
Anastasya pun menuju kamar Enzo dan Enzi, tapi tidak mendapati kedua anaknya itu.
Kemana mereka batinnya.
"Permaisuri, biar hamba saja yang mencari kedua Pangeran." usul Pelayan Ana yang kini tengah menggantikan Mery.
"Tidak perlu kita cari bersama, mungkin mereka ada di tempat latihan."
Sesampainya di tempat latihan, Anastasya menemukan Enzo dan Enzi, sekaligus kedua pelatihnya Sean dan Duke Rachid. Mereka saling adu serang, Enzo melawan Duke Rachid sedangkan Enzi melawan Sean.
"Ana, siapkan minuman untuk mereka,"
"Baik Permaisuri," ucap Ana berlalu pergi.
Anastasya tersenyum, ia tidak menyangka Enzo dan Enzi menjadi anaknya. Padahal di dalam dunia novel mereka menjadi seorang kesatria saja.
Enzo menghentikan latihannya, ketika ekor matanya melihat Anastasya yang terus memperhatikan mereka.
"Ibunda," teriak Enzo.
Duke Rachid menghentikan serangannya, begitu pun Enzi dan Sean, mereka langsung menoleh, mengikuti arah Enzo.
"Ibunda," teriak Enzo dan Enzi secara bersamaan yang berlari dan memeluk Anastasya secara bersamaan.
"Ibunda," Enzo dan Enzi bersamaan mencium pipi Anastasya.
"Hormat hamba, Permaisuri." ucap Sean dan Duke Rachid.
"Kalian pasti lelah, bagaimana jika kita duduk di bawah pohon itu." Anastasya menunjukkan pohon rindang yang tak jauh disana. "Sekalian kalian beristirahat."
"Ayo Ibunda," seru Enzi.
Enzi dan Enzo menggenggam kedua tangan Anastasya di ikuti oleh Duke Rachid dan Sean. Setelah itu Anastasya duduk di atas rumput kecil.
"Yang Mulia, biar hamba saja membawakan alas untuk Yang Mulia. Bagaimana jika gaun Yang Mulia kotor." seru Sean.
"Tidak perlu, kalian duduklah."
Duke Rachid dan Sean merasa tidak enak, baru kali ini mereka duduk santai dengan Permaisuri. Dan pada akhirnya mereka juga tidak bisa menolak dan ikut duduk berhadapan dengan Anastasya.
Selang beberapa menit, pelayan Mery dan pelayan Ana datang bersamaan. Pelayan Mery melaporkan jika tugasnya telah selesai sedangkan pelayan Ana membawa jus jeruk dan biskuit.
Merekapun makan bersama tanpa ada rasa canggung dan enggan. Anastasya sering mendengarkan Duke Rachid yang bercerita panjang lebar tentang kehidupan Kaisar Alex di medan perang, dia juga bercerita tentang kehidupan Pangeran Gabriel jika berperang.
"Yang Mulia pernah terluka di pinggangnya, ketika menyelamatkan hamba saat di serang oleh seekor beruang, tapi untunglah beruang itu terkena tebasan pedang Yang Mulia." jelas Duke Rachid.
"Hamba juga mendengar jika Kekaisaran Matahari sangatlah kuat," timpal Sean.
"Hamba juga pernah mendengar sebuah rumor , jika Yang Mulia dan Pangeran Gabriel takut hantu."
Seketika Anastasya tertawa, "Ada-ada saja."
"Bunda ayo makan," Enzo menyuapi Anastasya dengan biskuit di tangannya kemudian Enzi juga mengikuti jejak Enzo yang menyuapi Anastasya.
Sementara mereka tidak menyadari dua sepasang mata melihat ke arah mereka, "Sial kita kalah," ucap Kaisar Alex.
"Huh, jika aku memiliki anak. Aku akan memisahkan anak ku dengan Permaisuri."
Pangeran Gabriel mendekik, "Kamu tidak ada niatan menyingkirkan diri ku kan,"
Pangeran Gabriel merasa aneh dengan Kaisar Alex, anak dipisahkan dengan Ibunya, Lalu dirinya.
"Kita lihat saja nanti," jawab Kaisar Alex acuh tak acuh.
"Cih, aku juga tidak akan kalah dengan anak ku dan dirimu," Pangeran Gabriel menunjuk ke dada Kaisar Alex.
Lagi-lagi pertarungan sengit mereka datang, sesaat mereka akur sesaat mereka akan bertengkar.
Tak terasa malam telah tiba, Anastasya duduk bercermin seraya menyisir rambut panjangnya itu dan melihat wajahnya tanpa cacat sedikit pun. Bahkan jerawat pun tidak terlihat sama sekali.
"Permaisuri," Anastasya tersentak melihat ke arah pintu. Untung dia tidak memiliki penyakit jantung.
Sementara yang di tatap garang hanya cengengesan tanpa bersalah.
Bruk
"Enak saja kau datang kesini," ucap Kaisar Alex yang tiba-tiba mendorong Pangeran Gabriel ke samping.
"Apa kalian tidak malu di lihat Hector dan Isak," teriak Anastasya.
Seketika kedua laki-laki itu menoleh ke belakang, "Kenapa kalian ke sini. Cepat pergi !" teriak Kaisar Alex.
"Mengganggu saja," bentak Pangeran Gabriel.
Kedua orang itu memasang sok coolnya kembali dan memperlihatkan ketegasan mereka. Setelah Hector dan Isak pergi, kedua orang itu langsung naik ke arah ranjang Anastasya yang sudah berbaring. Kaisar Alex berada di samping kanan dan Pangeran Gabriel berada di samping kiri. Mereka saling memeluk tubuh Anastasya. Menghirup aroma wangi tubuh Anastasya.
Anastasya pun mengelus kedua kepala suaminya itu, "Permaisuri," panggil Kaisar Alex.
"Ya,"
"Terimakasih, telah menerima kami." timpal Pangeran Gabriel.
Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel mendekat ke wajah Anastasya.
"Cinta Ku," Kaisar Alex mencium Anastasya di pipi.
"Sayang Ku," Pangeran Gabriel mencium pipi kiri Anastasya.
"I Love You," ucap Kaisar Alex dan Pangeran Gabriel bersamaan seraya mencium pipi Anastasya bersamaan.
Anastasya menahan malu di wajahnya, terlihat sangat jelas wajahnya yang memerah.
Hahaha
"Istriku malu," lagi-lagi mereka menggoda Anastasya yang mulai bak kepiting rebus.
"Berhentilah menggoda, jika tidak. Kalian tidak usah usah tidur di sini," ucap Anastasya dengan tegas, ia harus melawan rasa malu itu yang mampu membuatnya serangan jantung.
"Tidak," teriak mereka bersamaan dan langsung menenggelamkan kepala mereka di ceruk leher Anasatasya