
Tak terasa 7 tahun telah berlalu. Semenjak kedatangan Kaisar Emerald dan Lady Flavia, Anastasya sering mengirim surat menanyakan kabar Pangeran Devan. Dan kini dirinya telah di karuniai seorang anak perempuan lagi, Putri Maya yang kini berumur 5 tahun dan Putri Viola yang berumur 7 tahun.
Tak terasa semakin hari, semakin hari Anastasya merasakan kebahagiaan, melihat kedua Putrinya tumbuh begitu cepat.
"Sayang, apa Permaisuri Emerald membalas surat Mu?" tanya Kaisar Alex yang tiba-tiba memeluk Anastasya dari belakang, ia juga melihat sebuah surat.
"Tidak hanya itu Yang Mulia, kita juga di undang ulang tahun Putri kedua mereka."
"Apa kedua Putri kita sudah tau?" tanya Kaisar Alex.
"Iya Yang Mulia."
Kaisar Alex berjongkok, ia mencium bibir Anastasya dan
Brak
"Ibunda..." teriak anak kecil memakai gaun berwarna putih dan rambut hitamnya di biarkan terurai.
Anak kecil itu lansung membuka pintu kokoh putih itu secara kasar, membuat dua orang yang berciuman itu lansung menjauh satu sama lainnya.
Anak kecil itu pun hanya melongo melihat kedua orang tuanya dengan wajah memerah.
"Oh tidak, Aku orang polos." ucap anak kecil yang masih berdiri mematung di depan pintu itu.
Ah, kedua bocah ini selalu mengganggu waktu ku, tidak bisa ! aku tidak boleh kalah dengan dua bocah ini.
Kaisar Alex pun memejamkan matanya, menahan emosinya. Ia mengingat kejadian tiap malamnya selalu di ganggu oleh kedua Putrinya. Ada yang ingin dengan dirinya, dengan Anastasya segala rengakan dia sudah menerimanya. Bahkan dirinya harus sering frustasi karna acaranya terus tertunda.
"Putri Viola," seru Mery yang merasa bersalah pada junjungannya. Ia sudah lalai menjaga Putri Viola hingga mengganggu aktivitas kedua junjungannya.
"Acak kenalpa ada dicini?" tanya seorang anak kecil yang tiba-tiba berada di belakang Mery. Anak kecil dengan pipi gembul itu tengah di gendong oleh Duke Rachid.
Sementara Duke Rachid hanya terkekeh geli, ia sudah mengerti melihat wajah masam Kaisar Alex.
"Ah, Putri Maya," ucap Mery yang terkejut. Ia langsung meminggirkan tubuhnya.
"Adik kenapa kau disini juga?" tanya Putri Viola yang mengkerutkan dahinya.
"Acu hanya ingin alan-alan,"
"Hemp, kenapa kalian ada disini? apa kalian tidak bermain?" timpal Anastasya seraya berjongkok di depan Putri Viola.
"Aku hanya ingin Ibunda memilihkan gaun untuk Ku." ucap Putri Viola seraya menunjukkan dua gaun di tangan Mery.
Anastasya mengambil dua gaun itu, ia membandingkan kedua gaun warna ungu dan warna pink. Kedua gaun itu polos dan hanya memiliki ikat pinggang.
"Warna pink ini cocok dengan Putri Viola," ucap Anastasya lembut.
"Ibunda, acaimana ika ita ke aman? sucah ama aya tidak ain denyan Ibunda." ucap Putri Maya.
"Tidak bisa ! kemarin saja kau sudah bermain, hingga Ibunda mu lupa waktu untuk menemani Ku," timpal Kaisar Alex. Sedari tadi dia hanya diam mendengarkan pembicaraan ke dua Putrinya dengan Anastasya. Ia tidak terima jika dirinya frustasi lagi.
"Ayah can udah ua enapa Ayah macih au main dengan Ibunda?" tanya Putri Maya dengan wajah cemberut.
