
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang wanita dengan amarah yang meledak. Sedari tadi ia hanya menahan kekesalannya dan kini ia ingin meluapkannya. Tangannya gemetar menahan amarah, giginya menggertak ingin sekali ia memakannya hidup-hidup. Bahkan telinganya panas, ingin sekali meledak.
prank
Lantai keramik yang bersih berkilau dan wangi kini terdapat pecahan vas bunga. Bahkan cermin yang berdiri tegak, separuh cermin itu berada di lantai hanya tersisa separuh cermin yang berdiri tegak di tempatnya.
"Anastasya, anastasya aku membencimu. Sialan !" teriaknya dengan nada amarah.
prank
Kini vas bunga yang ke tujuh menjadi korbannya, "Yang Mulia," seru pelayan di sampingnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan junjungannya itu. Pelayan itu pun hendak pergi bermaksud menemui Kaisar Alex untuk menenangkan junjungannya.
"Ana, berhenti di tempat mu. Aku tidak butuh dia. Percuma saja mengatakannya dia tidak peduli dengan ku." ucapnya dengan dingin membuat pelayan Ana, pelayan setianya membatu seketika.
"Tapi Yang Mulia. Hamba rasa Yang Mulia butuh Kaisar Alex." ucap pelayan Ana dengan gugup seraya memejamkan matanya.
Elisha melirik dengan tajam, "Aku tidak butuh dengan rasa ibanya. Aku tidak butuh rasa kasihannya, yang aku butuh kan," Elisha menjeda kalimatnya, ia mengambil vas bunga berwarna navy dengan motif bunga mawar putih yang masih tersisa satu, dekat meja riasnya.
prank
"Aku hanya butuh cintanya, aku hanya butuh kasih sayangnya yang hanya aku seorang di hatinya. Aku tidak ingin dia mencintainya aku membencinya." teriak Elisha dengan nafas memburu, "Aku akan membuat dia merasakan seperti dulu, terbuang sia-sia." ucapnya menatap ke arah separuh bayangannya di cermin itu.
"Carikan aku orang yang ahli dalam racun. Bukankah di Kekaisaran ini banyak pendatang dari Kekaisaran Emerald." ucap Elisha datar membuat pelayan Ana tercengang. Pikiran pelayan Ana mengarahkan ke salah satu titik.
"Apa bagusnya dia Ana, jika aku tidak bisa menyingkirkannya. Jangan sebut nama ku Elisha." ucapnya dengan tersenyum licik.
"Tidak, Yang Mulia." pelayan Ana menggelengkan kepala nya. "Bagaimana jika Yang Mulia Kaisar tau, lagi pula Yang Mulia Kaisar pasti berbuat adil."
plak
Tamparan keras melayang ke arah pipi pelayan Ana. Hingga pelayan Ana jatuh tersungkur ke lantai. Elisha masih menatap pelayan Ana yang meringis kesakitan dan mengeluarkan darah di bibirnya, ia menghampiri pelayan Ana lalu berjongkok dan mencengkram kuat dagunya.
"Beraninya kamu pelayan rendahan menasehati ku. Aku tidak butuh nasehat dari mu. Yang aku butuhkan, cepat lakukan perintah ku, jika tidak. Aku tidak segan membunuh mu." ucap Elisha menghempuskan dagu pelayan Ana seraya beranjak berdiri.
Pelayan Ana hanya menangis, ia tidak mungkin tega membuat nyawa Permaisuri Anastasya bahaya. Ia tidak bisa melakukanya. Lebih lagi ia kagum terhadap kelembutan Permaisuri Anastasya yang masih bisa bersikap lembut terhadap Duke dan para pelayan di saat semuanya mengabaikannya bahkan menghinanya. Itulah alasannya kenapa dia mengagumi dalam diam sosok Ibu Negara itu.
"Aku butuh secepatnya, jangan membuat ku menunggu lama. Lebih cepat lebih baik dan ingat aku hanya butuh racun yang mematikan secara perlahan-lahan." ucapnya datar.
"Bereskan semua kekacauan ini, setelah aku kembali semuanya harus bersih dalam keadaan semula." perintahnya dengan tegas dan berlalu pergi.
*Anastasya aku akan menyiksa mu.
#Maaf ya kak, masih ada dua konflik lagi dan muncul tiga tokoh lagi.. Kaisar Emerald, anak dan mantan suami Elisha nah entar anaknya saya munculin lok dah bau2 end. insyaallah novelnya gak nyampek seratus paling cumak sekitaran 50 bab atau lebih😌