Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Keputusan Deros


"Deros," sapa Pangeran Almeer. Ia melihat bocah laki-laki yang berjalan dari arah pintu dengan wajah cemberut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Michelia seraya berjalan ke arahnya.


Deros menggeleng, "Tidak apa Ibu, aku hanya lelah saja." Jawab Deros berbohong. Dia tidak ingin membuat Michelina khawatir seperti biasanya.


"Nak, kemarilah." Panggil Viscount Elca. Ia memupuk sofa di sampingnya.


Deros berjalan dengan wajah menunduk. Ia duduk di samping sang ayah, kemudian di susul oleh Michelia yang duduk di sampingnya.


"Ada apa dengan mu?" tanya Viscount Elca.


"Tidak apa-apa ayah, aku hanya lelah." Ujar Deros dengan lesu.


"Bagaimana kabar mu? mau tidak, ikut paman ke istana. Bertemu dengan Kakek dan Nenek buyut," ujar Pangeran Almeer.


"Tidak Paman, sebenarnya aku merindukan nenek, tapi aku harus menyelesaikan pendidikan ku dulu." Jelas Deros. Ia merasa sangat senang, Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex tidak pernah membedakannya. Setiap awal musim semi, mereka akan mengirimkan baju hangat untuknya. Rasa sayang mereka, seperti harta bagi dirinya.


Viscount Elca mengelus kepalanya, "Baiklah, ayah akan percaya pada mu, tapi lain kali jangan sampai lelah ya sayang." Ujar Viscount Elca. Ia beralih melihat ke arah Pangeran Almeer dan Anabella yang tersenyum. Kemudian melanjutkan pembicaraannya.


Deros menatap sang ayah yang tertawa, ia memutar lehernya melihat ke arah Michelia yang tertawa. Keluarga hangatnya, tawa mereka sangat berarti untuknya. Ia ingin mereka tertawa tanpa gangguwan, ia ingin membebaskan masalah mereka atau ini memang jalan takdirnya. Ia harus berpisah demi kebahagian mereka.


Ayah, ibu aku mengerti. Aku tak bisa apa-apa tanpa kalian. Aku tidak pernah merasa kalian membedakan diri ku. Aku sangat yakin kalian menyayangi ku. Tuhan semoga keputusan ku benar. Aku mencintai mereka melebihi hidup ku sendiri batin Deros.


Suasana di ruangan itu terasa indah, setiap kali mendengarkan ayah dan ibunya. Membuat Deros merasa bersalah. Entah keputusan ini benar atau tidak. Tapi ia selalu berharap, kedua orang tuanya di limpahkan kebahagian.


Adik aku harap kamu bisa menjaga mereka batin Deros menatap perut buncit Michelia.


Pukul 09.00 membuat mata mereka telah mengantuk, mereka pun bubar memasuki kamar masing-masing.


Deros meraih sebuah pena dan kertas, ia menulis sesuatu di atas kertas itu. Setelah Pangeran Almeer dan Anabella pulang. Ia memutuskan akan menemui Liera seorang diri. Ia menulis di dekat jendela, hanya ada lilin di sampingnya yang menyala di temani cahaya bulan yang memasuki kaca jendelanya. Suara isakan tangisnya terdengar sangat sakit. Kadang ia menghentikan tangannya, mengusap air matanya yang menghalangi penglihatannya. Dengan cara ia menyerahkan diri, ia bisa melindungi ayah dan ibunya.


Ayah, ibu aku mencintai kalian


Deros melipat kertas itu, ia mencium sangat dalam kertas di tangannya. Besok dia akan menaruhnya di meja kerja Viscount Elca saat ayahnya keluar kediaman.


Sementara di sisi lain.


Michelia tak bergeming, pikirannya entah kemana. Ia hanya memandang cahaya bulan di jendelanya. Hingga tangan kekar itu melilit di perut buncitnya. "Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Viscount Elca seraya mencium lehernya yang membuat Michelia geli.


"Sayang," Michelia mengusap rambutnya yang basah. Ia membuka lilitan di perutnya dan beralih menatap Viscount Elca. Rambut basahnya yang acak-acakan serta tetesan air di rambutnya yang membasahi pipinya. Melihat istrinya, membuat jiwa kelakiannya keluar.


"Entahlah, aku memikirkan Deros. Perasaan ku tidak enak."


Viscount Elca mencium bibir Michelia. "Jangan terlalu banyak pikiran. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membuatnya menyesal karena telah mengusik keluarga ku. Aku tidak peduli dengan rumor itu. Dan juga diri mu," Viscount Elca menarik pinggang Michelia. "Pikirkan kesehatan mu dan juga anak kita."


Viscount Elca meraba bibir lembut itu, "Sayang boleh," Viscount Elca mencium leher Michelia. Membuat sang empu terangsang.


"Tapi harus hati-hati." Ujar Michelia. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.


"Aku menyapa mu sayang." Ujar Viscount Elca tersenyum menggoda dan mengelus perut Michelia. Dia melancarkan aksinya kembali, mencium dengan rakus bibir mungil Michelia. Puas dengan bibirnya, ia mencium lehernya, lalu menjilatinya.


"Sayang." Viscount Elca menggendong tubuh Michelia ala bride style. Menaruh tubuhnya di atas kasur empuknya, ia menarik ikat pinggang baju tidur Michelia. Menidih tubuhnya, memandangi wajah Michelia dengan lekat. Dalam satu tarikan, handuk itu jatuh ke lantai. Sedangkan Michelia, ia sudah biasa melihat junior Viscount Elca yang menegang. "Aku mencintai mu."


Viscount Elca mengangkat kedua kaki Michelia, ia mendorongnya dengan hati-hati agar tidak melukai bayinya. Ia diamkan selama beberapa menit. Penyatuan itu, membuat darah keduanya berdesir, seperti aliran listrik yang menegang. ******* itu pun yang keluar dari bibir lembut Michelia, ia ingin segera melajukannya.


"Sayang."


Viscount Elca mencium kembali bibir Michelia. Rasanya sangat manis, ia tidak bisa jika setiap malam tidak bisa mencium bibir manisnya. Rasanya candu bagi bibirnya. Ia meremas salah satu gundukan itu seraya melajukan juniornya dengan pelan dan lembut, seakan ia membuat irama yang akan membuat Michelia melayang. Dan memang kenyataan, Michelia tak bisa berhenti mendesah.


"Oh, sayang."


Viscount Elca menambah kecepatannya, nafas hangat itu keluar dari mulut keduanya. Keringat panas dan dingin keluar dari tubuh mereka.


"Aaargh,"


Kedua pun saling mendesah, saling menjawab dan menyapa. Hingga ******* terakhir, membuat Viscount Elca melepaskan pelepasannya. Di iringi sebuah kata yang menghanyutkan jiwa. "Aku Mencintai Mu." Ia tersenyum, lalu ambruk di samping sang istri dengan nafas memburu dan melihat ke arah langit-langit.


"Sayang," Michelia menoleh, ia memeluk Viscount Elca dengan erat.


"Aku sangat mencintai mu, Michelia." Ujar Viscount Elca mencium kening Michelia. Hingga akhirnya keduanya pun terlelap karena kelelahan.