
Di sisi lain.
Seorang wanita tengah mengunyah biskuit, ia membolak-balikkan biskuit itu. Rasa lezatnya, menambah seleranya. Pria bertubuh kekar itu menghadap ke arahnya dan membungkuk. Sedangkan Deros melihat sekelilingnya. Kediaman itu jelas mewah, tapi tidak terlalu mewah. Intieor yang sederhana yang terkesan tidak seperti intieor bangsawan lainnya. Sofa berwarna putih dan ada dua lukisan, yang tak lain lukisan Liera dan lukisan Viscount Elca.
Dia menatap jijik lukisan Liera, sungguh lukisan berharga milik ayahnya tidak pantas berada di kediaman Liera. Ingin sekali dia mencopot lukisan itu dan merobek lukisan Liera. Tidak ada lukisan dirinya dan hanya ada lukisan Liera.
"Apa kamu sudah selesai melihat kediaman ku?" tanya Liera. Ia bangkit dari tempat duduknya dan memutar badannya. Sedari tadi dia mengamati wajah Deros di depan cermin berbentuk lonjong di depannya dengan ukuran kecil. Ia bersiap-siap menemui Viscount Elca dan memilih perhiasan yang terbaik. "Kalian boleh pergi," perintah Liera pada kedua pengawalnya.
"Cih, aku begitu jijik melihat mu. Jika aku boleh memilih, aku tidak akan pernah meminta di lahirkan dari tubuh kotor mu." Teriak Deros. Kebenciannya bahkan mengalahkan lautan luas. Ingin sekali ia mencabik-cabik tubuhnya, membuangnya ke kandang harimau.
"Heh, apa kamu pikir aku mau melahirkan mu. Tubuh mu juga menjijikkan."
"Tidak, tubuh ku tidak menjijikan justru tubuh ku lah yang suci. Sementara tubuh mu sudah kotor. Ibu berkata pada ku, aku di lahirkan suci, perbuatan mu lah yang kotor." Teriak Deros, ia ingat perkataan ibunya sewaktu menemaninya tidur. Dengan kelembutan ia menjelaskan semuanya. Karena hatinya nyilu saat mendengarkan para bangsawan dan teman-temannya memanggilnya anak haram. Ternyata mereka sudah tau, desas desus kehidupan Liera. Bagi bangsawan wanita, mereka tidak akan berhenti bergosip sampai menemukan akarnya.
"Apa kamu pikir semua orang tidak tau perbuatan mu? aku lah korban dari perbuatan mu." Teriak Deros. Ia berlari, lalu melompat ke atas nakas dan mengambil lukisan ayahnya. Lalu beralih ke lukisan Liera, ia menyobek lukisan hingga terbelah menjadi dua.
"Kamu, dasar anak haram." Teriak Liera. Ia langsung menarik Deros sampai jatuh ke lantai. Tak hanya itu, ia menampar Deros dengan kasar dan tersungkur ke lantai. Hingga pipinya lebam, mulutnya keluar darah segar.
Liera meraih kerah baju Deros, ia menjajarkan tingginya. Dengan penuh kebencian dan rahang mengeras, ia mendorong tubuh Deros sampai terdengar benturan kepalanya ke sudut meja.
"Ah," Deros mencoba bangkit, ia menahan rasa sakit di tangan kanannya.
"Dengar, jangan coba-coba mancing amarah ku. Aku tidak peduli, kamu anak ku apa bukan yang jelas aki bisa membunuh mu." Ujar Liera dengan penuh penekanan.
Ia meremas tangan kanan Deros, hingga Deros menjerit kesakitan dan mengeluarkan air mata. "Sepertinya tangan mu patah, akan lebih baik jika aku mematahkan kedua tangan mu." Ujar Liera tersenyum licik.
"Aku mohon, jangan ganggu ibu ku dan ayah ku. Biarkan dia bahagia, kamu menginginkan ku bukan. Aku mau menjadi budak mu." Ujar Deros dengan air mata di pipinya.
"Apa kamu pikir aku bodoh? aku tidak membutuhkan diri mu. Lagi pula aku tidak sudi menjadi ibu mu."
"Kamu berbohong, kamu sudah berjanji pada ku."
"Cih, menjijikkan." Liera melangkah pergi dengan wajah emosi. Ia memerintahkan kepada kedua pengawalnya agar membawa Deros ke tempat pertemuannya nanti.
Deros pun di bawa paksa oleh kedua pengawal Liera. Sesampainya di gedung kotor itu, bisa di katana gedung itu sudar rapuh. Gedung itu dulunya di jadikan penyimpanan beras untuk rakyat biasa. Namun karena sudah membangun gedung baru yang terbuat dari tembok kokoh. Para rakyat pun tidak memperdulikan gedung terbuat dari kayu itu, entah mau roboh atau pun tidak.
"Kotor sekali," Liera melihat seekor tikus yang berjalan di depannya.
"Kalian, ikat dia." Perintah Liera.
Deros pun di ikat dengan kedua tangan ke belakang. Lalu di ikat kembali ke sebuah kursi.
"Hentikan, kamu memang wanita gila. Aku percaya ayah tidak akan memilih mu." Teriak Deros. Ia meronta, meminta di lepaskan.
Liera melangkah ke arahnya, ia menarik pedang di tubuh pengawalnya. Lalu menggoresi pipi Deros. "Aku tidak peduli, dia memilih mu atau memilih Michelia." Sahut Liera. Ia membuang pedang itu ke sampingnya.
Liera duduk di depan Deros yang lumayan jauh, ia mengambil buah anggur dan memakannya. Ia sudah merencanakan sangat matang. Malam ini Viscount Elca akan menjadi miliknya seutuhnya.
Dan waktu pun telah berlalu, ia selalu mengembangkan senyumannya, menatap ke arah pintu.