Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 3 : pertemuan dengan putri maya


Keesokan harinya..


Seorang wanita menatap riasannya di cermin bulat yang berukuran sedang itu, ia melihat kanan kiri wajahnya, apakah sudah sempurna atau tidak. Membetulkan kembali gaunnya agar terlihat sempurna.


"Nona," sapa seorang pelayan membawa sebuah nampan berisi roti dan susu. "Sarapan dulu Nona."


Wanita itu mengambil satu roti, rasanya hambar. Tapi demi menjaga kesehatannya. Ia mengunyah lahap roti yang berukuran sedang itu.


"Eve apa Paman sudah keluar?" tanya Hilda seraya menyeruput susu di gelasnya.


"Belum Nona." balasnya.


"Apa kamu sudah menyiapkan sarapan untuk Paman?" tanya Hilda.


"Hamba sudah menyiapkannya Nona dan memberikannya pada kedua pengawalnya."


Hilda berdiri, "Kita berangkat sekarang. Jika ada yang tanya. Bilang saja kita ke kota." ujar Hilda, ia kembali membenarkan gaunnya. Hilda keluar dari kamarnya di ikuti Eve, ia langsung masuk dan mendapati seorang laki-laki duduk di kursi dalam kondisi melamun, tidak ada cahaya di matanya. Rasanya ia hanya melihat kegelapan. Bibirnya terkatup layaknya mayat hidup.


"Paman," Hilda melangkah kan kakinya, tapi yang di panggil hanya diam saja. Tanpa menoleh ke arahnya.


"Paman, Hilda ijin keluar."


Hilda tersenyum samar, Pamannya tetap saja tidak merespon. Ia berbalik, namun sampai di ambang pintu. Suara tegas itu menghentikan langkahnya. "Hilda bawalah kedua pengawal Paman. Agar tidak terjadi sesuatu pada mu." ucapnya dengan suara serak.


Hilda tersenyum, memamerkan gigi putihnya itu. "Terimakasih Paman atas tawarannya, aku tidak perlu di jaga oleh mereka. Sudah ada Eve Paman," Hilda menjeda, ia tidak bisa bilang jujur agar Pamannya tidak melarangnya berpergian jauh. "Jangan lupa sarapannya Paman." Hilda melihat nampan yang berisi Roti dan susu, nampan satunya lagi ada nasi beserta sup daging. "Jaga kesehatan Paman dan jangan khawatir. Aku selalu membawa obat ku."


"Baiklah," ucap Duke Rachid lemah. Semalaman ia menghabiskan pikirannya untuk Maya, senyumannya, tingkah konyolnya, kemarahannya. Ia rindu, rindu saat itu. Duke Rachid memejamkan matanya. Ia tidak bisa begini, diam saja dan merenunginya. Ia harus bisa mempertahankan hubungannya dengan cara apa pun, sekali pun harus memaksa.


Disisi lain.


"Eve suruh berhenti keretanya, turunlah dan beli Kue di toko itu." seru Hilda.


Eve menyuruh sang Kusir menghentikan keretanya, ia turun menuju ke arah toko. Selang beberapa saat, Eve membawa dua ranjang Kue.


"Nona, sebaiknya Nona istirahat dulu." seru Eve. Melihat Hilda wajah Hilda yang mulai memucat.


"Tidak, kita harus menemui Putri Maya." tolak Hilda dengan tegas.


Eve hanya diam, ia menyuruh kusir meneruskan perjalannya. Tepat jam 12 siang, kereta kuda itu berhenti di Akademik. Hilda turun dari keretanya, ia melihat sekeliling. Ternyata sekolah Anak Bangsawan begitu megah, dirinya yang hanya yatim piatu dan hanya anak pungut yang di besarkan oleh Bibi Duke Rachid tidak bisa sekolah di sana. Dulu Bibi Duke Rachid menawarkan untuk menyekolahkannya, tapi ia menolak karna merasa tak nyaman.


"Apa kita perlu menunggunya disini?" tanya Eve melihat sekelilingnya. Para penghuni Akademik itu telah keluar, rupanya telah memasuki jam pulang.


"Apa kamu tau rupa Putri Maya?" tanya Hilda.


"Saya tau Nona, Putri Maya sangat cantik." balasnya celingak celinguk kanan kiri, karna ia pernah bertemu saat dirinya ikut Bibi Duke Rachid untuk ke kota, dan pada waktu itu ia tidak sengaja mendengarkan seorang pedagang menunjuk ke arah Putri Maya.


"Ah maaf Nona, tadi saya keceplosan. Nona juga cantik." lirihnya, ia tidak ingin menyinggung majikannya, selagi status Putri Maya adalah saingannya.


"Aku suka kejujuran mu, Eve." ucapnya tersenyum.


Eve pun hanya tersenyum canggung, ia terus melihat satu per satu orang yang keluar dari gerbang Akademik. Hingga matanya berbinar melihat seseorang yang mereka tunggu.


"Nona, itu Putri Maya." seru pelayan Eve melihat seorang gadis mengembangkan senyumannya melihat seorang laki-laki.


Hilda pun mengikuti mata Eve, ia melihat seorang gadis yang sangat cantik. Kecantikannya melebihi dirinya, dalam sekali senyum ia mampu menghipnotis para laki-laki.