Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
END


Beberapa menit kemudian.


Seorang bangsawan yang sedang melintas merasa aneh dengan gudang itu. Mereka pun turun dan mendapati seseorang yang mereka kenal.


"Viscount Elca," teriaknya.


Kedua orang itu menoleh.


"Kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Marquess Elzo. Matanya berlaih pada Deros yang diam melihat ke arah wanita. "Astagah,"


"Dia jahat ayah," ujar Deros seraya menunjuk ke arah Liera. Deros yang masih dalam keadaan shok ia pun langsung tak sadarkan diri.


"Deros," teriak Michelia.


Deros di gendong oleh Viscount Elca keluar dari gudang itu. Ia takut, Deros akan mengalami guncangan pada kejiwaannya. Apa lagi dia sudah mendapatkan kekerasan dari Liera. Membuat Viscount Elca dan Michelia tak henti-hentinya khawatir dan takut.


"Sayang, kamu harus kuat. Demi ibu,"


Sedangkan Marquess, ia mengikuti kereta kuda kediaman Viscount. Dengan kecepatan tinggi, kereta itu di kediaman Viscount Elca. Sedangkan Mery langsung memanggil Dokter.


"Viscount sebenarnya ada apa dengan Deros?" tanya Marquess Elzo. Kedua bangsawan itu memang lumayan akrap dan kerap kali menghabiskan waktu berbincang santai setiap ada pertemuan di istana.


"Liera, menculik Deros dan menyiksa. Aku sangat takut, kejiwaan Deros terguncang."


"Apa?" Marquess Elzo menaganga, benarkah Liera melakukan hal seperti itu. Padahal Deros adalah putranya, tapi rasanya benar. Saat melihat Deros menatap kosong ke arah wanita yang telah meninggal.


"Tuan," sapa sang Dokter yang kembali menutup pintu.


Michelia yang sedari tadi menangis di sofa putih itu. Ia langsung menghampiri dokter itu.


"Salah satu tangannya patah dan kepalanya juga menguarkan banyak darah. Terlambat sedikit saja. Nyawanya pasti tidak tertolong." Jelas sang Dokter.


"Deros."


Michelia masuk, ia menuju ranjang Deros. Menggenggam tangannya dan mencium keningnya. "Sayang." Betapa sakitnya dia, melihat tangan Deros di perban dan di ikat ke lehernya. Begitu pun kepalanya yang di ikat dengan kain berwarna putih. Bibirnya masih terlihat jelas bekas lukanya. "Sayang, maaf ibu terlambat."


Deros membuka matanya, pertama kali matanya melihat adalah orang yang ia cintai. Dia tersenyum, "Ibu."


"Aku mencintai mu sayang." Michelia kembali mencium kening dan pipinya. "Jangan membuat ibu khawatir. Ibu bisa gila kehilangan kamu." Ujar Michelina di iringi air matanya.


Deros tersentuh, ibu yang tak ada ikatan darah dengannya. Sangat menyayanginya, sedangkan ibu yang ada ikatan darah dengannya. Malah menyiksanya dan menginginkannya kematiannya. Ia bersyukur, masih ada orang yang mencintai dan menyayanginya. "Maaf, Deros tidak melindungi Ibu dan Ayah dengan baik." Ujar Deros. Ini semua salahnya yang membuat ibunya menangis.


"Tidak sayang, Deros sudah melindungi ibu dan ayah. Lain kali, Deros harus menuruti perintah ibu. Apa Deros mau ibu mati?"


Seketika telunjuk kecil itu menyentuh bibir sang ibu. "Tidak, Bu. Deros menyayangi ibu, jangan tinggalkan Deros." Anak itu beringsut duduk. Lalu memeluk leher Michelia.


Viscount Elca yang berada di ambang pintu. Ia terharu melihat kedekatan mereka. Ia merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung. Di cintai seorang istri yang memiliki hati lembut dan seorang anak yang sangat baik hati. Ia pun melangkah, masuk ke dalam dan ikut memeluk keduanya. Rasa ketakutan dan sakit di hati mereka kini telah sirna dan di gantikan dengan sebuah kebahagian.


Sedangkan Marquess Elzo, ia mengusap air matanya. Terharu dengan keharmonisan mereka.