Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_pembalasan Putri Maya


brak


"Kakak .." teriak seorang gadis yang langsung membuka pintu kamar Putri Viola dengan kasar. Gadis itu yang tak lain Putri Maya. Begitu tidak sabarnya dia ingin menemui Putri Viola, merindukan sekaligus untuk curhat.


Semenjak Putri Viola pergi, ia menggerutu sepanjang hari sepanjang malam karna tidak di ajak dan setelah kepergiannya ia sering bertengkar dengan Duke Rachid hanya karna masalah Nona Ingrid.


Ditarik nafasnya, ia memegang dadanya yang seakan copot. Lalu menatap tajam ke arah pintu.


"Kaka aku merindukan mu. Kakak tega sekali tidak mengajak ku." ucapnya sambil mengkerucutkan bibirnya.


"Pagi-pagi Adik kecil ku ini, sudah membuat orang jantungan." seru Putri Viola menarik hidung Putri Maya.


"Kakak tega pergi begitu saja tanpa mengajak ku. Aku disini kesepian." lirihnya.


"Kenapa? kan ada Duke Rachid."


Putri Maya menunduk dengan wajah lesu. "Aku bertengkar dengannya kak," Ia kembali merasakan sakit di hatinya.


"Apa permasalah mu belum selesai dengan Duke?" tanya Putri Viola yang merasakan kesedihan di wajah Adiknya.


"Dia lebih membela Putri Ingrid daripada Aku kak,"


"Coba ceritakan sebenarnya ada apa?"


"Aku tidak ingin menceritakannya dulu, sebaliknya Kakak cepat bangun. Ibunda sudah memanggil tukang jahit yang akan untuk gaun Kakak dan Pangeran Abigail.


"Hemz baiklah." ucap Putri Viola beranjak berdiri menuju ke kamar mandi.


Tiga Puluh Menit kemudian..


Putri Viola telah selesai mandi dan berias. Gaun berwarna pink yang melekat di kulit putihnya, rambutnya di biarkan bergerai. Polesan riasan yang natural tidak mengurangi kecantikannya.


Mereka keluar seraya bergandengan tangan. Menuju ke ruang tamu, sesampainya di sana Putri Viola melihat Pangeran Abigail yang sudah di ukur oleh kedua wanita.


"Setelah kalian selesai mengukur baju Pangeran Abigail, ukurlah tubuh Putri Viola." seru Anastasya yang melihat kedatangan Putri Viola.


Setelah selesai mengukur tubuh Pangeran Abigail. Kedua wanita itu mengukur tubuh Putri Viola.


"Putri Viola tumbuh menjadi gadis yang cantik sama seperti Ibunya." ucap seorang wanita paruh baya, Nyonya Herlin pemilik toko desain terkenal di Kekaisaran Matahari.


"Hemz, anda suka berlebihan Nyonya."


"Tidak sama sekali Permaisuri, hamba merasa beruntung bisa melayani Permaisuri dan Putri Viola serta Pangeran."


"Nyonya sudah selesai." timpal seorang pelayan memperlihatkan sebuah kertas.


"Baiklah Permaisuri, karna sudah selesai. Hamba undur diri untuk mempersiapkan pakaiannya." ucap Nyonya Herlin membungkuk hormat di ikuti kedua pelayannya.


"Maya duduklah, Ibunda mendengar katanya kamu ada masalah dengan Duke," ujar Anastasya menatap Putri Maya yang sedari tadi hanya berdiri melihat Putri Viola yang di ukur tubuhnya.


"Ibunda tidak akan mengekang hubungan mu dengan Duke,"


Putri Maya menunduk, ia sudah yakin Ibundanya sudah pasti tau. Karna mata-mata dari Anastasya tidak akan pernah lengah memantau semua aktivitasnya dengan Duke.


"Ibunda tau pada saat itu, kamu mendorong Nona Ingrid kan," Anastasya kembali bersuara, ia tau sifat kecemburuan dari Putri Maya tidak bisa menahan emosinya.


