Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bonchap


Gak kerasa udah hiatus selama tiga bulan. Mungkin sebagian sudah ada yang lupa dengan alurnya dan ada yang udah hapus dari Favorite karena dah tamat baca. Ada juga yang gak suka ama alur novelnya. Yah, inilah dunia halu. Ya halu. Dan rencananya sekarang akan ada season 4 kisah anak dari Putri Maya dan akan di gabungkan dengan Anak dari Marquess, kisah novel sebelah yang berjudul Paman, Duke


Ke esokan harinya.


Matahari telah menampakkan dirinya, menghiasi langit berwarna biru. Burung kecil pun mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Seorang gadis masih terlelap di dada bidang sang suami. Gadis itu mengeratkan pelukannya. Mencari kehangatan di balik dada bidang itu.


Cup


Satu kecupan mendarat di keningnya. Mata indah itu sejak tadi telah terbuka, melihat lekat wajah di depannya, yang baru saja ia ikat dengan sebuah janji dalam pernikahan. Sesekali ia mengelus pipi mungil itu. Menyentuhnya semakin dalam.


"Aku sangat mencintai mu." Tak pernah ada bosannya ia mengungkapkan perasaannya. Rasanya sebuah mimpi memiliki gadis kecilnya. Dulu dia pernah menaruh perasaan pada Ibunya, tetapi tak sebesar rasa ini. Gadis kecil yang selalu mengekorinya, mengajaknya bermain tak terasa telah menjadi istrinya. Jika pun dia di sebut sebagai monster mencintai gadis kecilnya. Ia tidak akan mempermasalahkan hal itu. Karena baginya, perasaan tidak akan memandang apa pun.


"Sayang, bangun sudah pagi." Laki-laki itu mencoel pipi empuk wanita di depannya.


"Emmmm, aku masih ngantuk." Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, ia mengusap kepalanya di dada sang suami. Hingga kekehan kecil itu keluar dari mulutnya.


"Geli sayang. Jangan membangunkan singa yang sedang tidur." Tegur Duke Rachid. Dia tak ingin menerkam istrinya. Ia tau, gadis kecilnya pasti sedang kelelahan.


Gadis itu membuka matanya, dengan usilnya dia mengecup dada bidangnya.


"Sayang kamu." Gadis itu tersenyum seraya menatap lekat wajah suaminya. Bibir lembutnya itu pun kini menempel bahkan mengabsen setiap jejak bibir kenyal itu.


"Aku mencintai mu,"


"Aku lebih mencintai mu."


Tangan Duke Rachid membuka kedua kaki putih itu. Pendekarnya siap menerobos memasuki guanya sebagai penghangat sang pendekar.


Emmm


Dada Putri Maya naik turun, ia merasakan sesuatu yang panjang dan besar memenuhi rahimnya. Ia tersenyum, lalu mengambil alih ciuman sang suami.


"Aku mencintai mu,"


"Tidak kah, suami ku bosan mengatakan hal itu."


"Tidak akan pernah, setiap paginya. Istri kecil ku akan mendengarkan perasaan ku yang tak pernah berkurang atau pun hilang."


Kedua insan itu pun saling membalas ciumannya. Ciuman itu turun ke lehernya, hingga berhenti tepat di kedua benda kenyal itu. Duke Rachid menyesapi benda kecil itu, tak ingin memberikan celah sedikit pun. Bibir Putri Maya semakin bergetar, ia tak kuat menahan godaan itu. "Sayang bisakah kamu menggerakkannya,"


Tidak sia-sia Duke Rachid memancing gairah wanita kecilnya. Itulah yang ia harapkan. Gadis kecilnya semakin ingin dan ingin. "Dengan senang hati sayang." Duke Rachid menggerakkan pendekarnya dengan lajuan lambat hingga bibir mungil itu menggerutu.


"Aku tidak mau seperti itu lebih cepat." Putri Maya menggigit daun telinga Duke Rachid. Dia tak mengira putri kecilnya sangat sensitif.


Duke Rachid pun menuruti kemauan Putri Maya, karena memang dasarnya dia sudah tidak tahan lagi.


"Akhh !!!"


Putri Maya memejamkan matanya, ia merasakan kehangatan demi kehangatan di dalam rahimnya. Gerakan itu semakin menguasai dirinya. Memintanya lebih dan lebih. Hingga Duke Rachid terus menghentakkan pendekarnya tanpa berhenti sedikit pun. Dia terus menghentakkan pendekarnya hingga hiasan di dada itu naik turun mengikuti alur dari hentakkanya. Sesekali desahan itu keluar dari mulutnya di iringi dengan berjatuhnya keringat di dahinya.