
Kini satu Hari telah berlalu ...
Di sebuah ruangan megah, keramik putih bening di atasnya terdapat karpet merah dan sebuah tirai berwarna putih dengan sulaman lambang Kekaisaran Matahari yaitu Singa emas di lingkari pedang.
Dengan suasana yang menegang. Terlihat seorang laki-laki berwajah datar duduk di singgasanah dengan menopangkan kepalanya di tangan kanannya.
Dan beberapa pejabat yang saling melirik satu sama lainnya.
"Aku sudah memikirkannya matang-matang. Semua Pejabat sudah tau jika esok hari adalah pernikahan yang aku tunggu-tunggu." ucapnya seraya melirik semua para Pejabat.
"Yang Mulia dengan kesepakan yang kita buat. Maka hamba mohon selaku Duke yang di pilih Kaisar. Hamba ingin Ratu Anastasya menjadi Permaisuri." ucap seorang laki-laki paruh baya ber jas hitam. Menunduk hormat, ia adalah Duke Razen, Duke yang mengurus semua rumah sakit di Kekaisaran Matahari.
"Benar, Yang Mulia. Jika ingin mengadakan pernikahan yang megah. Hamba memohon setidaknya menghargai perintah almarhum Kaisar."
Salah satu Duke maju dan memeberikan hormat.
Kaisar Alex hanya menggelengkan kepalanya, "Huh, aku sudah membuatnya menjadi Ratu, kenapa harus meminta lebih?"
"Yang Mulia setidaknya hargai permintaan terakhir Almarhum Kaisar. Jujur saja semua ini peraturan ini bertentangan dengan peraturan Almarhum kaisar. Jika seorang wanita yang telah menikah dengan Kaisar bahkan di pilih langsung dan memiliki kekuasaan tertinggi. Maka wanita itu berhak menjadi Permaisuri bukan seorang Ratu." Timpal Duke lainnya.
"Perturan Ratu tidak ada di Kekaisaran ini,"
Perkataan semua Duke menyulut emosi Kaisar Alex, ia mengepalkan tanganya dan beranjak berdiri. Lalu ia melangkah kan kakinya turun dari tangga.
"Beraninya kalian membantahku, apa kalian tau? aku bisa saja membunuh kalian dalam sekejap." ucap Kaisar Alex dengan suara lantang.
Para Pejabat ada yang bergidik ngeri ada yang tidak suka dengan sikap Kaisar Alex yang semena-mena. Menurutnya Kaisar Alex adalah Kaisar yang tidak berbakti terhadap orang tua.
Kaisar Alex melirik salah satu Duke berambut putih itu yang hanya diam saja mendengarkan drama tadi. Bahkan urat-urat tangannya mulai terlihat. Dalam hatinya ia ingin membawa Putri yang dicintainya meninggalkan istana.
Kaisar Alex ingin tau apa yang dipikirkan laki-laki paruh baya itu. Bukankah semua orang tua menginginkan anaknya memiliki kekuasaan?
Laki-laki yang tak lain Duke Erland itu hanya menghela nafas. Rasa sakit mulai menggelitik di dalam hatinya. Entah sampai kapan Putri kesayangannya akan bahagia?
Duke Erland maju satu langkah dan langsung duduk di lantai. Kaisar Alex tersenyum sinis, dugaannya mungkin benar. Sedangkan para Pejabat yang lainnya hanya saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Turunkan Putri hamba dari takhta Yang Mulia," seru Duke Erland membuat semua orang di ruangan itu membulatkan matanya.
Deg
Kaisar Alex menatap Duke Erland dengan tajam. Rasanya bola mata itu akan keluar dari tempatnya. Jantungnya mulai gemuruh, perkataan itu sangat ia tidak sukai.
"Beraninya kau mengatakan itu," teriak Kaisar Alex, amarahnya mulai memuncak. Seakan-akan Kaisar Alex akan melahap Duke Erland hidup-hidup.
"Mohon turunkan Putri hamba dari takhta Yang Mulia." ucapnya lagi dengan lantang, ia menekankan kata Putri bukan Ratu.
"Heh, apa kau ingin membuat keputusan sendiri, hah? disinilah aku yang berkuasa bukan dirimu Duke Erland." bentaknya.
Para Pejabat hanya merasa iba, seharusnya seorang Ayah mertua di hormati dan di hargai. Bukan diberlakukan semena-mena.
"Turunkan Putri Hamba dari takhta Yang Mulia. Hamba akan sangat berterimakasih. Jika pun itu belum cukup hamba akan melepaskan gelar Duke,"
ucapnya Duke Erland yang masih menunduk. Dia harus mengorbankan semuanya demi Putrinya. Ia tidak ingin penderitaan Putrinya bertambah.
Dia harus bisa membuat Putrinya keluar dalam istana.