
Arnoz tidak berani menatap wanita yang membalikkan badannya. Ia masih saja menunduk ketakutan.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya wanita itu dengan menyipitkan matanya.
Arnoz mendonggakkan kepalanya, memberanikan diri melihat wajah wanita di depannya itu.
"Aku, aku hanya ingin bertemu dengannya." cicit Arnoz seraya memainkan jarinya yang mungil.
Wanita itu pun berjongkok, melihat wajah Arnoz, ia kasian melihat anak kecil di depannya yang telah di telantarkan oleh junjungannya. Mengingatnya saja membuat hatinya sakit. Padahal anak kecil di depannya ini begitu menggemaskan. Ia bingung sebenarnya terbuat dari apa hati junjungannya, "Apa kamu melihat sesuatu?" tanyanya dengan lembut.
Drinya berharap Arnoz mendengarkan semua percakapannya tadi supaya ia bisa mencegah junjungannya mencelakai Permaisuri Anastasya. Ingin sekali ia berkata jujur. Namun ancaman dari Elisha membuatnya tidak bisa berkutik.
Arnoz menggeleng, ia tidak mungkin mengatakan sejujurnya.
"Tidak,"
"Oh, baiklah. Lain kali jangan kesini lagi, bahaya jika ada yang melihat mu keluar sendirian."
"Apa dia akan baik-baik saja disana?" tanya Arnoz dengan mata berkaca-kaca.
Deg
Hati pelayan Ana pecah, seorang Anak yang mengharapkan kasih sayang Ibunya. Bahkan Ibunya tidak mau mengakuinya. Justru hati anak itu masih bisa mengkhawatirkan keadaan Ibunya.
"Ibumu akan baik-baik saja," jawab pelayan Ana seraya mengelus pucuk kepalanya.
"Ayo aku antarkan kamu ke depan gerbang, ingat jangan pernah datang kesini lagi. Ibu mu akan baik-baik saja." ucap Ana dengan meyakinkan Arnoz.
Setelah melihat kepergian orang itu, Mery keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas pergi menuju ke kamar junjungannya.
Sesampainya di kamar Kaisar Alex. Mery melihat sang junjungannya yang sedang santai membaca buku.
"Permaisuri," ucap Mery membuat Anastasya menghentikan aktivitasnya.
"Bagaimana?" tanya Anastasya.
"Hamba menemukan sesuatu Yang Mulia."
Anastasya mengangguk, ia beranjak berdiri. Lalu membuka pintu kamar Kaisar Alex. Ia melihat kanan kiri jika tidak ada orang yang akan mengunjunginya malam ini. Anastasya menarik lengan Mery ke balkom, "Apa yang kamu temukan dengan penyelidikan mu?"
"Permaisuri tadi hamba melihat seseorang dengan pelayan Ana ke istana gelap dan hamba juga melihat Arnoz masuk ke dalam istana gelap. Hamba tidak tau mereka membicarakan apa. Setelah pelayan Ana keluar, selang beberapa saat hamba melihat Arnoz keluar. Tapi di hentikan oleh pelayan Ana. Hamba mengira mereka bertemu, tapi mendengarkan pertanyaan pelayan Ana. Hamba rasa mereka tidak bertemu dan hamba juga mendengar jika Arnoz menanyakan Selir Elisha, dan jawaban dari pelayan Ana. "Ibumu akan baik-baik saja." Hamba juga melihat seseorang yang mencurigakan sedang mengamati istana gelap. Tapi hamba rasa orang itu bukan berasal dari istana. Apa mungkin dia musuh dari Kekaisaran ini?"
Perkataan pelayan Mery membuat Anastasya berfikir, "Mery apa kamu sepemikiran dengan ku?" tanya Anastasya menatap pelayannya yang berfikir keras.
"Hamba merasa jika Arnoz anak dari Selir Elisha dan Kendrix.." Pelayan Mery menjeda menatap ke arah Anastasya.
"Adalah Suaminya sekaligus Ayah dari Anak Elisha." ucap Anastasya. Kini penyelidikannya tidak sia-sia. Mereka sudah menemukan titik kebenaran. Namun yang jadi permasalahannya siapa orang yang diam-diam mengawasi istana gelap.
"Kita harus melindungi Arnoz dan Tuan Kendrix bisa saja Elisha mencelakainya. Dilihat dari tatapan Elisha, sepertinya Elisha menaruh kebencian padanya."
Tidak heran jika di dalam novel Kendrix dan Arnoz meninggal batin Anastasya.