Istri Kontrak Kaisar Kejam

Istri Kontrak Kaisar Kejam
Season 2_Nenek Garang


Putri Viola hanya mengkerutkan dahinya, ia tak ambil pusing, lagi pula memang benar adanya ia hanya berteman.


Sesampainya di ruang makan, Putri Viola memberikan salam dan permohonan maaf atas keterlambatannya. Semua orang tersenyum, ia sudah tau dari Mery.


Putri Viola duduk di samping Pangeran Enzo dan Enzi. Sementara kursi di sampingnya kosong.


"O, iya tadi Kakak kemana saja?" tanya Putri Viola, karna dari tadi ia tidak melihat kedua Kakaknya semenjak datang ke istana.


"Aku hanya numpang latihan disini, ya, bermain dengan para kesatria di Kekaisaran ini." jawab Pangeran Enzi.


Putri Viola melirik ke arah Pangeran Enzo, "Kakak tidak memotong tangan mereka kan," Putri Viola sedikit penasaran, biasanya kedua Kakaknya akan menganggap luka kecil jika hanya patah tulang, itu belum lagi luka-luka di tubuhnya.


"Tidak juga, justru Aku hanya memberikan goresan kecil." jawab Pangeran Enzo seraya menaikkan kedua bahunya dan tersenyum.


Putri Viola terkekeh, ia sudah paham dengan tatapan kedua Kakaknya.


Kaisar Emerald berderhem, "Goresan kecil," Kaisar Alex menghentikan makannya, ia melihat ke arah Enzo dan Enzi,"Kedua Pangeran Matahari luka sayatan yang harus di jahit, walaupun tidak patah tulang, kalian bilang hanya luka kecil. Lalu luka besar yang di maksud kalian seperti apa?" tanya Kaisar Emerald.


"Setidaknya mereka tidak harus memiliki kaki," jawab Enzo tersenyum ramah.


Seketika Kaisar Emerald tersedak karna minumannya.


"Yang Mulia," seru Permaisuri Flavia yang langsung menepuk pinggang Kaisar Emerald.


"Aku tidak apa-apa Permaisuri, maaf." ucap Kaisar Emerald merasa bersalah. Ia hanya menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan aktivitasnya.


"Maaf saya terlambat,"


Deg


Seketika Kaisar Emerald dan Permaisuri Flavia menghentikan makannya, mereka sangat kenal suara itu, suara yang mereka harapkan untuk bisa makan bersama selama ini. Ada angin apa suara itu muncul tepat di hadapan mereka. Awalnya mereka tidak percaya, saat mendengarkan penjelasan salah satu pengawalnya jika Pangeran Abigail akan makan bersama, tapi sekarang mereka percaya. Mereka pun tak bisa menghentikan rasa syukur di hati mereka. Semenjak Pangeran Abigail di ejek, ia tidak pernah makan bersama, ia hanya akan meminta pelayan untuk mengantarkan ke kamarnya.


"Pangeran." gumam Kaisar Emerald tersenyum hangat.


Dengan sigap pelayan Mira menarik kursi di sebelah Putri Viola, "Pangeran silahkan duduk di sini,"


"Ba, baiklah."


Pangeran Abigail duduk, saat hidungnya mencium aroma wangi tubuh seseorang yang ia kenal. Ia duduk dengan wajah menunduk, malu sekaligus gugup karna ia merasa, dirinya duduk di samping Putri Viola.


"Emma, duduklah." seru Kaisar Emerald melihat Emma yang hanya diam saja.


"Ba, baik Yang Mulia."


Emma pun mengambil tempat duduk di dekat Pangeran Abigail, segera Emma menyiapkan makanan kesukaan Pangeran Abigail, ia mengambil sup dan daging sapi panggang.


"Wortel itu juga bagus untuk kesehatan mata Pangeran,"


"Apa Putri ingin mengatakan kalau mata Pangeran tidak bisa sembuh?" pekik Emma menatap ke arah Putri Viola.


Putri Viola menunduk, ia menguatkan pegangan pada sendok di tangannya, seakan-akan ia meremas sendok itu "Bukan begitu maksudnya," serunya.


"Emma sudah lah, Putri Viola tidak ada maksud menyinggung." lerai Pangeran Abigail, hatinya tidak suka saat Emma menyinggungnya.


Sementara Anastasya dan Kaisar Alex mengepalkan tangannya, ia tidak terima Putrinya di perlakukan seperti itu. Ingin sekali dia mencekik Emma saat itu juga, tapi mereka sadar. Mereka harus menghargai Kaisar Emerald dan Permaisuri Emerald. Mungkin hari ini, detik ini mereka diam, tapi tidak untuk lain kali. Bagi mereka siapa pun yang berani menyakiti kedua Putrinya harus membayar berkali-kali lipat.


"Cukup Emma," bentak Pangeran Abigail dengan tegas. Ia merasa bersalah dengan perilaku Emma, "Maaf."


"Ini salah Ku Pangeran, maaf sudah membuat keributan." ucap Putri Viola, ia menghentikan makannya dan berlalu pergi.


"Putri," Pangeran Abigail ikut beranjak, ia bermaksud menyusul Putri Viola. Namun di hentikan oleh Anastasya.


"Pangeran biarkan saja, biar nanti saya saja yang berbicara dengannya." Anastasya merasakan ketakutan di wajah Pangeran Abigail, ia merasa senang jika Pangeran Abigail merasakan kekhawatiran.


Sedangkan Putri Maya, ia memakan hidangannya seraya mengumpat kesal di dalam hatinya.


Dasar nenek garang, awas saja nanti batinnya