
Setelah selesai pertemuan diantara keduanya, Pangeran Abigail dan Putri Viola tampak uring-uringan di tempat tidur masing-masing. Mereka masih mengingat jelas, nafas yang saling menyambut dan sentuhan yang saling menghangatkan.
Kedua orang itu pun yang masih merasakan kenyamanan di hati masing-masing ikut hanyut seiring dengan memejamkan mata.
Ke esokan harinya..
Terlihat seorang gadis tergesa-gesa, karna asik dengan pikiran tadi malan yang membuatnya bangun kesiangan. Gadis itu pun di bantu oleh Mery untuk bersiap-siap. Memakai gaun warna pink, rambutnya di biarkan bergerai. Dan make up tipis namun tidak menghilangkan kecantikannya.
Setelah selesai gadis itu keluar dari kamarnya. Dan mendapati seorang laki-laki memakai baju berwarna merah serta jubah kebesaran Kekaisaran Emerald yang berwarna putih, melambangkan kesucian. Wajah tampannya yang mampu meluluhkan setiap kaum hawa termasuk dirinya.
"Ehem, Pangeran kenapa ada di sini?" tanya Putri Viola yang menghilangkan ke canggungannya.
"Aku berniat menjemput Putri, Ayo Putri." ucapnya dengan lembut.
Pangeran Abigail dan Putri Viola turun dari tangga dengan bergandengan tangan. Langkahnya yang saling menebar senyuman membuat kedua pasangan itu tampak serasi.
Sesampainya di aula istana kedua pasangan itu di tatap semua orang, bagaimana mungkin? Putri bak peri bermata biru itu, sudi berjalan beriringan dengan Pangeran yang selalu di hindari oleh para anak bangsawan. Bahkan ada beberapa bangsawan yang terang-terangan melarang anaknya, karna takut kutukan itu tertular.
Sementara Putri Viola merasakan kegelisahan dari Pangeran Abigail, ia mengeratkan genggamannya. "Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja." ucapnya seraya tersenyum.
"Kamu lihat, siapa gadis itu yang bergandengan tangan dengan Pangeran Abigail? apa dia tidak takut tertular,"
"Hemz, iya gadis kecil itu cantik sekali. Tapi sayang, kenapa dia mau bersama Pangeran Abigail?"
Bisik-bisik pun bergantian dimana-mana, Pangeran Abigail menunduk, ia malu dan lebih malu mendengarkan ocehan pada Putri Viola.
Selang beberapa saat, suara tegas dan dingin mengumumkan kedatangan Kaisar Emerald, Permaisuri Emerald, Kaisar Matahari, Permaisuri Matahari dan Putri Maya. Semua orang pun menunduk hormat.
Rombongan itu pun menaiki tangga dan duduk di tempatnya masing-masing.
"Ekhem, Saya Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald mengucapkan terimakasih karna kedatangan kalian di pesta ulang tahun Pangeran Crily dan Kita kedatangan tamu dari Negeri sebrang, Kaisar Matahari dan Permaisuri Matahari serta kedua Putrinya, Putri Viola dan Putri Maya."
Semua bangsawan tertegun saat melihat Putri Viola dan Putri Maya memberikan penghormatan, yang menjadi tatapannya adalah Putri Viola yang tadi bergandengan dengan Pangeran Abigail.
"Be, benarkah,"
Pangeran Abigail melihat ke arah Putri Viola yang berada di sampingnya
"Benar Pangeran kita sudah resmi menjadi tunangan." ucapnya lembut.
Tanpa sadar air mata Pangeran Abigail keluar, ia menangis bahagia. Kini dia memiliki tunangan yang membuat nyaman dan kehangatan di hatinya. Kedua orang itu saling tersenyum bahagia tak terlepas kedua orang tuanya. Setelah menyaksikan kejadian tadi malam, Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald langsung mendatangi Anastasya dan Kaisar Alex. Mereka merundingkan perjodohan keduanya yang sempat tertunda dan keputusan akhirnya mereka sepakat mengikat ke dua Putra dan Putri mereka dengan pertunangan.
Lain halnya dengan Emma, telinganya memanas, ia menatap tajam ke arah Putri Viola, "Seharusnya Aku yang ada di sana." ucapnya seraya mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan tinggal diam Putri, lihat saja nanti. Cinta atau tidaknya, Pangeran harus menjadi milikku." ucapnya berlalu pergi, karna dirinya merasakan panas dan sesak di dadanya.
Acara potong kue pun telah selesai dan kini acara dansa. Suara piano dan Biola yang mengiri langkah dansa para bangsawan, termasuk Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald serta Kaisar Alex dan Anastasya. Mereka berdansa di tengah-tengahnya bangsawan.
"Apa Putri ingin berdansa?" tanya Pangeran Abigail melihat ke arah Putri Viola. Sedari tadi mereka hanya mendengarkan piano, melihat dansa kedua orang tua mereka.
"Ayo, asalkan bersama Pangeran." jawab Putri Viola tersenyum seraya menggenggam lembut tangan Pangeran Abigail.
Pangeran Abigail mengangguk, walaupun dia buta tapi dia sudah hafal gerakannya saat berlatih dengan Emma.
Mereka turun dari tangga dan terjadilah kedua anak yang baru saja di jodohkan itu menjadi pusat perhatian. Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald berhenti, sama halnya dengan Kaisar Alex dan Anastasya yang menghentikan dansanya.
Semua para bangsawan pun juga ikut berhenti. Mereka begitu takjub melihat kelenturan tubuh kedua anak itu berdansa. Sesekali tubuh mungil dan putih itu berputar-putar dan pinggangnya yang lentur itu di peluk oleh tangan Pangeran Abigail. Tak terasa dansa mereka telah selesai dan belum menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian orang.
Semua orang pun bertepuk tangan, takjub dan takjub melihat dansa pasangan serasi itu. Tapi masih ada saja diantara bangsawan yang merasa kasihan pada Putri Viola.
"Putri, bolehkah hamba bertanya," ucap salah satu seorang Duchess. "Apa alasan Putri menerima perjodohan ini?"
Kaisar Emerald yang mendengarkan pertanyaan itu, rahangnya mengeras. Ia menatap tajam ke arah Duchess itu.
"Jawaban Ku sederhana, Aku merasa nyaman dengan Pangeran Abigail, Aku tidak memandang apa pun darinya, di mata Ku. Dialah orang yang menjadi suami ku kelak. Aku tulus menyayanginya, Aku menyetujuinya pertunangan ini bukan semata karna pernikahan politik, benar pernikahan politik hanya menguatkan sebuah kekuasaan. Lalu apalah arti sebuah kekuasan yang luas tapi hati kita tak merasakan nyaman. Jujur saja, jika kelak Aku menjadi Putri Mahkota. Aku ingin rakyat Ku menikah bukan karna terpaksa tapi karna cinta, sehingga kelak cinta mereka yang akan menguatkan satu sama lainnya."
Perkataan Putri Viola yang masih di umur tujuh tahun itu, menjadi sambaran petir bagi semua orang. Benar semua yang mereka alami bukan karna cinta tapi karna pernikahan politik. Banyak semua orang yang merasakan tertekan. Tanpa sadar Kaisar Emerald meneteskan air matanya, ia begitu terharu akan jawaban Putri Viola.