"Hais, Adik sepertinya kita tidak boleh mengganggu waktu Ibunda dan Ayahanda. Mereka pasti membuat Adik untuk kita." timpal Putri Viola, dirinya saja sudah merasa bersalah mengganggu acara kedua orang tuanya.
"Emangnya Ayah isa buat Adik?" tanya Putri Maya seraya memikirkan sesuatu.
"Heh, jika bukan karna Ayah kalian.."
"Sudah-sudah sebaiknya kita menuruti permintaan Putri Maya, Yang Mulia."
Potong Anastasya, kepalanya sudah pusing mendengarkan Kaisar Alex yang berdebat dengan kedua Putrinya. Tapi dalam hatinya merasa bahagia walaupun ada perdebatan di antara mereka.
"Hanya 30 menit," Kaisar Alex melirik kedua Putrinya yang baru saja duduk.
"Yang Mulia.."
Anastasya hanya menggeleng pelan melihat orang yang ia sayangi tidak berhenti berdebat dimana pun berada. Tapi meski begitu banyak para bangsawan yang terharu dengan kedekatan Kaisar Alex dan kedua Putrinya.
Di sela-sela kesibukan Kaisar Alex masih bisa menemani keluarga.
Selang beberapa saat datanglah Mery dan Ana yang membawa camilan biskuit, kue coklat dan susu serta jus buah.
"Uce uduklah disini," Putri Maya menunjuk ke salah satu kursinya di samping kanannya.
"Biarkan saja dia berdiri," ucap Kaisar Alex dengan nada malas.
"Tidak oleh begitu Ayah, Uce akan menjadi suami Aya kelak."
Anastasya yang meminum jus apel itu, seketika tersedak mendengarkan penuturan putri bungsunya.
Sementara Duke Rachid hanya bersemu merah, jantungnya berdetak kuat.
"Apa Putri Maya mau dengannya? dia yang wajah pas-pasan itu." Kaisar Alex menunjuk Duke Rachid.
Benar kenapa aku tidak ingat jodoh Duke Rachid ya batin Anastasya, ia melirik ke arah Duke Rachid.
"Ajah Ayah uca pas-pasan, Ayah uga tak terlalu ampan. Ampanan Uce Rachid. Baik agi."
Satu kali hantaman pisau menancap di dada Kaisar Alex.
Putri Maya menatap wajah Duke Rachid, "Lihatlah Uce Rachid ampan saat tersenyum," ucap Putri Maya membuat menambah warna rona merah di wajah Duke Rachid.
Bertambah pula petir di atas kepala Kaisar Alex, ia tidak menyangka Putri polosnya kini berbicara tentang masa depannya.
"Cih, sihir apa yang kau lakukan pada Putri Ku, hah." ucap Kaisar Alex.
Sedangkan Anastasya, Ana, Mery, Sean, Hector dan Isak menahan tawa di perutnya.
"Jika Putri Maya mau, Kakak juga mendukung." ucap Enzo dan Enzi seraya berjalan mendekati mereka.
"Kalian.."
Tambah pula kekesalan Kaisar Alex. Ia hanya bisa melihat tatapan tak berdosa di wajah Duke Rachid.
"Putri Maya dia sudah tua," ucap Kaisar Alex tak kalah sengit.
"Ayah uga tua,"
pfuf
Anastasya memegang perutnya yang sudah tidak kuat menahan tawa.
"Huft, sepertinya Putri ku tidak akan jadi baik jika berdekatan dengan mu." Kaisar Alex bangkit dari duduknya, "Pangeran Enzo dan Pangeran Enzi kalian ikut Ayah, selesaikan tugas istana."
Sudah terlihat jelas di kedua Anak itu yang sudah beranjak dewasa. Sudah pasti itu hukuman untuknya.
Seketika Anastasya tertawa setelah punggung Kaisar Alex yang sudah menjauh.
"Pangeran Enzo, Pangeran Enzi," teriak Kaisar Alex dari kejauhan.
Pangeran Enzo dan Pangeran Enzi pun bangkit, ia berjalan dengan langkah gontai.
"Sabar sayang," teriak Anastasya menyemangati kedua Putranya.