Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3 : membatalkan pertunangan


Duke Rachid membeku, ia tidak menyangka dengan Putri Maya seenaknya saja membatalkan pertunangannya. Lalu apa arti kebersamaannya selama ini, apa arti dirinya bagi hidupnya, mungkinkah dirinya tidak berarti lagi bagi hidupnya.


Duke Rachid tersadar, ia langsung mengejar Putri Maya sampai ke luar asrama. Duke Rachid yang sudah merasakan panik, takut dan khawatir. Ia lansung menarik lengan Putri Maya. "Maya dengarkan Paman dulu. Paman mohon Maya." ucap Duke Rachid.


"Apa lagi Paman? urusan kita sudah selesai." ucap Putri Maya seraya menepis kasar tangan Duke Rachid.


"Kenapa kamu seperti ini Maya? lalu apa artinya kebersamaan kita dulu, apa artinya diriku untuk mu Maya."


Putri Maya memalingkan wajahnya, lagi-lagi ia bersikap acuh tak acuh. "Paman ingin tau arti hidup Paman untuk Maya." Putri Maya kembali menatap Duke Rachid. "Hidup Paman sangat berarti buat Maya, tapi apa yang Maya dapat. Kekecewaan dan sakit hati Paman."


"Maya berhentilah egois, kamu pikir Paman tidak sakit melihat mu bersama orang lain." ujar Duke Rachid sambil meninggikan suaranya.


"Aku yang lebih sakit hati Paman." Putri Maya menunjuk ke dadanya. Ulu Hatinya sangat perih. "Teganya Paman datang kesini hanya untuk menyalahi ku. Bahkan Paman menyuruh Hilda meminta ijin agar Paman menjadikannya istri kedua kan."


"Hentikan Maya, aku datang kesini hanya ingin bertanya baik-baik. Tidak salah jika aku menanyakan itu karna kamu tidak bisa menahan emosi mu, kamu sudah dewasa Maya cobalah berfikir dewasa." Bentak Duke Rachid ia sudah tidak tahan dengan sikap Maya.


Perkataan Duke Rachid langsung menusuk hati Putri Maya, bahkan kali ini ia berfikir hubungan mereka di ambang pintu. Sekuat mungkin Putri Maya tidak meneteskan air matanya.


Duke Rachid tersadar saat melihat Putri Maya menunduk, ia terdiam. Mungkin perkataanya tadi sudah sangat mengecewakan wanita di depannya itu.


Putri Maya mundur, seketika Duke Rachid menghentikan langkah kakinya. "Jadi selama ini Paman hanya menganggap ku seorang anak kecil kah," Putri Maya tersenyum, ia masih bisa memberikan senyuman itu di tengah-tengah hatinya terluka. "Seandainya Paman menanyakan dulu dan tidak langsung menyalahi ku, mungkin aku tidak akan marah Paman. Maaf jika selama ini aku merepotkan Paman dan terimakasih atas semua yang Paman berikan pada ku selama ini." ucap Putri Maya berlalu pergi.


Duke Rachid langsung mengacak rambutnya. Ia meninju pohon Oak yang berada di sampingnya.


"Maya." gumam Duke Rachid.


"Paman tidak bermaksud menyakiti mu. Paman hanya ingin memberikan pengertian pada mu." Duke Rachid melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Ia menaiki kudanya kembali. Sebelum itu dia melihat ke asrama, mungkin ia harus memberikan waktu pada Putri Maya.


Duke Rachid pun melangkah kan kaki kudanya. Malam ini, malam yang begitu menyakitkan bagi dirinya. Ia tidak menyangka, kedatangan Hilda memperburuk hubungannya.


Sesampainya di kastil, Duke Rachid langsung masuk ke kamarnya. Ia duduk di tepi ranjangnya, mengusap wajahnya. Duke Rachid berdiri, ia mondar mandir memikirkan hubungan mereka. Apa yang ia harus lakukan demi mempertahankan hubungannya. Sesekali ia mengucek rambutnya frustasi.


"Paman." wanita itu masuk, ia melihat aneh ke arah Duke Rachid. "Ada apa Paman?" tanya Hilda khawatir.


"Apa yang kamu katakan pada Putri Maya?" tanya Duke Rachid membuat Hilda mematung.