Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Bab 30_sosok yang hilang


Setelah dansa itu usai, Permaisuri Anastasya mendapatkan banyak ucapan selamat dari para bangsawan dan istrinya. Setelah di kira selesai, Permaisuri Anastasya segera menajauh dari Kaisar Alex dan Selir Elisha tanpa mereka menyadarinya.


Namun salah satu atau dua istri bangsawan tidak menyukai Permaisuri Anastasya.


Menurut mereka Permaisuri mendapatkan gelar itu hanya karna ada rasa iba di hati Kaisar Alex.


"Permaisuri selamat," ucap salah satu istri bangsawan memakai gaun berwana grey, Marchioness Molia, istri dari Marquess Weli.


"Hamba senang Permaisuri mendapatkan gelar itu. Dari dulu seharusnya Permaisuri sudah mendapatkannya." timpal salah satu Baroness Verchia, istri Baron Luis.


Permaisuri Anastasya tersenyum, jika di artikan dari perkataan Baroness Verchia. Sudah sangat jelas Permaisuri Anastasya tidak di cintai.


"Apa kalian tidak menginginkan saya menjadi Permaisuri?" tanya Permaisuri Anastasya lembut dan tersenyum.


"Tidak seperti itu, maksud hamba Permaisuri sudah mendapatkan..."


"Ya saya tau maksud kalian. Emmz tentu kalian juga tau kan saya tadi berdansa dengan Yang Mulia, bahkan Yang Mulia tidak menolak saya,"


"Bagaimana mungkin Yang Mulia menolak dansa dengan Permaisuri. Sudah pasti jika Yang Mulia menolak Permaisuri. Permaisuri pasti akan malu," ucap Baroness Verchia seraya tersenyum di balik kipasnya.


"Apalagi sekarang Yang Mulia memiliki istri baru," timpal Marchioness Molia.


"Benar, Yang Mulia memiliki istri lagi. Lalu apa salahnya. Jika Yang Mulia tidak mencintai saya. Tentu saja Yang Mulia tidak akan memberikan gelar ini seharusnya Yang Mulia memberikan kepada istri keduanya. Tentu kalian tau bukan jika Yang Mulia mengabaikan saya sedari dulu," Permaisuri Anastasya melangkah kan kakinya mendekat ke arah mereka. Lalu mendekatkan wajahnya di tengah-tengah mereka yang berdiri berdekatan, "Nyonya tau jika membangunkan singa yang sedang tidur, singa itu pasti marah dan langsung melahapnya. Gelar Permaisuri," ucap Permaisuri Anastasya dengan penuh penekanan.


Glek


Seketika kedua bangsawan itu gugup dan mengeluarkan keringat di dahinya. Tentunya mereka paham yang dikatakan Permaisuri. Gelar Permaisuri di bawak gelar Kaisar. Bisa saja mereka diturunkan gelarnya.


"Maaf Permaisuri hamba masih sedikit ada urusan," ucap Marchioness Molia dan segera menarik lengan Baroness Verchia.


Setelah melihat wajah panik mereka, Permaisuri Anastasya tersenyum sinis. Andai saja mereka mengatakan, "Permaisuri masih membutuhkan persetujuan Yang Mulia," gumamnya.


Mungkin Anastasya akan diam tak berkutik. Tapi untunglah mereka langsung pergi karna sedikit ancaman Anastasya.


"Permaisuri," sapa seorang laki-laki paruh baya dari arah belakang.


Permaisuri Anastasya menoleh, "Ayah," ucapnya tersenyum lembut.


"Bagaimana keadaan Permaisuri?" tanya Duke Erland.


"Aku baik-baik saja Ayah, jangan mengkhawatirkan Putri kuat mu ini dan kenapa Ayah memanggil Permaisuri. Aku masih Putri Ayah," goda Permaisuri Anastasya terkekeh.


Sejenak Duke Erland merasa lega. Ia menatap lekat kedua bola mata Anastasya, ternyata benar di bola mata itu tidak tersimpan kesedihan.


"Kenapa Ayah diam? apa Ayah meragukan ku," tanya Permaisuri Anastasya dengan dahi berkerut.


"Benar kau Anastasya adalah Putriku. Terimakasih Nak, kau tidak sedih menghadapi semua ini. Ayah bangga kepada mu."


"Move On?" Duke Erland kebingungan dengan perkataan Permaisuri Anastasya.


"Intinya bahagia Ayah," ucap Anastasya.


"Ehem,,"


Derheman seseorang menyadarkan mereka berdua. Merekapun sama-sama menoleh.


"Hormat hamba Pangeran," ucap Duke Erland langsung memberikan hormat ke pada Pangeran Gabriel. Sedari tadi Pangeran Gabriel hanya memperhatikan perbincangan mereka dari jauh.


Pangeran Gabriel mengangguk, "Maaf aku tidak bermaksud mengganggu waktu kalian. Tapi aku penasaran apa yang kalian bicarakan." ucapnya dengan nada bersalah.


"Tentu tidak Pangeran, maaf hamba masih ada urusan lainnya. Silahkan Pangeran mengobrol dengan Permaisuri." ucapnya seraya menunduk hormat.


Setelah melihat kepergian Duke Erland. Permaisuri Anastasya melihat ke arah Pangeran Gabriel.


"Apa Ratu bosan?" tanya Pangeran Gabriel.


"Sedikit bosan," jawab Anastasya seraya mengangkat kedua bahunya.


Pangeran Gabriel mengangguk, ia tersenyum.


"Bagaimana jika kita keluar?" usulnya.


Tanpa menjawab Pangeran Gabriel Permaisuri Anastasya melangkah kan kakinya menuju ke luar istana di ikuti Pangeran Gabriel.


Selama di perjalanan, Pangeran Gabriel tidak ada henti-hentinya memandangi wajah Permaisuri Anastasya dalam hatinya ...


"Kenapa aku bisa nyaman dengan Permaisuri? padahal dulu aku hanya pernah menyapanya saat pernikahan saja dan selepasnya aku tidak pernah bertemu dengannya. Wajar saja jika aku tidak bertemu dengannya. Karna aku sendiri bosan berada di istana. Bahkan dalam berperang pun aku tidak pernah ikut campur jika tidak ada keadaan mendesak. Tapi kenapa hatiku ingin selalu ikut campur urusannya dan aku tidak suka jika tubuhku yang lain menyakitinya.."


"Apa sudah puas memandangi ku Pangeran? jangan sampai Pangeran jatuh hati pada ku," ucap Permaisuri Anastasya tersenyum lalu melirik ke arah Pangeran Gabriel.


"Bagaimana jika Iya," jawab Pangeran Gabriel keceplosan.


Anastasya menghentikan langkah kakinya, "Karna itu akan sulit Pangeran."


Permaisuri Anastasya menoleh, lalu melanjutkan langkah kakinya.


Sementara di pesta.


Sepasang mata mencari keberadaan Permaisuri Anastasya. Namun mulai tadi ia tidak melihatnya. Ia mulai khawatir bagaimana jika Permaisuri Anastasya berduaan dengan Pangeran Gabriel?


pikirannya sungguh tidak lucu, meninggalkan pesta pentingnya hanya demi laki-laki lain. Dia pun melangkah kan kakinya mencari sosok Permaisuri Anastasya.


Sedari tadi dirinya hanya sibuk menyapa para tamu bersama istri barunya tanpa menyadari sosok yang hilang itu.