
Permaisuri Anastasya memutar bola matanya, ia tersenyum sinis.
"Hamba mohon, Yang Mulia pertimbangkan. Lagi pula Putri Maya belum menyelesaikan Akademiknya."
"Mohon Permaisuri mempertimbangkannya."
Kaisar Alex merasa iba, dulu ia pernah berada di posisinya. Mendengarkan penjelasan Permaisurinya saja. Tidak mampu membuatnya berkutik, ia membayangkan bagaimana rasa sakit hatinya Permaisuri dulu.
Duke maafkan diriku, kali ini aku benar-benar tidak bisa membantu mu batin Kaisar Alex.
Kaisar Alex melihat ke arah Permaisuri Anastasya yang hanya di balas tatapan tajam. Ia pun hanya menunduk.
"Duke, persiapkan dirimu ke wilayah timur. Aku mendapatkan laporan jika wilayah timur ada pemberontakan. Selesaikanlah permasalahan disana." ucap Kaisar Alex datar.
"Tapi Yang Mulia."
"Jangan hubungkan urusan pribadi mu dengan urusan istana." ucap Kaisar Alex. Mungkin inilah jalan satu-satunya. Ia tidak ingin Duke Rachid merasakan sakit hati.
"Baik, hamba akan membantu Yang Mulia menyelesaikan wilayah timur, tapi tolong jangan batalkan pertunangan hamba."
"Apa Duke bisa membantah perintah Yang Mulia?"
"Penggal kepala hamba, jika Yang Mulia menginginkannya, itu lebih baik Yang Mulia. Daripada hamba harus merasakan sakitnya."
Dulu hamba mencintai anda Yang Mulia, tapi kenapa sekarang Yang Mulia tidak mendukung hamba batin Duke Rachid.
"Istana masih membutuhkan bantuan mu, pergilah. Setelah ini perjuangkan cinta mu." ujar Kaisar Alex.
"Baik Yang Mulia, tapi sebelum itu hamba mohon jangan membatalkan pertunangan hamba."
"Baiklah," balas Permaisuri Anastasya singkat.
Duke Rachid membungkuk hormat, meninggalkan Permaisuri Anastasya dan Kaisar Alex. Besok ia akan berangkat ke wilayah timur dan hari ini ia akan menemui Putri Maya untuk terakhir kalinya.
Duke Rachid menaiki kudanya, ia berbelok arah menuju ke tempat hatinya. Sesampainya disana Duke Rachid melihat langit yang telah malam. Angin kencang membuatnya merinding, ia menatap langit, bulan pun tidak terlihat ternyata cuacanya telah mendung.
Kedua penjaga itu pun membungkuk hormat.
"Hamba akan menyampaikan pada Putri Maya." ucap kedua penjaga itu.
Duke Rachid mengangguk, ternyata mereka sudah tau tanpa menunggu perintahnya.
"Ada apa?" tanya seorang gadis mengeluarkan suara datarnya.
Duke Rachid tersenyum ia menghampiri gadis itu, "Paman ingin berbicara berdua dengan mu. Maaf jika Paman mengganggu waktu mu."
Putri Maya menunduk, ia terus berjalan ke arah taman di ikuti Duke Rachid.
"Ada apa Paman datang kesini? apa Paman akan memberikan undangan pernikahan Paman, tapi maaf aku tidak bisa datang. Aku belum menyelesaikan Akademik." ejek Putri Maya.
Duke Rachid menatap Putri Maya dengan mata berkaca-kaca. "Maaf, Paman sudah tau kebenarannya. Ternyata benar apa yang dikatakan Putri." ucap Duke Rachid menunduk.
"Paman akan pergi, mungkin butuh waktu lama buat Paman. Jadi Paman mohon setelah ini tolong pikirkan baik-baik hubungan kita. Paman tidak ingin hubungan kita berakhir Putri."
"Memangnya Paman mau kemana?" tanya Putri Maya seraya mengkerutkan dahinya.
"Paman di perintahkan untuk mengatasi pemberontakan di wilayah timur."
"Oh," jawab Putri Maya singkat.
"Lalu .."
Duke Rachid tersenyum, "Maafkan Paman. Paman berharap setelah pulang, Putri Maya memaafkan Pamannya, tunangannya."
Perkataan Duke Rachid membuat menusuk hati Putri Maya, jujur saja ia masih kecewa tapi setelah mendengarkan Duke Rachid membasmi pemberontak, ia sedikit khawatir padanya.
Deg
"Biarkan seperti ini, biarkan Paman memeluk mu. Sebentar saja, sebentar saja. Setelah ini Paman tidak tau, bisa memeluk Maya ku atau tidak." lirih Duke Rachid memeluk erat Putri Maya.