal Duke Rachid dengan wajah lesu. Saat ia mendengarkan kabar jika Permaisuri menghilang. Hatinya sangat khawatir ia langsung mengarahkan para bawahannya untuk mencari Permaisuri, tapi hasilnya sama saja.


"Kalian tidak tau Permaisuriku sudah makan apa belum, bagaimana dengan keadaanya?" teriak Kaisar Alex dengan frustasi.


"Diamlah, teriakan mu tidak akan membuatnya kembali." ucap Pangeran Gabriel dan berlalu pergi.


*Dulu dia yang mencampakannya dan sekarang dia juga yang paling menyesal, laki-laki yang aneh gerutu Pangeran Gabriel.


Permaisuri aku harus mencari mu kemana sambungnya lagi seraya menengadahkan kepalanya ke langit*.


Sementara Anastasya hanya mondar mandir di dalam kamarnya. Setelah Kaisar Emerald melepaskan mantranya, ia pergi tanpa kata sepatah apapun. Anastasya menggerutu tak jelas sedari tadi. Ia ingin kabur tapi penjagaannya terlalu ketat.


Anastasya duduk di sofa berwarna merah dengan wajah lesu. Ia membaringkan badannya di sofa itu dan menyilangkan kedua tangannya sebagai bantalan di kepalanya.


Karna rasa kantuknya berat, tak terasa Anastasya memejamkan matanya.


Sedangkan Kaisar Emerald menuju ke sebuah ruangan rahasia. Ia membuka pintu itu dengan kekuatannya dan pintu itu pun terbuka dengan sendirinya. Kaisar Emerald masuk ia memberikan hormat kepada seorang laki-laki yang duduk di singgasanahnya.


"Hormat hamba Yang Mulia," ucap Kaisar Emerald.


"Apa kau sudah menemukan apa yang aku perintahkan?" tanya laki-laki itu dengan nada dingin.


"Hamba sudah menemukannya Yang Mulia, hanya saja hamba masih ingin memiliki keturunan dengannya." jawab Kaisar Emerald. Hatinya sangat senang jika suatu saat nanti memiliki anak yang memiliki kekuatan tak terkalahkan. Jika laki-laki memiliki simbol/tato dan wanita juga memilikinya, mereka akan mendapatkan keturunan yang memiliki kekuatan sihir.


Maka dari itu setiap orang yang menikahi dengan orang yang memiliki simbol, maka di anggap keberuntungannya.


"Carilah yang lain, sepertinya dia memiliki kekuatan yang tersembunyi."


"Tapi Yang Mulia," Kaisar Emerald tidak ingin mencari lagi, jujur saja ia sudah lelah mencari wanita sebagai sumber kekuatan junjungannya itu. Setiap bulan purnama pasti junjungannya akan meminta tumbal manusia yang memiliki sebuah simbol.


"Jika kamu tidak bisa menuruti perintah ku, Aku akan melenyapkan Kekaisaran mu." ucapnya dengan lantang.


"Tapi Yang Mulia," Kaisar Emerald masih ingin bernegoisasi. Ada rasa tidak senang di hatinya.


"Jangan membantah," bentak junjungannya itu.


"Ba, baiklah Yang Mulia." ucap Kaisar Emerald dengan pasrah. Kaisar Emerald menunduk hormat dan berlalu pergi dengan wajah lesu. Entah apa yang ia rasakan, hatinya tidak rela menyerahkan Anastasya.


Ke esokan paginya.


"Aku mau mandi," ucap Anastasya.


"Baik Yang Mulia, air hangatnya telah siap." jawab pelayan itu.


"Siapa nama mu?"


"Yuna, Yang Mulia." ucap Yuna sehormat mungkin. Karna ia sudah tau identitas Anastasya.


Anastasya mengangguk seraya berdiri dan melangkah kan kakinya menuju ke arah kamar mandi.


Setelah selesai berias Anastasya menuju ke ruang makan dengan di bantu Yuna sebagai petunjuk jalan.


Sesampainya di sana, Anastasya melihat Kaisar Emerald mengunyah hidangannya itu.


"Bagaimana tidur Permaisuri?" tanya Kaisar Emerald sekedar basa basi.


"Banyak nyamuknya," jawab Anastasya asal.


"Hem," Kaisar Emerald tidak menjawab, ia hanya fokus pada piringnya itu.


"Dasar muka datar," gerutu Anastasya seraya menekan daging sapi dengan garpunya.


"Kapan Yang Mulia akan melepaskan ku?"


"Setelah melahirkan anak untuk ku," jawab Kaisar Emerald seraya mengelap mulutnya dengan sapu tangan dan beranjak pergi.


"Memangnya aku sapi apa, yang harus melahirkan anak orang gak jelas." ucap Anastasya beranjak pergi. Hari ini perutnya terasa kenyang setelah perdebatan tadi. Ia memilih keluar di ikuti pelayan Yuna.


Anastasya melihat sekeliling istana, tidak ada yang spesial di istana Emerald. Arah matanya tertuju ketika melihat seorang gadis yang sedang bercanda dengan dua pelayan.


"Yuna siapa dia?" tanya Anastasya yang masih tidak lepas dari gadis itu.


"Dia Lady Flavia, Yang Mulia. Anak dari Duke Caralos."


"Apa dia tunangan dari Kaisar Emerald?"


"Benar Yang Mulia,"


Anastasya mengernyit, pikirannya melayang ke arah tumbal, "Tumbal?" gumam Anastasya.


Jangan bilang aku mau di jadikan tumbal, jika benar awas saja. Aku harus bisa kabur dari sini batin Anastasya seraya menahan amarahnya.


"Mohon maaf untuk kesalahan namanya tadi, author dah revisi lagi. Tadi author inget Enzo ma Enzi jadinya salah ketik dan sekarang novel ini bau2 tamat😊