"Kamu akan kalah jika kamu blak-blakan, hal seperti itu tidak di benarkan. Walaupun Nona Ingrid salah dan kamu mendorongnya di hadapan semua orang terlebih lagi Duke. Tentu saja dia akan membela Nona Ingrid. Seharusnya kamu lebih cerdas dari dia Maya, jika Nona Ingrid melakukan rencana yang licik. Kamu harus lebih licik agar Duke Rachid tau kebenaranya, membuka matanya. Ibunda yakin di hati Duke Rachid pasti kecewa dengan sikap mu yang seperti ini."


Putri Maya menggigit bibir bawahnya ia menangis dan menatap Anastasya, menghambur ke arahnya. Memeluknya dengan erat.


"Ibunda tau apa yang kamu rasakan, karna Ibunda pernah mengalaminya. Untuk itu cobalah berfikir jernih, apa akibatnya sebelum kamu bertindak. Jika kamu mencintainya perjuangkan dia."


Putri Maya melepaskan pelukannya, "Baiklah Ibunda aku akan buat Duke Rachid menyesal, tapi setidaknya jika dia meminta maaf aku harus sok jual mahal dulu. Salah siapa dia membela ulet tempel itu. Huh, di kira aku tidak bisa apa memanasi hatinya." ucap Putri Maya dengan tekad yang kuat. "Lihat saja pembalasan Putri Maya untuk Duke Rachid dan Ulet tempel itu."


"Oh, baiklah. Inilah Putri Bar-bar ku." ucap Anastasya terkekeh.


"Benar Adik, sebaiknya kamu harus berjuang, sama halnya dengan ku dulu. Aku memperjuangkan rasa cinta ku untuk Pangeran. Jadi Kakak harap kamu tidak mudah menyerah." timpal Putri Viola, walaupun ia belum merasakan bentakan dari Pangeran. Tapi dia cukup bersyukur Pangeran tidak pernah marah pada dirinya.


"Iya Kakak, untuk sekarang aku harus fokus pada Akademik dulu." ucap Putri Maya.


"Baiklah, Ibunda aku akan keluar bersama Pangeran untuk menemaninya jalan-jalan." ucap Putri Viola membungkuk hormat di ikuti Pangeran Abigail.


Saat ia keluar dari ruang tamu, ia berpapasan dengan Duke Rachid. Seketika amarah Putri Viola keluar dari sarangnya.


"Untuk apa Duke datang kesini?" tanya Putri Viola.


"Hamba ingin bertemu dengan Permaisuri dan Putri Maya." jawab Duke Rachid.


Putri Viola tersenyum licik, ia ingin melihat wajah Duke Rachid apakah senang atau sedih saat mendengarkan perkataannya, "Hem, Duke tenang saja. Adikku tidak akan lagi mengganggu Duke dengan Nona Ingrid." ucap Putri Viola dengan nada menekan dan beranjak pergi.


"Tunggu Putri, apa maksud Putri?"


"Duke aku tau, Putri Maya masih belum bisa berfikir secara dewasa, kecemburuan tidak bisa membuatnya berfikir jernih. Dari dulu Duke lah yang selalu memanjakannya. Di saat Ibunda dan Ayahanda melarangnya, justru Duke lah yang menuruti semua kemauannya. Lantas saat Duke memarahinya karna wanita lain apa hatinya tidak akan sakit. Mungkin saat ini dia kecewa, marah dan sakit hati, tapi kan Duke tau sendiri daun muda lebih bercahaya mungkin saja nanti Putri Maya akan mencari jodoh yang lain." ucap Putri Viola tersenyum sinis.


Seketika Duke Rachid mengepalkan tangannya, ketakutan dan kekhawatiran mulai bercampur aduk di hatinya. Ia harus segera meminta maaf pada Permaisuri Anastasya dan Putri Maya. Ia tidak ingin Putri Maya meninggalkannya. Ia harus menjaga jarak dengan Nona Ingrid. Dan sebetulnya dia lah yang juga bersalah.